Halloween party ideas 2015

Advertisement
Banyak yang memandang tidur adalah sebuah rutinitas biasa, Tak perlu dipersoalkan, bahkan bila ada gangguan sekecil apapun. Alasannya sederhana. Tokh, bisa "balas dendam" dengan tidur sepuas-puasnya di lain waktu. Selesaikah masalah? Ternyata tidak. Gangguan tidur, sekecil apapun, harus ditangani.

Gangguan tidur sebagai sekelompok gejala yang dapat ditemukan secara klinis dan disertai dengan penderitaan. Pada kebanyakan kasus, terkait dengan terganggunya fungsi seseorang.

Secara lebih gamblang bahwa gangguan tidur adalah segala sesuatu yang menggangu proses tidur baik berupa gangguan secara mekanik, misalnya jalan nafas ataupun proses tidurnya sendiri. Pada dasarnya, tidur merupakan saat tidak aktif alami, dimana semua kegiatan motorik ataupun sensorik diturunkan. Nah, jika tidur kita kurang atau bahkan terganggu, maka yang terjadi adalah daya tahan tubuh memburuk, kondisi emosi jadi labil, kemampuan kognitif merosot, begitu juga dengan ketelitian dan konsentrasi. Atau, dengan kata lain, produktifitas turun.

Kreteria tidur yang baik adalah tidur tak terputus, cukup sesuai kebutuhan tidur dan baik kulitasnya. Untuk mudahnya, jika kita bangun segar dan tidak mengantuk siang hari, tanpa konsumsi stimulan, misalnya kafein, berarti kulitas tidur kita sudah baik.

Begitu pentingnya tidur bagi produktifitas hidup, maka kita harus mewaspadai gangguan tidur, yakni sesuatu yang mengganggu tidur, yakni sesuatu yang menggangu proses tidur, mulai dari awal hendak tidur, ketika tidur, hingga terbangun.

Terdapat 8 kelompok besar gangguan tidur, yang masing-masing dibagi lagi hingga total terdapat sekitar 99 jenis gangguan tidur. Kelompok besar adalah insomnia, sleep related brathing disorders, hipersomnia, gangguan ritme sirkadian, paramsomnia, sleep related movement disorders, isolated symptms dan gangguan tidur lainnya.
Gangguan Tidur Sepele Tapi Membahayakan
Kebisaan tidur yang sehat tidak hanya diperuntukkan bagi penderita insomnia saja. justru bagi semua orang yang ingin produktif dan terhindar dari insomnia, ia harus menerapkan kebiasaan tidur yang sehat.

Ada banyak pemicu gangguan tidur. Namun, mayoritas penyebabnya masih misterius, seperti halnya tidur itu sendiri. Hanya saja, ada beberapa yang telah teridentifikasi, yang paling sering penyempitan jalur napas, kebiasaan yang buruk, dan lingkungan tidur yang jelek.

Tanda dan gejala seseorang mengalami gangguan tidur adalah mengantuk, gangguan kosentrasi, gangguan emosi, penurunan prestasi, akademik, hiperaktivitas, sakit kepala, hipertensi, diabetes, gangguan jantung, dan stroke.


Gangguan tidur tersebut diatasi dengan memperbaiki perilaku tidur, misalnya pada insomna, pengguanaan alat bantu napas pada sleep apnea, serta pengobatan pada restless legs syndrome.


Unntuk mencegah gangguan tidur, maka setiap orang, harus menerapkan kebiasaan tidur yang baik. Bila gangguan tidur dibiarkan terus menerus tanpa penanganan, akan berakibat fatal, misalnya kecelakaan lalu lintas. Setiap orang, usia berapa pun bisa mengalami gangguan tidur, sleep walking  misalnya, bisa menyerang sejak anak sudah bisa berjalan.


Seberapah baikkah kulitas tidur Anda? Untuk mengetahuinya, pertanyaan-pertanyaan berikut bisa jadi petunjuk.

Apakah pagi hari anda bangun tidak segar?
Apakah anda sulit berkonsentrasi pada siang hari?
Apakah anda merasa cepat lelah?
Apakah anda mengantuk, atau bahkan tertidur ditengah rapat?
Bila mayoritas jawabannya adalah ya, maka sudah seharusnya memperbaiki kualitas dan kesehatan tidur. Bukannya disiasati dengan minum kopi, multivitamin, munuman berenergi serta berbagi zat stimulan lainnya.

Memang harus diakui bahwa kata kesehatan bukan hanya tidur saja, mungkin masih asing ditelinga kita. Tidak mengherankan jika perhatian terhadap masalah tidur masih minim. Lihat saja berbagai berita kecelakaan lalu lintas di media. Sering kali dikatakan bahwa penyebabnya adalah sopir  yang mengantuk. Atau, bagaimana dengan orang-orang yang tertidur di tengah rapat atau seminar? Hingga presiden RI harus marah untuk mengingatkan.

