Advertisement
Hiduplah seperti air mengalir. Pesan dari nasihat ini adalah, berjalanlah apa adanya dalam menjalani hidup, ikuti saja lah alur. Dalam satu sisi, pendapat ini bisa jadi benar. Namun bagaimana bila dikaitkan dengan persiapan dana pendidikan kedepan?
Sepertinya pendapat tersebut tak lagi bisa dijadikan sandaran. Persiapan dari sekarang penting agar ada jaminan untuk pendidikan anak nanti. Benar hidup memang perlu perencanaan, apalagi menyangkut biaya pendidikan sang bauh hati ke depan. Orang tualah yang menyiapakan, apa warna pendidkan anak ke depan. Pendidkan anak merupakan investasi jadi mempersiapkan dananya sejak dini menjadi penting.
Melihat dari sisi biaya pendidkan yang terus naik setiap tahunnya, Dimasa lalu sekitar 26 tahun yang lalu biaya kuliah di bandung di universitas negeri hanya menghabiskan biaya 2 juta an sudah tamat kuliah, sekarang dari jumlah tersebut sudah membengkak menjadi 126 juta. Wow, bisa di bayangkan berapa perkiraan biaya kuliah anak-anak kita 20 tahun mendatang.
Itu biaya di universitas negeri lho, bagaimana dengan biaya pendidikan di kampus-kampus swasta favorit? bisa-bisa jadi perkiraan angkanya milyaran rupiah. Angka ini tidak main-main.
Naik Seiring Inflasi
Mahal sekali ya ternyata biaya pendidkan ke depan. Dana pendidikan anak setiap tahun akan naik seiring kenikan setara atau bahkan lebih besar dari inflasi.
![]() |
Ilustrasi anak pulang sekolah tanpa didampingi
orang tua
|
Bagaimana dengan di Indonesia? Zaman sudah berubah. Saat Era Orde Baru dulu, biaya pendidkan banyak disubsidi pemerintah. Ini tentu sangat meringankan orang tua. Namun sekarang, biaya pendidkan bisa mencapai dua kali lipat dari biaya rata-rata inflasi. Rata-rata inflasi dalam kurun waktu 15 tahun terakhir adalah sekitar 12%.
Bila mengacu pada rumus di atas, kenaikan rata-rata biaya pendidkan di Indonesia bisa mencapai 24% setiap 3-5 tahun sekali terjadi penyesuaian biaya pendidkan yang angkanyabisa naik antara 50-100%. Bahkan ada universitas swasta yang kenaikannya 40% per tahun dan setiap 3 tahun naik 100%.
Plan A, B atau C
Bila Orangtua kaget atau cemas berapa uang yang perlu kita siapkan untuk biaya pendidikan yang sang buah hati nanti? Sah-sah saja bila perasaan gundah menggelayuti pikiran orangtua. Dalam pandangan siapa pun akan cemas menghadapi sesuatu yang belum jelas didepannya. Apalagi ini menyangkut biaya pendidikan anak yang merupakan investasi orangtua. kecemasan biasanya akan semakin besar bila yang akan kita hadapai jke depan kian jelas dan bisa diprediksikan.
Lantas, apa yang harus diperbuat? Orangtua memang harus melakukan sesuatu. Suka tidak suka kondisi ini kan menghampiri.
Begitu pola soal biaya pendidikan anak ke depan bila sudah ada prediksinya, orangtua bisa mengatur strategi. Oarangtua mesti membuat plan A, B atau C terhadap rencama pendidkan putra putrinya. Misalnya orangtua mulai memikirkan berapa biaya yang mesti diinvestasikan per bulan untuk universitas yang diinginkan. Misalnya investasi yang dibutuhkan Rp. 500.000 per bulan. Ini plan A
Bila Masih terasa berat, mungkin bisa beralih ke paln B. Pilihan universitas lain bisa menjadi rujukan. Cara lainnya adalah dengan mencari bea siswa untuk membantu biaya pendidikan. Untuk universitas negeri beragam besasiswa untuk anak-anak cerdas.
Banyak Jalan Menuju Roma
Kalkulasi biaya pendidkan yang mencapai milliaran itu bisa saja terjadi. Apalagi itu dilakukan oleh mereka yang propesional di bidangnya. Namun berbicara masa depan pendidikan anak, tentu saja tak melulu bicara soal uang. Apalagi tidak semua orang beruntung bisa menyiapkan dana pendidkan untuk jumlah yang besar sejak anak berusia dini.
Selain persiapan financial, ada banyak hal lain yang harus dipersiapkan. Misalnya, bagaimana anak memandang belajar itu sendiri, Sejauh mana orangtua membantu dia untuk belajar. Untuk suka sekolah dan lainnya. Dengan demikian diharapkan potensi anak akan berkembang dengan baik. Ketika bicara potensi anak-anak yang mampu berkembang maksimal, orangtua tentu optimis prestasinya akan memuaskan dan memberi kemungkinan dia mendapat beasiswa.
Pendek kata, ada banyak jalan menuju roma Artinya, orangtua tidak terpaku hanya pada satu cara untuk memaksimalkan pendidikan anak. Jangan sampai karena nilai nominalnya sangat besar tadi, orangtua justru cemas berlebihan memikirkan nya, repotnya bila merasa tidak mampu, orangtua lalu menurunkan aspirasi pendidikan anaknya. Misalnya daripada memikirkan biaya kuliah yang miliaran itu lebih baik sampai tingkat SMA saja. Jangan sampai itu terjadi.
