Advertisement
Sebenarnya, ejek-mengejek sesama teman bukan hal baru. Saat Anda sepantaran si buah hati, tindakan saling mengejek juga sering terjadi. Bahkan, mungkin Anda sendiri pernah mengalami, baik menjadi korban atau justru si pelaku.
Namun, kini ejek-mengejek antar teman memasuki babak baru. Sering dengan semakin berkembangnya teknologi telekomunikasi nirkabel, medan pertempuran mulai bergeser ke ranah maya.
Apakah ini berita baik?Sama sekali tidak!Pelecehan di dunia maya mendatangkan pengaruh yang bahkan lebih buruk. Bayangkan saja, sekali seseorangmengirimkan komentar buruk ke jejaring sosial , Selama Anda tidak menghapusnya, komentar tersebut akan terus terpampang memungkinkan siapapun yang terkoneksi dengan Anda untuk membacanya, bahkan menambah panas situasi dengan menambahkan komentar lain.
Apalagi, ruang lingkup dunia maya juga sangat luas. Jadi, sekali foto aib Anda terpampang di dunia maya, misalnya, bisa dibayangkan berapa banyak orang yang memiliki akses untuk melihatnya, bahkan menyebarkannya lagi pada orang lain.
Ironisnya, kini Cyber-bullying sudah hampir mencapai tahap epidemi. Bentuk Pelecehan itu sudah bisa ditemui dihampir seluruh belahan dunia. Bahkan, sebuah riset di US menyebutkan, tak kurang dari 42% remaja pernah mengalami, dengan kelompok usia yang paling sering mengalaminya adalah siswa sekolah menengah (97%). Tentunya, hal itu harus mendapat perhatian serius, sebab bila tidak ditindak lanjuti, bisa merampas kebahagian si kecil, membuatnya kehilangan kepercayaan diri, bahkan mengancam masa depannya.
Jadi aapa yang harus dilakukan? Yang paling utama tentunya adalah memahami cyber bullying itu sendiri. Yang dimaksud cyber bullying adalah tindakan pelecehan yang terjadi di dunia maya. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari mengirimkan komentar, mengejek, menyebarkan berita palsu, hingga membuat akun palsu untuk mengintimidasi seseorang. Medianya pun beragam, muklai situs internet, surat elektronik, ruang chatting, hingga ponsel.
![]() |
Cara Bijak Menyikapi Cyber Bullying adalah dampingi dan tanyakan tentang teman-temannya
dunia mayanya
|
Yang membuat masalah tambah pelik, biasanya tindak pelecehan terjadi diluar pengawasan orang dewasa, sehingga tak mengherankan bila orantua baru mengetahui anaknya diserang habis-habisan di dunia maya, setelah dia mengalami perubahan perilaku.
Celakanya, meski tindak pelecehan sudah lama berlaku, jejak hitam yang ditinggalkan dalam diri anak akan terus bertahan, dan sangat sulit dihilangkan. Itulah sebabnya , orangtua harus segera mengambil tindakan.
Bicara mengenai cyber bullying, ada dua sisi yang perlu diulik, yakni korban dan perilaku. Karena itu, untuk memeranginya, Anda juga perlu menerapkan dua strategi.
Yang pertama adalah dengan menetapkan rambu-rambu berselancar di dunia maya. Tegaskan pada anak bahwa, meskipun dunia memungkinkan seseorang menukar identitasnya dengan orang lain, ia tidak boleh melakukan hal itu, apalagi jika tujuannya untuk mengusili, mengejek atau mengintimidasi. Tegaskan bahwa apa yang mereka perbuat didunia maya juga akan mempengaruhi kehidupan di dunia nyata. Karena itu, sebelum mengggugah komentar, foto atau video atau apapun didunia maya, mereka harus berpikir dua kali.
Jika ada kesempatan, cobalah berbicara dari hati-kehati dengan anak. Tanyakan apakah ia pernah mendengar temannya mengalami pelecehan di dunia maya, bagaimana kejadiannya. Biasanya, jika anak sudah bisa menceritakan pengalaman orang lain, ia akan melanjutkan dengan pengalamannya sendiri.
Dari sini, Anda bisa meraba, apakah ia pernah mejadi korban, atau justru menjadi pelaku. Jika ternyata anak pernah melakukan cyber bulying, Anda harus mengambil tindakan tegas, misalnya dengan menyita ponselnya dan komputernya. Tegaskan bahwa perbuatannya membuat Anda kecewa, dan ia harus menanggung konsekuensinya.
Untuk anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, batsilah waktu dan akses dunia mayanya. Selain itu, ingatkan akan pentingnya privasi, jadi ia tidak boleh memberikan kode akses kepada siapa pun, apapun alasannya.
Menghadapi anak yang sudah lebih dewasa, pendekatannya tentu harus berbeda. Selain tetap memberikan rambu-rambu mengenai apa yang boleh dan tidak boleh lakukan di dunia maya, Anda juga harus selalu mengawasi kegiatannya, termasuk pesan yang ia kirim dan terima di ponsel dan surat elektroniknya.
Selain itu, ingatkan padanya bahwa semua yang ia lakukan di dunia maya bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Misalnya, jika ia menggugah foto pribadi dengan pacarnya, foto tersebut bisa direkayasa dan disebarkan kembali.
Jika ternyata, ia pernah menjadi korban, bantulah ia untuk mengatasinya. Segera blokir akses pelaku, tetapi jangan menghapus komentar, foto atau apapun yang bisa dijadikan bukti untuk menjeratnya.
Yang harus disadari, pra remaja dan dewasa muda seringkali malu meminta bantuan orangtuanya untuk menyelesaikan masalah anakmudahnya. Karena itu, Anda perlu menegaskan bahwa Anda siap membantu, dan ia tidak perlu sungkan konsultasi jika ia mendapat masalah.
