Advertisement
Kekhawatiran akan dampak penurunan daya dukung lingkungan terhadap kehidupan manusia, belakangan ini semakin didengungkan oleh lembaga dan organisasi lingkungan. Disebutkan, aktivitas manusia dalam mengkonsumsi bahan bakar fosil sebagai energi pada beberapa dekade terakhir mengakibatkan lonjakan residu pembakaran di udara berupa gas karbon dioksida (Co2). Aktivitas pertanian dan peternakan demi konsumsi manusia, pun melepaskan gas metana (CH4) dan netrogen oksida (NO) ke udara.
Gas-gas tersebut berperan besar dalam terbentuknya efek rumah kaca di atas permukaan bumi yang menyebabkan terperangkapnya panas matahari di lapisan atmosfir. Efek rumah kaca menyebabkan kenaikan suhu rata-rata di permukaan bumi, sehingga muncul fenomena yang disebut global warning (pemanasan global)
Efek rumah kaca itu semakin dperburuk dengan kebutuhan manusia akan mesin-mesin pendingin, yang tak hanya melepaskan panas dan sisa pembakaran ke udara, namun juga gas chloro fluoro carbon (CFC). CFC banyak digunakan untuk tujuan menurunkan suhu ruangan, pada kulkas dan pendingin udara, yang dapat merusak lapisan ozzone di atmosfer.
Pada kondisi normal, atmosfer akan menahan 95% radiasi ultraviolet matahari, sehingga hanya 5% yang masuk ke bumi. Namun apabila lapisan ozon yang berfungsi sebagai pelindung rusak, sinar ultra violet bisa mudah menerobos ke permukaan bumi. Seperti yang disebut oleh Worl Wide Fund (WWF) dalam situsnya, meningkatnya radiasi ini menyebabkan timbulnya katarak, kanker kulit, penurunan kekebalan manusia, dan merusak hasil panen.
Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah organisasi yang dibentuk United Nations Environment Program. (sebuah badan PBB yang membidangi masalah lingkungan) dan Organisasi Meteorologi Dunia yang beranggotakan 300 lebih pakar perubahan iklim dunia. Kenaikan suhu rata-rata tahunan saat ini sebesar 0,2 -1 derajat Celcius. Kenaikan suhu ini disinyalir dapat mengakibatkan perubahan pada berbagai aspek kehidupan seperti perubahan ekosistem, hilangnya tempat tinggal mahluk hidup, akses air bersih, dan menurunnya produksi pangan.
Perubahan-perubahan tersebut secara tidak langsung akan berdampak bagi kesehatan manusia. Cuaca yang terus berubah dengan cepat berperan besar pada timbulnya penyakit dan turunnya daya tahan tubuh. Berbagai penyakit, baik infeksi maupun penyakit menular berpotensi meningkat akibat perubahan ini.
Cuaca yang berubah cepat, misalnya: pagi hari yang terik, dan hujan deras di sore hari, memberikan waktu yang singkat bagi tubuh manusia untuk menyusuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Perubahan suhu dan kelembapan di lingkungan yang berubah-ubah dengan cepat membuat tubuh kita tidak sempat beradaptasi sehingga timbulah infeksi. Akibatnya daya tahan tubuh menurun, sehingga mudah terserang infeksi saluran pernapasan atas, seperti batuk, influenza, hingga paru-paru. Influenza yang dulu hanya menyerang dimusim dingin kini menyerang sepanjang musim.
Suhu udara yang tinggi akan meningkatkan kandungan uap air di udara. Awan hujan menjadi lebih mudah terbentuk, dan membuat intensitas hujan di sejumlah tempat meningkat di atas norma. Apabila kondisi permukaan bumi tidak mendukung terjadinya peningkatan curah hujan itu, maka muncullah bencana banjir, dan tanah longsor. Aktivitas manusia yang tidak akrab lingkunga seperti penggundulan hutan, penutupan permukaan tanah sehingga menghambat penyerapan air, dan pengelolaan sampah ya buruk, memicu semakin menurun daya dikung permukaan bumi.