Orang masih menganggap tidur sebagai fase pasif yang produktif. Tidur juga dianggap sebagai sifat pemalas. Padahal sepertiga hidup kita di isi dengan tidur, jika tidur tidak bermanfaat, pasti ada yang salah dalam proses penciptaan. Bahkan, kalau anda ingin meningkatkan produktivitas, justru perhatikan kebiasaan tidur.

Banyak orang saat ini yang mengadaptasi gaya hidup yang sebenarnya bertujuan meningkatkan produktivitas, namun akhirnya malah menurun. Untuk itu seseorang memerlukan kemampuan mental dan semangat yang optimal. Ini tidak dapat dicapai, dengan terus bekerja dengan mengabaikan tidur.

Sepanjang hidupnya manusia selalu mencari cara agar dapat terus menerus bugar seperti saat bangun tidur tanpa perlu tidur. Mulai dari vitamin-vitamin, kafein, coklat, hingga berbagai obat modern yang tergolong dalam stimulan. Namun kata stimulan sendiri banyak dikritik, karena zat-zat tersebut hanya dapat menghilangkan kantuk tanpa bisa mengembalikan kemampuan mental maupun kreativitas seseorang. Tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur.

Di tempat-tempat hang-out kita dapati orang-orang yang menikmati berbagai minuman berkafein hingga larut malam. Atau berbagai gym yang justru penuh saat menjelang malam. Bagaimana dengan di rumah? berapa banyak orang yang masih membawa komputer jinjing ke atas tempat tidur.

Kebiasaan-kebiasaan yang sepertinya remeh ini justru pada akhirnya akan menggangu tidur. Pada siang hari, ketika konsentrasi pekerjaan terasa amat sulit, kita justru mencari cara agar tetap terjaga dan bersemangat dalam berbgai stimulan, tanpa menyadari bahwa gangguan yang kita alami sebenarnya bersumber dari kebiasaan tidur yang buruk.

Jafein misalnya, ia akanterus menstimulasi otak hingga 8-12 jam setelah kita konsumsi. Nikotin dalam 30 menit sudah hilang dari peredaran darah, tapi tubuh akan menagih kembali hingga menggangu kulitas tidur.

Banyak yang berpendapat bahwa dengan berolah raga tubuh akan lelah sehingga lebih mudah tidur. Ini tidak benar, tubuh memang lelah, tatapi adrenalin akan meningkat akibat olah tubuh sehingga kita malah merasa segar.

Dari kondisi terjaga, kita memerlukan kondisi rileks sebelum masuk ke kondisi tidur. Itu sebabnya kita memerlukan semacam ritual persiapan tidur. Dalam ritual ini, anda  tidak boleh hanya berbaring melamun dan menunggu-nunggu tidur. Isilah waktu ini dengan aktivitas yang menyenangkan namun relaxing.

Kira-kira setengah jam sebelum tidur, hentikan semua aktivitas pekerjaan maupun rumah tangga. Ini saat anda untuk memanjakan diri dengan sekedar, mendengarkan musik,bermeditasi atau dengan melakukan perawatan tubuh dan wajah. Sambil melakukan aktivitas ini, akan sangat membantu jika ditemani dengan minuman hangat yang sifatnya membuat rileks, Laktium yang di kandung susu misalnya, telah diteliti dapat membuat orang merasa santai dan nyaman.

Kebisaan tidur yang sehat tidak hanya diperuntukkan bagi penderita insomnia saja. justru bagi semua orang yang ingin produktif dan terhindar dari insomnia, ia harus menerapkan kebiasaan tidur yang sehat.

Selain Insomnia, kita juga mengenal gejala gangguan tidur lain yang dikenal dengan sebutan hipersomnia. Penderita mengalami kebalikan dari insomnia, yaitu terlalu mudah tidur atau sering mengantuk walaupun sudah tidur cukup lama. Orang-orang ini sering kita lihat disekitar kita, selalu mengantuk, tak bergairah, dan lamban, sehingga tak jarang dicap sebagai pemalas.

Kantuk berlebih, sering kali membuat kita sulit untuk produktif. Sementara episode henti napas dalam tidur (sleep apnea) adalah salah satu penyebab hipertensi, gangguan jantung, diabetes, hingga stroke yang tidak boleh diabaikan.

Kini kita juga harus memperhatikan kebiasaan tidur yang sehat, sehingga keesokan harinya kita dapat bekerja dengan cepat, tepat dan bersemangat.
Powered by Blogger.