Halloween party ideas 2015

Advertisement
Kesehatan anak sudah tentu menjadi perhatian orang tua. Namaun mustahil mendapat kesehatan anak yang optimal tanpa ditunjang dengan kesehatan gigi terutama kesehatan gigi susunya.

Banyak orangtua yang merasa yang resah ketika bayinya yang sudah lewat usia setahun, belum juga tumbuh gigi. Tak sedikit orangtua yang kemudian mengaitkan lambatnya pertumbuhan gigi anak dengan berbagai hal, mulai hal yang berbau ilmiah, hingga tak masuk akal. Namun sayangnya, setelah gigi tumbuh, tak jarang pula orangtua yang mengabaikan perawatan gigi bayinya. Mereka beranggapan gigi bayi yang kerap disebut gigi susu itu, hanyalah sementara yang setelah tanggal akan berganti gigi tetap. Padahal gigi susu memegang peran penting dalam perkembangan anak sehingga harus dijaga serta dirawat kesehatannya sampai gigi susu tanggal.

Kapan Gigi Mulai Tumbuh?
Setiap bayi memeiliki proses pertumbuhan gigi  yang berbeda-beda. Ada bayi yang giginya sudah tumbuh ketika dilahirkan, sementara ada anak yang belum tumbuh samapi usia satu tahun. Namun perlu dingat bahwa hal ini sama sekali tak ada hubungannya dengan perkembangan mental atau intelegensinya.

Pada umumnya pertumbuhan gigi dimulai dengan munculnya dua gigi seri di bagian tengah sebelah bawah, disusul oleh gigi seri bagian tengah sebelah atas, dan diikuti oleh gigi yang lain, Gigi susu akan lengkap berjumlah 20 buah, biasanya sebelum anak berusia tiga tahun. Semua gigi susu ini pasti akan tanggal dan akan digantikan oleh gigi tetap.

Jangan Sepelekan Gigi Susu Balita
Mustahil mendapat kesehatan anak yang optimal tanpa ditunjang dengan kesehatan
 gigi terutama kesehatan gigi susunya.
Dilihat dari bentuknya, gigi susu memiliki bentuk yang lebih kecil, berstruktur lebih tipis, lebih rentan terhadap karies gigi, dan berwarna lebih putih. Sedangkan dari fungsinya, gigi susu memiliki fungsi yang sama dengan gigi tetap. yaitu: untuk mengunyah makanan, berbicara, dan fungsi estetika  (membentuk wajah). Selain fungsi -fungsi tersebut, ada fungsi lain yang memiliki oleh gigi susu yaitu sebagai penuntun tumbuhnya gigi tetap.

Penyakit Gigi Susu
Penyakit gigi yang sering terjadi pada anak-anak adalah gigi berlubang (karies). Karies gigi adalah gigi yang disebabkan oleh 4 faktor. Yang paling utama adalah bakteri yang terdapat dalam plak, yang akan merubah zat  gula pada makanan menjadi zat asam. Faktor lain yang bisa menimbulkan karies adalah makanan yang mengandung gula, bentuk gigi yang rentan, tipis, rapuh, dan permukaan tidak rata, sehingga mudah dilekati plak yang mudah terjadi karies. Karies juga dapat terjadi jika asam yang dihasilkan bakteri bersentuhan dengan permukaan gigi dalam waktu yang lama.

Namun Karies dapat dicegah dengan beberapa cara memelihara kesehatan gigi dengan baik, diantaranya adalah  dengan menggosok gigi secara teratur 2 kali sehari sesudah sarapan dengan sebelum tidur. Selain itu, menyantap makanan yang bergizi dan mengurangi konsumsi gula yang berlebihan, hindari makan jajanan manis diluar waktu makan, dan gantilah cemilan dengan manis dengan buah atau sayuran . Pencegahan lainnya adalah dengan menguatkan gigi dengan memberi tambahan flour. Penggunaan pasta gigi menagndung fluorida sangat penting untuk menguatkan gigi.