Menurut laporan IPCC, terjadi peningkatan banjir dan badai siklon tropis dalam dua dekade terakhir. Banjir melanda banyak tempat di dunia. Dampak terbesar dari akibat gempuran badai dan banjir adalah penurunan kulitas kesehatan penduduk. Genangan air yang bercampur lumpur dan sampah, serta sulitnya akses air bersih meningkatkan penyakit diare. Akibat sanitasi yang buruk tikus-tikus berkeliaran menyebarkan penyakit yang menyebabkan kematian.
Suhu udara yang tinggi menyebabkan kelembapan udara pun meningkat. Kondisi seperti ini merupakan tempat yang baik bagi serangga pembawa penyakit untuk berkembang biak dengan cepat. Termasuk di antaranya nyamuk pembawa penyakit malaria, dan demam berdarah. Kini demam berdarah mengancam sepanjang tahun karena musim yang tidak pasti. Nyamuk aedes aegypti bisa berkembang biak di segala musim.
Kenaikan suhu udara juga membuat pola serangan virus berubah. Suhu yang lebih hangat selain bisa mempercepat perkembangan biakan nyamuk juga mempercepat masa inkubasi virus dalam tubuhnya. Siklus hidup nyamuk semakin pendek, populasinya pun meledak. IPPC menyebutkan bahwa 65% populasi dunia kini berisiko terjangkit malaria. Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan epedemi malaria sebanyak 6% disebabkan oleh perubahan iklim.
Pada beberapa tempat, temperatur udara yang tinggi menaikkan suhu air laut hingga melahirkan daerah bertekanan rendah. Angin pun bertiup semakin kencang. Tiupan angin kencang ditambah udara yang kering menyebabkan munculnya titik-titik api yang sewaktu-waktu dapat berkobar. Hal ini lah yang memicu kebakaran hutan di berbagai belahan bumi. Pembakaran lahan untuk membuka perkebunan baru memperparah kebakaran hutan.
Asap yang mengandung debu halus dan berbagai partikel oksidan karbon menyebabkan gangguan pernapasan dari yang ringan hingga akut, mulai asma hingga penyakit paru kronis. Racun dioksin yang terkandung dalam asap kebakaran dapat menimbulkan kanker paru dan gangguan kehamilan.
Secara tak langsung, udara yang tercemar juga bisa mengakibatkan tingginya stress pada manusia. Polutan-polutan seperti plumbom bersifat oksidatif yang berarti bisa merusak otak dan mempengaruhi emosi orang. Polutan-polutan yang terhirup oleh manusia akan masuk otak dan reaksi kimiawi di otak mempengaruhi emosi manusia, sehingga cenderung menjadi lebih emosional. Kadar CO yang berlebih dalam darah akan mengakibatkan keracunan dan merusak fungsi otak. Orang akan pingsan atau seperti orang bingung. Memang belum data pasti yang menunjukkan dampak langsung pemanasan global terhadap kesehatan jiwa. Namun dari sisi medis, dapat dibuktikan bahwa peningkatan konsentarsi zat-zat beracun di udara akan berpengaruh ke otak juga mental.
Selain semakin seringnya muncul wabah penykit, perubahan iklim dikhawatirkan juga akan menyebabkan terjadinya mutasi virus dan bakteri yang dapat menimbulkan penyakit yang lebih hebat lagi. Namun, peningkatan epidemi penyakit-penyakit yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah karena terjadinya mutasi-mutasi tersebut selalu terjadi sepanjang masa. Hanya, bisa saja terjadi percepatan mutasi akibat pemanasan global. Tapi, itu pun belum diketahui dengan pasti.