Padahal Harapan aspirasi pendidikan itu suatu hal yang bisa mendorong seorang anak dalam meraih tujuan pendidkannya. Sederhananya, bila anak bisa lari seratus meter, lalu karena capek, panas atau gerah, lalu cuma diberi jarak 50 meter. Daya dorongnya pasti berbeda. Dengan menargetkan jenjang pendidikan yang tinggi plus sikap realistis, daya juang anak dan orangtua tentu juga akan lebih besar. Percayalah, banyak jalan menuju Roma dan yakin akan ada cara lain untuk mencapai tujuan tersebut.
Tak hanya itu, orangtua juga tidak perlu cemas berlebihan melihat tingginya biaya pendidikan anak kelak. Sebab bisa saja di tengah jalan-dengan adanya beragam alasan-orangtua menemukan kenyataan, bahwa ternyata anaknya tidak perlu sampai kuliah setinggi itu. Cukup di bidang akademik. Namun ini bukan menurunkan standar pendidkan anak. Sebab, bisa jadi bakat atau kecenderungan anak baru bisa diketahui saat usianya menginjak 10 tahun atau lebih.
Plan A, B atau C
Bila Orangtua kaget atau cemas berapa uang yang perlu kita siapkan untuk biaya pendidikan yang sang buah hati nanti? Sah-sah saja bila perasaan gundah menggelayuti pikiran orangtua. Dalam pandangan siapa pun akan cemas menghadapi sesuatu yang belum jelas didepannya. Apalagi ini menyangkut biaya pendidikan anak yang merupakan investasi orangtua. kecemasan biasanya akan semakin besar bila yang akan kita hadapai jke depan kian jelas dan bisa diprediksikan.
Lantas, apa yang harus diperbuat? Orangtua memang harus melakukan sesuatu. Suka tidak suka kondisi ini kan menghampiri.
Begitu pola soal biaya pendidikan anak ke depan bila sudah ada prediksinya, orangtua bisa mengatur strategi. Oarangtua mesti membuat plan A, B atau C terhadap rencama pendidkan putra putrinya. Misalnya orangtua mulai memikirkan berapa biaya yang mesti diinvestasikan per bulan untuk universitas yang diinginkan. Misalnya investasi yang dibutuhkan Rp. 500.000 per bulan. Ini plan A
Bila Masih terasa berat, mungkin bisa beralih ke paln B. Pilihan universitas lain bisa menjadi rujukan. Cara lainnya adalah dengan mencari bea siswa untuk membantu biaya pendidikan. Untuk universitas negeri beragam besasiswa untuk anak-anak cerdas.
Banyak Jalan Menuju Roma
Kalkulasi biaya pendidkan yang mencapai milliaran itu bisa saja terjadi. Apalagi itu dilakukan oleh mereka yang propesional di bidangnya. Namun berbicara masa depan pendidikan anak, tentu saja tak melulu bicara soal uang. Apalagi tidak semua orang beruntung bisa menyiapkan dana pendidkan untuk jumlah yang besar sejak anak berusia dini.
Selain persiapan financial, ada banyak hal lain yang harus dipersiapkan. Misalnya, bagaimana anak memandang belajar itu sendiri, Sejauh mana orangtua membantu dia untuk belajar. Untuk suka sekolah dan lainnya. Dengan demikian diharapkan potensi anak akan berkembang dengan baik. Ketika bicara potensi anak-anak yang mampu berkembang maksimal, orangtua tentu optimis prestasinya akan memuaskan dan memberi kemungkinan dia mendapat beasiswa.
Pendek kata, ada banyak jalan menuju roma Artinya, orangtua tidak terpaku hanya pada satu cara untuk memaksimalkan pendidikan anak. Jangan sampai karena nilai nominalnya sangat besar tadi, orangtua justru cemas berlebihan memikirkan nya, repotnya bila merasa tidak mampu, orangtua lalu menurunkan aspirasi pendidikan anaknya. Misalnya daripada memikirkan biaya kuliah yang miliaran itu lebih baik sampai tingkat SMA saja. Jangan sampai itu terjadi.
Padahal Harapan aspirasi pendidikan itu suatu hal yang bisa mendorong seorang anak dalam meraih tujuan pendidkannya. Sederhananya, bila anak bisa lari seratus meter, lalu karena capek, panas atau gerah, lalu cuma diberi jarak 50 meter. Daya dorongnya pasti berbeda. Dengan menargetkan jenjang pendidikan yang tinggi plus sikap realistis, daya juang anak dan orangtua tentu juga akan lebih besar. Percayalah, banyak jalan menuju Roma dan yakin akan ada cara lain untuk mencapai tujuan tersebut.
Tak hanya itu, orangtua juga tidak perlu cemas berlebihan melihat tingginya biaya pendidikan anak kelak. Sebab bisa saja di tengah jalan-dengan adanya beragam alasan-orangtua menemukan kenyataan, bahwa ternyata anaknya tidak perlu sampai kuliah setinggi itu. Cukup di bidang akademik. Namun ini bukan menurunkan standar pendidkan anak. Sebab, bisa jadi bakat atau kecenderungan anak baru bisa diketahui saat usianya menginjak 10 tahun atau lebih.
