Halloween party ideas 2015

Advertisement
Mempunyai anak-anak kecil di rumah pasti sangat menyenangkan, Namun saat terjadi pertengkaran, suasana berubah menjadi tegang dengan teriakan dan tangisan. Sudahkah Anda berlaku adil pada mereka?

Mengapa harus selalu mengalah? Judul lagu terkenal ini seolah menjadi lagu kebangsaan para kakak. Kata orangtua, jika sang adik menginginkan apa yang dipunyai atau dipegang kakak, seolah wajib hukumnya untuk diberikan. Apakah Anda mengatakan hal yang sama pada anak yang lebih besar di rumah? Pernahkah Anda membanyangkan bagaimana perasaan anak Anda saat harus mengalah. Secara bahasa, kata mengalah berasal dari kata kalah. Dan secara manusiawi, tidak ada orang, baik baik anak maupun dewasa, merasa senang saat menderita kekalahan.

Jangan lupa. meskipun kakak secara fisik lebih besar dari adik, namun dia juga masih anak-anak. Di usia 5 tahun, sifat egosentrisnya masih melekat. Jadi dia masih belum bisa secara sempurna melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan mempunyai keinginan untuk mempertahankan miliknya. Sehingga jika harus mengalah, seringkali bukan karena kesadaran pribadi, tetapi keterpaksaan yang dilakukan di bawah tekanan orang tua. Tindakan yang dilakukan di bawah tekanan secara terus-menerus, dikhawatirkan menjadi bom yang siap meledak satu waktu nanti.

Bersikap Adil
Mempunyai anak-anak kecil di rumah pasti sangat menyenangkan. Suasana jadi meriah dengan celotehan, nyanyian, dan jeritan mereka. Namun saat terjadi konflik pertengkaran atau perebutan barang, suasana berubah menjadi tegang dengan teriakan dan tangisan. Kakak dan adik diibaratkan anjing dan kucing yang sedang berkelahi. Barang-barang sepele yang biasanya tidak menarik perhatian, bisa menjadi objek rebutan saat salah satu dari mereka menggunakannya. Bagaimana cara kita bersikap adil mengatasi “perang saudara” tersebut?
    Mengapa Kakak Selau Mengalah
  • Melihat masalah dari dua pihak. Cermati terlebih dahulu, siapa yang memulai konflik. Jangan selalu mengambil kesimpulan kakak yang mengganggu adik atau kakak harus mengalah karena dia lebih besar.
  • Berbicara dengan baik. Saat Anda sudah mengetahui duduk permasalahnnya, ajaklah anak-anak untuk menyelesaikan masalah dengan berbicara yang baik, bukan dengan berteriak, memukul, atau bahkan menendang. Gunakan bahasa sederhana supaya mudah dipahami buah hati anda.
  • Ajarkan untuk bersabar. Jika mereka ingin meminjam barang yang dimiliki atau dipegang orang lain, mintalah mereka, baik kakak atau adik untuk bersabar sampai barang tersebut selesai digunakan, sedangkan yang menggunakan bersegera untuk menyelesaikan.
  • Meminta maaf. Setelah masalah terselesaikan, ajarkan kepada anak untuk meminta maaf. Dengan meminta maaf, diharapkan mereka tidak akan mengulangi perbuatannya lagi dan menyadari bahwa berebutan bukanlah penyelesaian masalah yang baik.
  • Berikan alternatif pengganti. Jika si kecil menginginkan spidol merah yang sedang digunakan kakak, ajaklah dia mencari barang pengganti, seperti spidol warna lain, pensil atau krayon.
  • Konsistensi dan kerjasama tim. Pembiasaan ini memerlukan waktu yang panjang, sehingga diperlukan konsistensi dalam pelaksanaannya. Dukungan seluruh penghuni rumah termasuk pengasuh, sangat dibutuhkan demi keberhasilan pembiasaan perilaku ini.
Tim yang Kompak
Betapa menyenangkan menyaksikan anak-anak bermain bersama, saling berbagi, kompak, dan damai. Psikolog Selvy Andriana, Psi., menyarankan sebagai orangtua, kita bisa membantunya untuk meminimalkan konflik dengan :
  • Memberi label pada barang pribadi. Pisahkan barang-barang pribadi mereka dengan memberikan label pada lemari, sikat gigi, gelas, ataupun baju mereka. Dengan mengetahui barang milik orang lain, mereka tidak boleh sembarangan menggunakannya.
  • Menghargai milik orang lain. Jika ingin menggunakan barang orang lain, ajarkan untuk meminjam dengan cara yang baik dan menjaga saat menggunakannya. Namun tidak semua barang pribadi boleh dipinjamkan, seperti sikat gigi dan celana dalam.
  • Barang bersama. Tunjukkan kepada anak, apa saja yang merupakan barang bersama, boleh digunakan dan dijaga secara bersama –sama. Biasakan anak-anak untuk saling berbagi dengan saudaranya.
  • Memberi barang sesuai kebutuhan. Jika mempunyai tiga anak, bukan berarti harus membeli tiga barang yang sama untuk mereka. Biasakan untuk memberi barang sesuai kebutuhan. Jika hanya membelikan sepasang sepatu untuk anak pertama, bukan berarti anak yang lain tidak disayang. Tapi sepatu diberikan karena memang anak pertama memang sedang membutuhkannya. Demikian juga untuk barang-barang kebutuhan yang lain.
  • Kegiatan bersama. Rancanglah kegiatan yang memerlukan kerjasama kakak dan adik untuk lebih mendekatkan mereka seperti, menyelesaikan puzzle bersama, bermain masak-masakan, bermain air, dan lain sebagainya. Piknik bersama keluarga juga bisa menghangatkan hubungan antar keluarga.
  • Tidak membandingkan. Setiap anak adalah unik, dengan kelebihan dan kekurangannya. Jangan membandingkan seorang anak dengan anak yang lain. “Dasar bandel, semuanya jadi rusak! Lihat kakakmu, pandai merawat mainan!”. Jika ingin menasihati, berikan dengan kalimat-kalimat positif sehingga tidak melukai hati anak dan memicu konflik berikutnya.
  • Berilah contoh senang berbagi. Orangtua adalah cermin bagi anaknya. Sehingga jika orangtua menghendaki anaknya mempunyai sifat senang berbagi, maka hendaknya mereka memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Pastikan Anda memberikan perhatian dan kasih sayang yang adil di antara mereka, Sehingga mereka akan tumbuh dengan rasa saling berbagi, menghargai, dan menyayangi.
Powered by Blogger.