Untuk menghadapi berbagai kemungkinan penyebaran penyakit yang semakin beragam dengan intensitas yang semakin tinggi, sebaiknya dilakukan kewaspadaan semesta. Kewaspadaan semsta itu berupa tindakan pencegahan yang lebih ditekankan pada upaya peningkatan kesehatan secara individual. Upaya peningkatan kesehatan secara individual sebaiknya memang dimulai dengan hal-hal kecil dan bersifat pribadi, yang selama ini justru kerap terabaikan.
Efek rumah kaca itu semakin dperburuk dengan kebutuhan manusia akan mesin-mesin pendingin, yang tak hanya melepaskan panas dan sisa pembakaran ke udara, namun juga gas chloro fluoro carbon (CFC). CFC banyak digunakan untuk tujuan menurunkan suhu ruangan, pada kulkas dan pendingin udara, yang dapat merusak lapisan ozzone di atmosfer.
Pada kondisi normal, atmosfer akan menahan 95% radiasi ultraviolet matahari, sehingga hanya 5% yang masuk ke bumi. Namun apabila lapisan ozon yang berfungsi sebagai pelindung rusak, sinar ultra violet bisa mudah menerobos ke permukaan bumi. Seperti yang disebut oleh Worl Wide Fund (WWF) dalam situsnya, meningkatnya radiasi ini menyebabkan timbulnya katarak, kanker kulit, penurunan kekebalan manusia, dan merusak hasil panen.
Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah organisasi yang dibentuk United Nations Environment Program. (sebuah badan PBB yang membidangi masalah lingkungan) dan Organisasi Meteorologi Dunia yang beranggotakan 300 lebih pakar perubahan iklim dunia. Kenaikan suhu rata-rata tahunan saat ini sebesar 0,2 -1 derajat Celcius. Kenaikan suhu ini disinyalir dapat mengakibatkan perubahan pada berbagai aspek kehidupan seperti perubahan ekosistem, hilangnya tempat tinggal mahluk hidup, akses air bersih, dan menurunnya produksi pangan.
Perubahan-perubahan tersebut secara tidak langsung akan berdampak bagi kesehatan manusia. Cuaca yang terus berubah dengan cepat berperan besar pada timbulnya penyakit dan turunnya daya tahan tubuh. Berbagai penyakit, baik infeksi maupun penyakit menular berpotensi meningkat akibat perubahan ini.
![]() |
| Penghijauan salah satu cara mengatasi global warming, Suhu permukaan bumi yang semakin tinggi menyebabkan perubahan iklim |
Cuaca yang berubah cepat, misalnya: pagi hari yang terik, dan hujan deras di sore hari, memberikan waktu yang singkat bagi tubuh manusia untuk menyusuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Perubahan suhu dan kelembapan di lingkungan yang berubah-ubah dengan cepat membuat tubuh kita tidak sempat beradaptasi sehingga timbulah infeksi. Akibatnya daya tahan tubuh menurun, sehingga mudah terserang infeksi saluran pernapasan atas, seperti batuk, influenza, hingga paru-paru. Influenza yang dulu hanya menyerang dimusim dingin kini menyerang sepanjang musim.
Suhu udara yang tinggi akan meningkatkan kandungan uap air di udara. Awan hujan menjadi lebih mudah terbentuk, dan membuat intensitas hujan di sejumlah tempat meningkat di atas norma. Apabila kondisi permukaan bumi tidak mendukung terjadinya peningkatan curah hujan itu, maka muncullah bencana banjir, dan tanah longsor. Aktivitas manusia yang tidak akrab lingkunga seperti penggundulan hutan, penutupan permukaan tanah sehingga menghambat penyerapan air, dan pengelolaan sampah ya buruk, memicu semakin menurun daya dikung permukaan bumi.
