Halloween party ideas 2015

Advertisement
Remaja menuntut dirinya tidak tampil seperti anak-anak, tapi juga tidak mau terlihat terlalu dewasa. Konsep diri yang keliru, akan berdampak pada rendahnya rasa percaya diri, yang mempengaruhi pola pergaulannya.

Memasuki usia remaja, anak memasuki tahap perkembangan menuju dewasa. Selain berkembang aspek psikologisnya, berkembang juga aspek fisiknya. Pada jenjang awal memasuki tahap kedewasaannya, remaja akan memulai proses pencarian jati dirinya. Mereka ingin tampil beda, tidak seperti anak-anak, tapi jangan terlihat dewasa agar tidak dibilang sok tua. Untuk itu mereka banyak bercermin kepada sesuatu  diluar sana, terutama remaja lain, yang sama tingkatan umurnya dengan mereka. Biasanya remaja banyak bercermin pada tokoh-tokoh idola, seperti artis, bintang iklan, pemian filmbintang sepak bola, dan lain sebagianya, yang seringkali digambarkan sebagai sosok ideal.

Penagruh teman sebaya (peer) memiliki pengaruh yang lebih kuat di usia ini. Tokoh idola si remaja pun cenderung akan lebih kuat di usia ini. Tokoh idola si remaja pun cenderung akan sama dengan kelompoknya. Karena kebutuhan kebersamaan dengan kelompok sebaya yang kuat, remaja akan berusaha diterima oleh kelompok tersebut dengan menyesuaikan pembawaan dirinya seperti remaja lain, termasuk penampilannya. Remaja sangat peduli dengan bagaimana orang lain memandang mereka. Mereka pun akan lebih mendengarkan teman-teman mereka dibandingkan orangtuanya.

Konsep Diri.
Kecenderungan lebih memperhatikan pendapat teman sebaya dan mengabaikan nasihat orangtua itu, membuat banyak orangtua merasa anaknya berubah menjadi pembangkang. Padahal yang terjadi adalah perbedaan pandangan anatar orangtua dan anak. Anak pada usia ini lebih membutuhkan bimbingan orangtua guna membantu membuat keputusan dan bekajar bertanggung jawab, khususnya bertanggung jawab kepada pilihan penampilannya. Peran akatif orangtua dapat mendorong tumbuhnya konsep diri pada remaja.

Penampilan Fisik VS Konsep Diri
Remaja dengan prestasi. Team Nasional U-19 yang digadang-gadang akan mengharumkan nama Indonesia
Remaja yang mempunyai konsep diri negatif cenderung akan memiliki rasa percaya diri yang rendah, juga dalam menilai tubuh dan penampilannya. Hal ini, sedikit banyak,akan mempengaruhi pergaulannya. Padahal umumnya remaja ingin tampil sempurna di hadapan teman-temannya. Mereka akan meniru gaya penampilan para selebritisdi media, demi meningkatkan rasa percaya diri. Berbagai cara dilakukan demi membuat penampilanya menjadi sempurna berdasarkan pemahaman tersebut.

Dampak positif dari hal ini adalah meningkatkan rasa percaya diri, bila dirinya bisa diterima oleh lingkungannya sesuai gayanya. Namun sayangnya,justru dampak negatif yang sering muncul, mereka bisa tidak menjadi diri sendiri demi diterima dikelomponya. Remaja sulit menjadi  diri sendiri, sekaligus menyesuaikan diri karena tingkat emosional mereka masih tinggi.

Munculnya konsep diri yang keliru, akan bedampak pada rendahnya rasa percaya diri. Pengetahuan dan kemampuan yang terbatas dapat menjerumuskan remaja dalam pola hidup yang sehat, seperti diet tak sehat, penggunaan narkoba dan alkohol. Pada kasus yang ekstrim, mengakibatkan kasus-kasu psikologis seperti pola makan menyimpang.

Untuk Kasus-kasus tertentu, dimana pengaruh negatif kenginginan untuk diterima kelompoknya sudah menimbulkan maslah yang dapat diterima kelompoknya sudah menimbulkan masalah yang dapat mengancam masa depan anak, sebaiknya meminta pihak ke tiga untuk menyelesaikan masalah. Pada tahap ini biasanya anak sulit mendengar perkataan orangtua, sehingga masing-masing pihak yakin bahwa keputusan yang diambil adalah tepat. Pola komunikasi anatara orangtua-anak pun perlu diperbaiki dan masing-masing pihak perlu menyadari kekeliruannnay.

Namaun jangan pula melarang atau memisahka remaja dari lingkungan pergaulannya secara langsung apabila lingkungan tersebut danggap tidak baik bagi anak. Yang dapat dilakukan aorangtua adalah berbicara baik-baik dengan mereka, biarkan mereka berpendat baru kemudian orangtua berpendapat. Ungkakkan dengan kata-kata yang positif, cari celah dengan ajakan-ajakan yang sesuai dengan bahasa remaja. Melarang bisa dilakukan tapi tidak efektif. Remaja akan mencari tahu sendiri, sehingga orangtua malah kecolongan.

Daripada melarang atau memaksa anak memutuskan hubungan dengan lingkungannya, lebih baik bila orangtua berusaha memperkenalkan remaja pada lingkungan baru yang lebih sehat, kegiatannya positif, dan tidak hanya mengurusi masalah penampilan saja. Lambat laun, dia akan menyukainya dan dengan sendirinya memilih lingkungan yang lebih postif tersebut.
Powered by Blogger.