Advertisement
Salah satu gangguan tidur yang kerap dijumpai adalah insomnia. Meskipun studi tentang ini Indonesia tidak banyak dan kurang memadai, namun ditaksir sekitar 20-30% populasi umum pernah mengalami dalam setahun. Insomnia lebih banyak dijumpai pada wanita dan pada kelompok usia lanjut, lebih dari 50% usia lanjut mengeluhkan kesulitan waktu tidur malam.
Otomatis penderita insomnia produktivitasnya berkurang, pekerjaannya tidak bisa terselesaikan dengan baik. Orang juga mudah mendapat penyakit, mudah flu karena imunitas terganggu.
Insomnia adalah gangguan masuk tidur. Sederhananya begini. Kalau kita mau tidur biasanya akan tertidur sekitar 10-15 menit. Tapi bagi orang yang mengalami gangguan tidur sangat sulit untuk masuk ke waktu tidur, kadang bisa satu jam belum juga tidur atau sudah masuk tidur tapi terbangun berkali-kali, disebut insomnia. Normalnya seseorang tidur jam 10 malam sampai jam 5 pagi.
Hanya saja, maih ada syrat yang mengikuti inomnia, yakni bila gangguan tidak bisa tidur itu berlangsung lebih dari 1 bulan. Jika kurang dari itu belum disebut suatu gangguan tidur.
Ada banyak faktor pemicu. misalnya genetik. Biasanya orang insomnia punya keluarga yang juga insomnia. Bisa juga karena faktor organik, yang disebut insomnia sekunder. penyakit fisik juga dapat memicu insomnia, contohnya diabetes, hypertensi, paru kronik, asma, dan arthritis. Bisa juga faktor psikologis, karena depresi, cemas, ada kepribadian tertentu yang cenderung insomnia. Begitu juga dengan orang yang perfeksionis, dimana harus teratur terus, sangat tepat waktu, cenderung berisiko.
Faktor lingkungan yang tidak nyaman bisa jadi pemicu, misalnya terlalu panas, terlalu dingin atau terlalu berisik. Jadi kalau ada orang insomnia cari dulu adakah faktor organik, cari penyakit organiknya, sehingga bisa dikatakan primer. Atau, karena depresi dan gangguan cemas sehingga tidak bisa tidur.
Satu hal yang dikuatirkan, adalah bahaya insomnia. Misalnya orang yang tidak tidur pada malam hari biasanya mengantuk siang hari, bisa mengakibatkan kecelakaan kerja terutama orang yang bekerja dengan alat khusus seperti di pabrik. Insomnia juga menyebabkan kosentrasi menurun sehingga mudah terjatuh, mudah terluka, atau kalau bawa kendaraan bisa terjadi kecelakaan karena mengantuk.
![]() |
Terapi kontrol stimulus yaitu menghindari pencahayaan, suara dan temperatur yang ekstrim
|
Insomnia dapat digolongkan dengan 2 cara: dengan durasi dan etiologinya (penyebab). Berdasarkan durasinya, ada bentuk insomnia akut yang merupakan akibat kejadian dari lingkungan atau sosial yang spesifik seperti kematian anggota keluarga, perubahan jadwal kerja, perjalanan, atau suara yang mengganggu.
Tipe kedua, adalah insomnia kronis, tidak mempunyai kreteria diagnostik tertentu tetapi umumnya lebih dari satu bulan, dengan kisaran antara 1-6 bulan, terjadi 3 kali atau lebih dalam seminggu, dan mengakibatkan disfungsi harian dalam beberapa derajat tertentu. Insomnia kronis berkaitan dengan kondisi medis kronis lainnya yang mempengaruhi pola tidur.
Penggolongan insomnia berdasarkan penyebab meliputi primer dan sekunder. Insomnia primer dan sekunder. primer tidak disebabkan oleh kondisi fisik atau mental yang diketahui. sekunder merupakan hasil dari penyakit medis dan psikiatri lain, pengobatan, atau gangguan tidur lainnya.
Insomnia sangat umum dijumpai pada penderita kelainan medik. Sulit tidur dapat berkaitan dengan rasa nyeri, napas pendek, efek samping obat. Orang dengan nyeri kronis dapat mengalami kesulitan tidur, dan dapat juga mengalami kesulitan mempertahankan keadaan tidur. Penderita kanker tidak jarang mengaklami insomnia. kesulitan tidur ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, diantaranya gangguan pada mekanisme tidur, pada mekanisme imunitas, akibat dari nyeri kronis, muntah, gangguan mental seperti anseetas atau depresi, atau efek samping pengobatan.
Selain itu, insomnia dapat menyebabkan gangguan emosional yang bermakna, kelelahan, mengantuk, dan hambatan fungsi harian. Hambatan fungsi sosial dan pekerjaan berpengaruh langsung pada kulitas hidup. Orang dengan insomnia mempunyai tingkat yang lebih tinggi untuk masalah kesehatan mental, kondisi nyeri tulang otot, dan penggunaan fasilitas kesehatan. Insomnia berkaitan dengan insiden kecelakaan kerja, kecelakaan kendaraan, dan kematian yang bermakna.
Didukung atau tidak oleh penemuan objektif polisomnografi (pengukuran tidur), insomnia biasanya berkaitan dengan laporan kelelahan pada siang dan depresi atau gangguan mood lain, dan hambatan dalam fungsi harian.
Terapi dibagi berdasarkan tipe insomnia. Pada jangka pendek, selain obat, juga diberikan pendidikan kesehatan tidur dan terapi kontrol stimulus. Insomnia kronis diberikan obat ditambah rujukan untuk pemeriksaan tidur, pendidikan kesehatan tidur, pembatasan tidur, kontrol stimulus, latihan relaksasi, latihan membayangkan , dan terapi kognitif perilaku.
Terapi kognitif diberikan untuk membantu mengubah kepercayaan dan perilaku yang salah tentang tidur, misalnya harapan yang tidak relistik, salah pengertian, dan membesar-besarkan akibat tidak tidur. Tekniknya meliputi latihan pembentukan kembali, menghilangkan pikiran kecemasan, membingkai ulang, dan pengalihan perhatian.
Olahraga dilakukan dengan intensitas sedang. Terapi relaksasi berupa menegangkan dan merelekskan kelompok otot yang berbeda, meditasi dan hipnotis. Pembatasan tidur menggunakan pendekatan paradoksikal dengan mengurangi waktu tidur kemudian ditingkatkan atau diturunkan, tergantung perkembangan dan perubahan lama dan kualitas tidur.
Keadaan tidur yang lebih minimal mengakibatkan tidur yang lebih efisien. Terapi kontrol stimulus yaitu menghindari pencahayaan (termasuk televisi), suara dan temperatur yang ekstrim. Menghindari daging, kopi, rokok, alkohol, pada malam hari. Mengurangi asupan minuman pada sore hari. Meningkatkan tempat tidur bila tidak dapat tidur lebih dari 20 menit.
Dengan pengobatan cukup, insomnia dapat disembuhkan dalam 2 sampai 4 minggu. Namun dapat kambuh lagi bila faktor yang meyebabkan kembali muncul.
