Advertisement
Tenang dulu. Perubahan sikap buah hati sama sekali tidak ada kaitannya dengan pola didik. Kenyataan, masa remaja adalah masa yang paling sulit bagi mereka. Tidak saja perubahan secara fisik, mental pra-remaja pun me, mengalami pergolakan hebat hingga terkadang ia sendiri tidak mengenal pribadinya yang baru.
Menurut pakar anak dan remaja, selama pubertas, ada tiga sisi anak yang mengalami perubahan:
Pertama, Perkembangan fisik secara kasat mata, pasati mamapu mengenali perubahan yang satu ini. Disamping berat dan tinggi tubuhnya berkembang pesat, karateristik sekunder juga mulai terlihat.
Kondisi ini memang normal dialami remaja, dan sudah bukan hal aneh bagi kita, o,rang dewasa. Namun, cobalah memahami posisi mereka. Bagi anak, yang belum pernah mengalaminya, semua hal terseut tersa janggal dan mengganggu. Itulah mengapa orangtua sebabnya orang tua sebaiknya menjelaskan perubahan anatomi tubuh ini kepada anak, agar mereka lebih siap menghadapinya.
Kedua, Perekembangan kognitif . Disamping perubahan fisik, remaja juga mengalami perkembangan dalam kemampuan berpikir. Masalhnya, perkembangan tersebut tidak terjadi bersamaan. Pusat emosi, yang terletak di dibagian dalam otak tengah, berkembang paling awal, sementara area otak depan yang memegang peranan eksekutif - seperti membuat keputusan, memahami konsekuensi, serta menimbang baik dan buruk - berkembang belakangan. Itulah mengapa para remaja kerap membuat kepusan keliru.
![]() |
Group Band Cherry Belle yang lagi naik daun dan digandrungi ABG tanah air
|
Memang, dunia remaja selalu dramatis, seperti saat ia mengatakan, " Aku tidak melihat mathari terbit lagi jika terlambat ke pesta dansa" Atau "Harga diriku akan hancur berkeping-keping jika mengenakan baju itu saat karyawisata". Dimata remaja, ada jutaan pasang mata yang terus menganmati gerak-geriknya, dan siap melumatnya kapan saja jika melakukan kesalahan - sekecil apapun tendensi itu disebut sindrom penonton imajiner, dan timbul akibat ketidak nyamanan akan perubahan fisik yang ia alami.
Remaja juga membutuhkan stimulasi intens, Karena itu, jangan heran jika mereka sering memutar musik yang memekakkan telinga, menonton tayangan yang penuh kekerasan, atau terobsesi pada hal-hal supernatural.
Ketiga, Perkembangan Psikologi. Bisa dikatakan, masa pra remaja adalah era pelatihan. Selama fase tersebut, fase tersebut, para remaja digembleng untuk memasuki fase dewasa.
Remaja harus merumuskan indentitas, nilai dan pegangan hidup yang akan dijadikan pedoman hidupnya kelak. Remaja juga harus mandiri dan tak lagi tergantung pada orangtuanya.
Mereka pun berusaha menemukan intimasi. lihatlah bagaimana remaja berusia 10-13 tahun sangat akrab dengan teman yang berjenis kelamin sama. Memasuki usia 14- 16 tahun, ia mulai merasakan cinta monyet dan mencoba pacaran. Itu semua mereka lakukan agar merasa nyaman dengan dirinya, dan menerima bentuk fisiknya yang baru.
Beberapa remaja juga mulai mengerti arti pencapaian. Itulah sebabnya, orangtua tidak boleh diam saja, apalagi menjauhi anak. Sebaliknya, anda harus menjadi panutan, membuka saluran komunikasi, mengawasi, dan ikut terlibatu dalam kehidupan mereka.
Untuk mengahadapi pra remaja. orang tua harus memahami enam rambut berukut:
- Jangan pernah mengacuhkan anak, walaupun sebenarnya anda tidak menyetujui pilihannya.
- Jangan mencampur adukkan tindakan dengan subjek pelaku. Jika anda sikap anak yang tidak anda suka, jangan memarahi pribadi anak, tetapi kesalahan sikapnya. Ingatlah, yang membuat anda tidak nyaman adalah perbuatannya bukan anakknya.
- Jangan selalu mengkritik anak. Bahkan jika tidak setuju dengan tindakan atau pandangannya, jangan menggurui dan memaksanya mengikuti keputusan anda. Anak juga memiliki hak untuk membuat keputusan. Hargailah hal itu, Jika terjadi ada argumentasi, cobalah mencari jalan tengah. Opsi terburuk, harus siap menerima keputusan anak, sambil tetap mengawasi, agar tidak salah melangkah.
- Jangan membandingkannya dengan anak lain, atau diri sendir sewaktu seusianya.
- Jangan berusaha berkelit jika anak berbalik menyalahkan anda. misalnya, Saat ia menuding anda sebagai orangtua pengekang.
- Terakhir, jangan patah semangat. Tanpa disadari, anak terus mengamati, mendengar dan mempelajari tingkah polah Anda. Karena itu, harus terus menerus menjadi panutan yang baik.
