Advertisement
Anak adalah peniru ulung. Maka, apapun akan ditirunya, termasuk dari tayangan televisi. Kalau hal yang ditiru sifatnya positif mungkin tidak masalah, tapi kalau yang ditiru adalah perbuatan yang bisa merugikan dirinya, tentu celaka.
Tidak ada pembatasan umur yang jelas pada tayangan televisi saat ini. Apalagi, banyak tayangan untuk anak tapi sebenarnya kurang cocok bahkan berbahaya untuk mereka. Prinsipnys jika mengajak anak menonton acara TV, pilihlah tayangan yang cocok untuk anak seusianya dan sesuaikan dengan isu di seputar dunia anak.
Bagi anak usia pra sekolah, ada tayangan kartun yang mendidik, tetapi di sisi lain ada juga film kartun yang banyak adegen kekersannya walaupun tokohnya anak-anak. Pesan moralnya memang bagus tapi kadang-kadang kita perlu lihat kompleksitas ceritanya. Jika terlalu komplek anak-anaktidak menangkap esensinya tapi yang ditangkap adalah gerakan fisik seperti perkelahian, itu yang harus diperhatikan orangtua.
Orangtua perlu mendampingi ketika anaknya menonton, apapun itu mulai dari film sampai tayangan seperti sulap. Agar anak-anak tidak meniru adegan berbahaya yang berujung pada kecelakaan.
Pendampingan orangtua sangat perlu karena imajinasi anak sangat luar biasa. Pemahaman anak pada hal konkrit belum samapi, mereka, misalnya bisa jadi berpikir memukul kepala orang dengan palu seperti yang dilihat di film kartun, adalah hal lumrah. Sama halnya dengan adegan sulap dimana orang bisa terbang atau lompat dari ketinggian tapi tidak terjadi apa-apa lalu meniru adegan itu.
Jadi mereka tidak bisa melihat bahwa perilaku itu memiliki konsekuensi nyata. Karena konsekunsinya yang digambarkan di tv tidak sama dengan kehidupan nyata.
Jadi 3 poin penting yang harus dilakukan orangtua. Yakni bantu anak memilih tayangan yang tepat, dampingi lalu diskusikan isi tayangan tesebut. Pada saat pengawasan terhadap tayangan televisi masih kurang, mau tidak mau orangtua harus lebih berperan.
![]() |
Pilih acara TV yang tepat, dampingi dandiskusikan dengan anak
|
Mengajak anak berpikir dengan cara melontarkan pertanyaan pada mereka. Hal itu kjauh lebih efektif ketimbang sekedar memberikan doktrin dengan mengatakan anak tidak boleh membentak ibunya. Sebab cuma berupa doktrin mungkin anak tidak bisa menangkap pesan itu.
Bentuk pertanyaan akan memancing anak menyampaikan pendapatnya. Dari pendapatnya itu kemudian kita diskusikan bersama. Prinsipnya, mendampingi bukan sekedar duduk di sampingnya, lalu mengatakan ini boleh dan itu tidak boleh, tetapi mengajak anak berdiskusi tentang tayangan tersebut.
Hendaknya menonton tv dijadikan momen belajar, untuk mengkritisi tayangan, agar anak tidak langsung percaya. Ajak anak memaknainya dengan cara positif. Dampingi anak terutama mereka yang masih duduk di bangku SD.
Belum lagi, kreteria tayangan yang ramah untuk anak tidak 100 % sesuai, kecuali tayangan yang du=ibuat setiap detilnya sesuai dengann apa yang penting baut anak, mengembangkan diri dan kemampuannya untuk berinteraksi dengan orang lain.
Anak pada prinsipnya berada dalam proses mengenal dunia yang baru. Maka seharusnya stasiun TV memberikan tayangan yang menggugah rasa ingin tahu mereka, seperti binatang, tumbuhan, tentang alam, atau tayangan yang menggambarkan situasi sosial anak seusianya.
Dalam menyikapi setiap tayangan TV, orangtua perlu terjun sendiri untuk melihat bagaimana jalan cerita tayangan itu. Seandainya sudah meyeleksi, terkadang ada juga cerita yang ditujukan untuk menanamkan pola interaksitertentu malah membuat anak berpikir lain.n kundangcerita malin kundang, buat kita pesan morilnya adalah anak harus berbakti pada orangtua, tapi tidak semua anak demikian, ada anak yang berempati pada malin kundangnya bukan pada ibunya sebab menurut dia, ibu si malin tega mengutuk anaknya sendiri. Hal tersebut membutuhkan diskusiu dan orangtua harus siap jadi teman diskusi
Karena anak memaknai dengan cara yang berbeda, terkadang tidak terpikir, dan tidak terkontrol, dan tugas orangtua untuk meluruskan, tapi itu hanya bisa diluruskan jika sudah siap.
Begitu besar dampak sebuah tayangan TV membuat anak cenderung fokus pada apa yang menjadi perhatian mereka. Anak belajar dari apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan secara langsung. Karena itulah, mendampingi anak merupakan sebuah ajang pembelajaran, agar anak bisa memilah dan memilih mana tayangan yang pas dan mana yang tidak. (Pelangi Permata)