Akibat Kehilangan gigi Susu Dini
Kehilangan gigi susu pada anak akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan wajah, tulang rahang dan oklusi (hubungan) gigi geligi. Hal ini akan mempengaruhi keseimbangan struktur, efisiensi pengunyahan, dan keharmonisan wajah. Pada umumnya kehilangan gigi igi-pada anak terjadi karena karies yang tidak terawat, atau dapat juga karena trauma, dan pada beberapa kasus benihnya memang tidak ada.

Gigi susu yang tanggal terlalu dini dapat terjadi pada satu gigi atau lebih, gigi depan maupun belakang, dan akan menyebabkan terjadinya perubahan struktur gigi, perubahan tersebut seperti penutupan ruangan yang tidak terkontrol akibat pergeseran gigi tetangga dari yang hilang tersebut, yang akan menyebabkan perubahan posisi gigi tetap pengganti, baik di lengkung gigi depan maupun gigi belakang. Kehilangan gigi susu juga mengakibatkan gangguan fungsi bicara, yang terutama terjadi pada saat pengucapan hurup-hurup mati S, Z, V,  dan F.

Ruang kososng yang diakibatkan oleh tanggalan gigi susu  juga dapat menimbulkan kebiasaan buruk, seperti menjulurkan lidah ditempat yang kososng tersebut. Kebiasaan buruk terus berlanjut setelah tumbuhnya gigi tetap pengganti. Akan menyebabkan perubahan posisi gigi tetap akibat tekanan yang terus menerus dari lidah. Selain itu, kehilangan dini gigi susu pada gigi belakang dapat mengurangi fungsi pengunyahan.

Kehilangan didni gigi susu, terutama gigi depan dapat menimbulkan masalah pada kepercayaan diri anak. Rasa rendah diri akibat gigi depan ompong dapat menyebabkan truma psikis yang mempengaruhi hubungan sosial dengan teman-temannya.

Memelihara Kesehatan Gigi  Anak
Untuk Mencegah terjadinya hal-hal diatas. pemeliharaan kesehatan gigi anak harus menjadi perhatian orangtua. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan gigi anak adalah:

 1. Membersihkan gigi

Walaupun gigi susu hanya bersifat sementara, namun kebersihan dan kesehatannya tetap harus diperhatikan, terutama oleh para orangtua. Banyak orangtua yang mengira perawatan gigi anak baru perlu setelah gigi pertamanya tumbuh. Perwatan gigi yang dan sehat sebenarnya dimulai saat anak belum lahir. Karena itu, ibu yang sedang mengandung sebaiknya juga menjaga kesehatan mulut dan giginya.

Orangtua sudah harus membersihkan gigi anak, bahkan ketika anak masih berusia beberapa bulan sebelum gigi pertama muncul. Gunakan spons halus basah, yang berfungsi sebagai sarung tangan , untuk mengelap dan memijat gusi bayi dua kali sehari. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kebersihan mulut dan membiasakan anak dengan perwatan mulut.

Setelah gigi pertama muncul, gunakan sikat gigi halus dan air biasa untuk menyikat gigi. Saat mandi merupakan saat yang tetap untuk memperkenalkan kegiatan membersihkan gigi dan peralatannya pada anak. Anak kecil cenderung suka memasukkan segala sesuatu yang dipegangnya. Cobalah beri dia sikat gigi bersikap lembut dan berkepala kecil agar dia mulai mengenal sikat gigi dan membiasakan mulutnya merasakan sikat gigi.

Selain cara menyikat gigi yang benar, posisi orangtua dalam ,membantu anak menggosok gigi juga penting untuk diperhatikan.

