Advertisement
Mereka menayai lebih dari 200 relawan untuk berpikir tentang teman yang menyinggung perasaan mereka. Setenah dari kelompok itu diperintahkan untuk berpikir tentang bagaimana hal itu membuat marah mereka sementara setengah lainnya didorang untuk memepertimbangkan pemberian maaf.
Perhatian para partisipan kemudian dialihkan selama lima menit setelah itu, mereka diperintahkan untuk berpikir tentang hal itu lagi dengan cara apapun yang mereka pilih.
Para peserta dihubungkan ke monitor, yang membaca tekanan darah dan tetak jantung. Tim yang dipimpin Dr. Britta Larsen itu menemukan bahwa para kelompok marah terlihat peningkatan terbesar dalam tekanan darah dibandingkan dengan kelompok pemaaf setelah sesi perenungan pertama. Para penulis studi ini mengatakan bahwa meskipun itu adalah penelitian kecil, yang diterbitkan oleh journal of Biobehavioural Medicenes-Pemaaf bisa menurunkan reaksivitas terhadap perestiwa stres dan menawarkan perlindungan yang berkelanjutan dari dampak itu.
Keniakan tekanan darah dalam jangka pendek diketahui tidak berbahaya. Namun, jika ini berkelanjutan lama, ini bisa meningkatkan resiko serangan jantung atau stroke.
Memaafkan tidak hanya menyenangkan bagi orang yang dimaafkan tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan orang yang memaafkan. Secara ilmiah memaafkan memberikan manfaat untuk mental maupun fisik
Orang yang tidak memaafkan terkait erat dengan sikap marah. Pada orang seperti ini, berdampak pada penurunan fungsi kekebalan tubuh. Mereka yang tak suka memberi maaf, aktivitas otaknya sama dengan orang yang sedang stres, marah, dan agresif.
Ada ketidaksamaan aktivitas hormon dalam darah si pemaaf dibandingkan darah si pendendam (si pemarah). Pola hormon dan komposisi zat kimia dalam darah orang yang tidak memaafkan bersesuaian dengan pola hormon emosi negatif yang terkait dengan keadaan stres. Sikap tidak memaafkan cenderung membuat kekentalan darah lebih tinggi. Itu yang membuat dampak buruk pada kesehatan. Misalnya, pada raut wajah, dan detak jantung.
