Pikir Masak-masak Sebelum Alih Profesi
Karier Terus melaju tentu dambaan pekerja atau karyawan. Bukan hanya demi kesejahreaan lahir yang meningkat, tetapi juga kepuasan batin. Namun, Orang sering di hadapkan pada pilihan untuk tetap menekuni pekerjaan yang sedang di jalani, pindah ke tempat kerja lain atau bahkan alih profesi. Apa pun pilihannya pertimbangan matang diperlukan.
Sudah 10 tahun si A – sebut saja begitu- bekerja sebagai fotografer di sebuah studio di Jakarta. Namun, sebagai juru foto pengantin ia merasa, kariernya mandeg. Karier tidak naik-naik.Tidak beranjak jadi supervisor atau manager, misalnya.
Sejak hari pertama bekerja hingga hari ke-3.650, tugasnya itu-itu melulu. Memegang kamera, mengatur posisi pengantin, lalujepret-jepret. Sempat pula ia berpikiruntuk alih profesi menjadi koki atau juru masak. Kebetulan , ia gemar dan jago memasak. Kini, ia betul-betul berada di persimpangan jalan.
Ada bermacam-macam alasan yang bisa membuat seseorang bertahan atau tidak pada pekerjaannya yang sedang di lakoninya. Salah satunya, berhubungan dengan pendapatan (take home pay). Gaji atau pendapatan menjadi yang diterima menjadi alasan yang paling banyak dipertimbangkan oleh orang yang ingin berpindah atau bertahan pada tempat ia bekerja.
Selain itu juga faktor tunjanagn dan fasilitas tertentu yang diberikan oleh perusahaan atau tempat bekerja. Semisal, tunjangan kesehatan, fasiliats rumah, pinjaman ringan, dan sebagainya.
Satu hal lagi yang belakangan ikut dipertimbangkan , yaitufaktor jarak dari rumah atau tempat tinggal ke lokasi tempatnya bekerja. Tampaknya sepele, tetapi berpotensi menjadi masalah. Apa lagi bagi orang yang bekerja di kota besar seperti Jakarta. Jarak yang jauh dan macet serta makin tingginya ongkos transportasi bisa bikin orang berpikir untuk pindah tempat kerja atau ganti profesi.
Namun, memutuskan untuk pindah kerja atau alih profesi bukan urusan mudah. Dibutuhkan dorongan atau alasan yang kuat untuk itu. Berpindah pekerjaan, apalagi ganti profesi, jelas mengandung resiko di masa depan. Di sana ada ketidak pastian, apa lagi orang harus memulianya dari awal. Persoalanya akan semakin rumit jika ia sudah beranak-istri.
Hubungan atau relasi sosial yang luas memang sering memudahkan seseorang mendapatkan imformasi tentang lapangan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan jenjang karier. Ini tentu peluang. Namun, itu pun tidak ada jaminan. Kalaupun harus memilih, Tetapkan secara hati-hati, realistis, dan fair, agar tidak menuai penyesalan dikemudian hari.
Bekerja serius
Lantas bagaimana jika sudah merasa nyaman di tempat kerjanya, namun persoalannya kenapa jenjang kariernya tidak naik-naik? Adakah sesuatu yang salah?
Harus di telaah lebih dulu, kenapa karier seseorang tidak beranjak naik. Sewaktu hendak bekerja di suatu kantor atau perusahaan , sebaiknya kumpulkan imformasi yang cukup tentang kantor atau perusahaan itu. Cari tahu apakah dalam formasi strukturalnya terdapat peluang untuk naik jenjang atau tidak. Dalam kasus si A mungkin di studio foto tempat ia bekerja tidak formasi itu.
Kalaupun misalnya ada formasi yang memungkinkan pekerja atau karyawan untuk naik jenjan, perlu juga soal kreterianya. Apakah berdasarkan prestasi yang di capai, kompetensi, keterampilan, atau kemahiran? Apakah berdasarkan pada senioritas? Atau mungkin karena faktor hubungan keluarga yang biasanya ada pada perusahaan keluarga?