  • Jika anak masih terlalu kecil, ia dapat dibaringkan di meja bayi atau sofa dengan kepala dipangkuan  orangtua. Pada dasarnya jadikan kegiatan menyikat gigi sebagai hal yang menyenangkan bagi anak.
  • Jangan gunakan pasta gigi samapai anak bisa belajar untuk meludahkan busanya (kira-kira 18 bulan), setelah itu gunakan sedikit saja  (kira-kira sebesar jagung) namun tetap awasi penggunaannya.
  • Hindari anak terlalu banyak memakan pasta gigi karena membahyakan kesehatannya.
  • Sikat gigi sebaiknya diganti setiap bulan atau segera setelah  bulu sikatnya nampak mekar dan rusak.
  • Perikasalah sikat gigi jika anak menderita sakit, karena bakteri dapat tinggal pada gigi selama berminggu-minggu.
  • Mulailah menyikat gigi dari bagian geraham bagian luar kemudian bagian dalam, dengan gerakan ke depan dan belakang. Setelah itu sikat bagian atas gigi, dan bagian dalam gigi.
  • Ulangi gerakan seperti itu secara perlahan (ajak anak menghitung sampai sepuluh dalam hati). Setelah itu bersihkan bagian depan gigi dengan gerakan memutar secara perlahan.
  • Awasi aktivitas menyikat gigi sampai anak berusia tujuh atau delapan tahun. Biasanya anak belum mengetahui cara menyikat gigi yang benar.
2. Hilangkan Kebiasaan Buruk

Kebiasaan buruk yang sering terjadi pada bayi dan anak-anak adalah sindroma susu botol. Sindroma ini adalah karies pada gigi susu anak yang biasanya meneyerang gigi-gigi depan rahang atas, yang disebabkan oleh kebiasaan minum susu botol atau larutan gula pada waktu tidur. Faktor yang paling menentukan adalah lamanya gigi terekspos oleh zat gula. Gula tersebut akan diubah oleh bakteri plak menjadi asam. Asam yang diproduksi oleh bakteri inilah yang melarutkan email gigi anak sehingga gigi akan berlubang.

Sindroma susu botol ini dapat dicegah dengan menggendong bayi selama bayi menyusui, sehingga jika ia tertidur kegiatan menyususi dapat dihentikan. Bairkan bayi tidur tanpa susu botol atau isilah botol dengan air tawar. Begitu anak sudah dapat minum dari gelas hentikan penggunaan botol susu dan bersihkan plak pada gigi bayi dengan handuk halus basah. Tanyakan kepada dokter gigi atau dokter anak, kemungkian untuk penambahan fluor demi memperkuat gigi.

3. Konsumsi Makanan

Sayuran yang mempunyai banyak serat sangat bermanfaat bagi gigi, selain bergizi juga membantu pembersihan gigi. Makanan dan minuman yang banyak mengandung mineral terutama kalsium, sangat bermanfaat bagi pertumbuhan gigi.  Begitu pula keju, dan kacang-kacangan. Sebaliknya, makanan yang manis atau yang mengandung gula dapat merugikan kesehatan gigi seperti coklat, permen, biscuit, dan makanan lainnya.
Tapai hampir mustahil untuk melarang anak-anak mengkonsumsi makanan tersebut. Meskipun demikian perlu upaya untuk mengatasinya:
  • Jangan jadikan makanan manis sebagia hadiah kepada anak.
  • gantilah cemilan manis tersebut dengan buah, sayur, dan kacang-kacangan
  • Berikan cemilan manis pada saat yang bersamaan dengan waktu makan
  • Biasakan anak untuk berkumur setiap habis makan makanan manis.
4. Periksa rutin ke doker gigi.

Selain hal-hal diatas, pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sekali ke dokter gigi sangat diperlukan. Hal ini berguna untuk memonitor pertumbuhan dan perkembangan gigi anak serta mendeteksi kemungkinan adanya kelainan gigi sejak dini. Orangtua diharapkan untuk berperan serta dalam memonitor pertumbuhan dan perkembangan gigi anak-anak di rumah. Keluhan-keluhan ataupun kelainan yang ditunjukkan anak perlu mendapat perhatian. Sehingga anak belum dapat mejelaskan rasa sakit, tetapi perhatian bila ia menolak makan makanan yang keras, mengunyah makanan hanya satu sisi, atau nafsu makannya hilang sama sekali. Mungkin saja anak mengalami sakit gigi atau kelainan pada fungsi pengunyahan.

Kunjungan pertama ke doker gigi sebaiknya mulai dilakukan pada saat anak berusia 2 tahun dan dalam keadaan sehat, sehingga anak hanya diperiksa tanpa ada tindakan yang menyakitkan. Hal ini untuk menghindari kesan buruk dari anak terhadap dokter gigi. 
Powered by Blogger.