Halloween party ideas 2015

Advertisement
Remaja dan pra-remaja perlu memahami antara keinginan dan kebutuhan. Gaya hidup konsumtif akan menyebabkan ketidak mengertian anak mengenai skala prioritas, perlunya berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Selain itu anak juga mendapat pengaruh dari lingkungannya. Misalnya, orangtua yang selalu mengabulkan permintaan anak, teman disekolah yang mendorong untuk memiliki barang-barang tertentu, sehingga dia mendapat pengakuan dari kelompoknya, dan sebagainya. Jadi dorongan si anak untuk memiliki sesuatu yang sebenarnya bukan kebutuhan yang penting, lebih dipengaruhi oleh faktor diluar dirinya.

Perilaku suka belanja ini tak msalah selama tidak berlebihan dan masih dalam batas wajar. Apalgi, jika orangtua juga punya maksud dan tujuan tertentu, seperti memberi reward kepada si anak atas keberhasilannya memenuhi apa yang diharapkan orangtua. Jadi, anak tahu bahwa apa yang dimintanya tidak selalu dapat segera terlaksana, perlu ada usaha untuk mendapatkannya. Tapi kalau perilaku suka belanja ini sudah berlebihan dan cenderung konsumtif, tentu tidak boleh dibiarkan.

Pola asuh yang menumbuhkan sikap konsumtif akan berakibat pada anak, dimana anak tak bisa memprioritaskan mana kebutuhan yang lebih penting untuk dibeli. Anak sekedar belanja apa yang menjadi kesukaannya. Orangtua yang selalu menuruti permintaan anaknya yang sudah tidak wajar, membuat anak tidak belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu harus berjuang dulu.

Perilaku suka belanja ini tak hanya akan menumbuhkan perilaku konsumtif, tapi juga perilaku meminta. Karena dia sudah terbiasa memperoleh sesuatu dengan mudah, sehingga untuk seterusnya orangtua dia akan menuntut hal yang sama dari orang lain.  Celakanya, ketika si anak menginginkan sesuatu barang dari temanny, maka dia akan cenderung memaksa temannya untuk memberikan apa yang dinginkannya. Bahkan, jika tidak diberi, dia kan marah atau bersikap agresif. Karena itulah, sebaiknya membatasi perilaku suka belanja berlebihan ini sedini mungkin, sebelum melekat semakin kuat pada si anak.

Apakah Konsumtif Berbahaya?
Perilaku  konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebagai usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksis- tensinya oleh lingkungan tersebut. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya, menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang "in". Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya, masih sering memmandang bahwa atribut yang superfisial itu lebih penting daripada substansinya.
Besar Keinginan Daripada Kebutuhan
Remaja dan pra-remaja perlu memamahamiantara keinginan dan kebutuhan.
Akan menjadi masalah bila kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja iniditetapkan secara berlebihan. Pepatah lebih besar pasak dari pada tiang  berlaku disini.  Apalagi bila yang dituntut remaja diluar kemampuan orang tuanya, sebagai sumber dana. Kebiasaan orangtua untuk selalu mememnuhi permintaan anak tanpa mempertimbangkan prioritas kebutuhan , dapat menyeret keluarga ke dalam masalah keuangan.

Perilaku konsumtif, dapat terus mengakar di dalam gaya hidup remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup ini harus didukung oleh kekuatan financial yang memadai. Masalah lebih besar akan terjadi bila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologi, sosial bahkan etika.

Tips agar para orangtua memberi pengertian pada anak agar tidak bersikap konsumtif berlebihan.

  1. Beri contoh yang baik. Bila ingin mengajarkan pada anak agar tidak konsumtif, kendalikan diri anda sendiri dari perilaku konsumtif dan bersikap bijaksanan dalam berbelanja.
  2. Jangan turuti semua permintaan. Anak-anak yang selalu dituruti permintaanya tidak akan pernah belajar cara mengatasi rasa kecewa. Ia akan tumbuh menjadi anak yang malas bekerja atau hanya menunggu untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Biasakan untuk mengatakan tidak untuk sesuatu yang tidak diperlukan anak, walaupun risikonya si anak akan merengek bahkan marah pada anda.
  3. Ajarkan tentang nilai uang dan beri batasan. Berikan uang saku setiap bulan karena hal ini memberinya kesempatan untuk bertanggung jawab atas uang yang dimilikinya. Batasi pemberian uang untuk membeli sesuatu, selain memberi uang saku.
  4. Pahami kepentingan dan kebutuhan. Bila anak minta dibelikan HP keluaran terbaru, jelaskan bahwa ia sudah memiliki HP yang dapat memenuhi kebutuhannya, dan tidak perlu membeli yang baru. Biasakan untuk membeli  sesuatu berdasarkan keperluan sesuai skala prioritas.
  5. Ajarkan skala prioritas. Bila ingin memberi hadiah kepada anak, beri secarik kertas dan minta dia menuliskan paling tidak tiga benda yang dinginkan sesuai urutkan prioritasnya. Katakan, bahwa anda akan mempertimbangkan sesuai dana yang tersedia.
  6. Perlihatkan Cara menghargai benda. Menghargai benda tidak hanya dari harganya , tetapi juga dari makna, kenangan, serta kegunaannya.
  7. Konsistensi. Jangan meluluskan permintaan anak berdasarkan mood anda. Orangtua harus sepakat, jangan sampai ibu menolak, sementara ayah mengabulakan keninginan. Anak alkan melihat celah dimana yang bisa dimasuki untuk meminta sesuatu.
Powered by Blogger.