Kita tahu, di beberapa instasi kenaikan jenjang karier berjalan otomatis mengikuti masa kerja. Namun, dibeberapa perusahaan lain kesempatan naik jenjang atau karier karyawannya di buka berdasarkan prestasi yang dicapai.
Kalau sistem yang terakhir itu yang berlaku,saatnya kini meraih posisiitu dengan cara mengejar prestasi sebaik-baiknya. Prinsipnya, untuk bisa naik pangkat kita harus bekerja sungguh-sungguh. Bukan dengan cara menjilat atasan. Hambatan dalam meraih nya tentu saja ada. Namun, sebaiknya jadikan hambatan sebagai tantangan. Kalau kita bekerja secara benar, cepat atau lambat akan terlihat apa yang sesungguhnya. Kalau ada penilaian negatif akan berubah dengan sendirinya.
Lalu, Bagaimana membuat diri kita menonjol dibandingkan dengan yang lain? Tentu dengan melaukan sesuatu yang bisa di anggap sebagai prestasi di tempat kerja.Prestasi yang jauh lebih tinggi dari yang dicapai teman sekerja lainnya. Misalnya kalau bekerja di bidang marketing atau penjualan segai salesman, bauatlah pencapaian target penjualan yang lebih dari yang lain.
Untuk mencapai perlu strategi pribadi yang tangguh, dan mungkin juga pengorbanan. Misalnya, dengan menyediakan waktu bekerja lebih banya, berpikir dan bertindak kreatif, atau bahkan berani mengeluarkan dana pribadi agar bisa mengejar pencapaian yang jauh melebihi target. Bisa juga dengan melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan pelanggan baru, dan sebagainy. Intiunya, bekerja keras tapoi juga cerdas.
Tiga faktor bikin betah
Si A yang fotografer sempat tergoda untuk beralih profesi menjadi koki, seseorang akan memutuskan pindah kerja atau alih profesi dari pekerjaan lamanya bisa karena beberapa faktor. Diantaranya, ambang batas toleransinya sudah sudah terlampaui, kejenuhan, dan hubungan interpersonal dengan rekan kerja kurang baik.
Untuk mengetahui apakah keputusan pindah kerja atau alih profesi itu tepat atau tidak, perlu pertimbangan yang relistis dan berimbang, agar kepusan yang di ambil bukan berdasarkan emosi semata.
Sedikitnya, ada tiga faktor yang membuat orang bertahan pada profesi atau tempat kerjanya. Pertama, Ia bekerja di tempat yang mendukung karena aman dan nyaman . Kedua, gaji atau pendapatan yang ia terima sudah di anggap cukup. Ketiga, pekerjaan yang digelutinya sesui dengan minat dan bakat.
Kalau satu dari tiga itu tidak terpenuhi, biasanya orang akan mempertimbangkan untuk alih profesi atau pindah ke tempat kerja lain. Alih profesi pun perlu pertimbangan matang misalnya dengan menilai kemampuan yang dimiliki, seperti keterampilan, bakat, kompetensi, juga kemahiran,. Juga mengali lagi minat dan cita-cita yang belum terlaksana. Yang tidak kalah penting, harus yakin apakah kita benar-benar mahir tentang bidang baru yang di pilih.
Cara melihat dan mengali kemampuan itu bisa dengan menelisik kembalin riwayat hidup kita. Sebagian besar waktu kita dad di mana? Kemudian tilik bagian mana yang membuat kita berprestasi. Juga dilihat apakah kita punya kebiasaan bekerja dalam tim atau bekerja sendirian.
Setelah itu, saatnya kita bermain dengan pilihan. Yakni kalau pilihan kita tidak salah. Tentukan minat ke arah mana yang kuat, di barengi dengan membuat skema kerja: Apa yang akan di capai dan apa saja yang akan dikerjakan pada tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Di kantor baru biasanya semangat kerja juga baru. Nah, pergunakan semangat itu untuk memacu kerja.
Sekarang tidak bingung lagi, ke arah mana kita melangkah agar kita sejahtera lahir dan batin