Menurut laporan IPCC, terjadi peningkatan banjir dan badai siklon tropis dalam dua dekade terakhir. Banjir melanda banyak tempat di dunia. Dampak terbesar dari akibat gempuran badai dan banjir adalah penurunan kulitas kesehatan penduduk. Genangan air yang bercampur lumpur dan sampah, serta sulitnya akses air bersih meningkatkan penyakit diare. Akibat sanitasi yang buruk tikus-tikus berkeliaran menyebarkan penyakit yang menyebabkan kematian.
Suhu udara yang tinggi menyebabkan kelembapan udara pun meningkat. Kondisi seperti ini merupakan tempat yang baik bagi serangga pembawa penyakit untuk berkembang biak dengan cepat. Termasuk di antaranya nyamuk pembawa penyakit malaria, dan demam berdarah. Kini demam berdarah mengancam sepanjang tahun karena musim yang tidak pasti. Nyamuk aedes aegypti bisa berkembang biak di segala musim.
Kenaikan suhu udara juga membuat pola serangan virus berubah. Suhu yang lebih hangat selain bisa mempercepat perkembangan biakan nyamuk juga mempercepat masa inkubasi virus dalam tubuhnya. Siklus hidup nyamuk semakin pendek, populasinya pun meledak. IPPC menyebutkan bahwa 65% populasi dunia kini berisiko terjangkit malaria. Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan epedemi malaria sebanyak 6% disebabkan oleh perubahan iklim.
Pada beberapa tempat, temperatur udara yang tinggi menaikkan suhu air laut hingga melahirkan daerah bertekanan rendah. Angin pun bertiup semakin kencang. Tiupan angin kencang ditambah udara yang kering menyebabkan munculnya titik-titik api yang sewaktu-waktu dapat berkobar. Hal ini lah yang memicu kebakaran hutan di berbagai belahan bumi. Pembakaran lahan untuk membuka perkebunan baru memperparah kebakaran hutan.
Asap yang mengandung debu halus dan berbagai partikel oksidan karbon menyebabkan gangguan pernapasan dari yang ringan hingga akut, mulai asma hingga penyakit paru kronis. Racun dioksin yang terkandung dalam asap kebakaran dapat menimbulkan kanker paru dan gangguan kehamilan.
Secara tak langsung, udara yang tercemar juga bisa mengakibatkan tingginya stress pada manusia. Polutan-polutan seperti plumbom bersifat oksidatif yang berarti bisa merusak otak dan mempengaruhi emosi orang. Polutan-polutan yang terhirup oleh manusia akan masuk otak dan reaksi kimiawi di otak mempengaruhi emosi manusia, sehingga cenderung menjadi lebih emosional. Kadar CO yang berlebih dalam darah akan mengakibatkan keracunan dan merusak fungsi otak. Orang akan pingsan atau seperti orang bingung. Memang belum data pasti yang menunjukkan dampak langsung pemanasan global terhadap kesehatan jiwa. Namun dari sisi medis, dapat dibuktikan bahwa peningkatan konsentarsi zat-zat beracun di udara akan berpengaruh ke otak juga mental.
Selain semakin seringnya muncul wabah penykit, perubahan iklim dikhawatirkan juga akan menyebabkan terjadinya mutasi virus dan bakteri yang dapat menimbulkan penyakit yang lebih hebat lagi. Namun, peningkatan epidemi penyakit-penyakit yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah karena terjadinya mutasi-mutasi tersebut selalu terjadi sepanjang masa. Hanya, bisa saja terjadi percepatan mutasi akibat pemanasan global. Tapi, itu pun belum diketahui dengan pasti.
Untuk menghadapi berbagai kemungkinan penyebaran penyakit yang semakin beragam dengan intensitas yang semakin tinggi, sebaiknya dilakukan kewaspadaan semesta. Kewaspadaan semsta itu berupa tindakan pencegahan yang lebih ditekankan pada upaya peningkatan kesehatan secara individual. Upaya peningkatan kesehatan secara individual sebaiknya memang dimulai dengan hal-hal kecil dan bersifat pribadi, yang selama ini justru kerap terabaikan.
