Advertisement
Nama yang diberikan orangtua kepada putra-putri tercinta pasti mengandung makna juga harapan dan doa. Setelah peristiwa 9/11 yang meluluhlantakkan menara kembar di New York, banyak orang Indonesia mengalami kesulitan memperoleh visa gara-gara nama. Dan, warga Indonesia yang sudah menetap di Amerika, Australia, maupun eropa juga memperoleh perlakuan yang mengindikasikan kecurigaan dari aparat keamanan setempat hanya karena namanya yang dianggap berbau teroris.
Di Berbagai masyarakat dansuku di Indonesia terdapat beragam tradisi yang berkaitan dengan pemberian nama kepada anak yang baru lahir. Karena mayoritas rakkyatnya beragama islam dan Arab yang biasanya datang dari Kauman. Kata Kauman sendiri menunjuk kepada masyarakat yang tinggal berdekatan dengan masjid dan tekun beribadah. Masyarakat kauman biasa memberi nama yang diambil dari asma Allah dan Al-Quran. Misalnya, Abdul Aziz, Abdurrahman, Abdul Gani, DAn dan semacamnya. Kata "Abdu" Berarti "hamba" Lalu disambung dengan dengan salah satu asma Allah yang berjumlah 99.
Oleh karena itu, secara antropologi kita bisa menduga asal-usul seseorang dengan mengenali namanya, walaupun tidak selamanya benar. Contohnya nama Andi. Meski merupakan gelar kebangsawanan suatu suku di Sulawesi Selatan, tidak selanmanya orang bernama Andi berasal Dari Sulawesi Selatan.
Banyak Nama yang dikaitkan dengan suku atau marga. Nama seperti itu paling mudah dikenali dengan ciri nama marga. Lain lain lagi dengan masyarakat Sumatrera Barat. Selaim namanya yang berciri agamis, mereka juga senang menggunakan huruf "Z" dan 'R" dalam nama-nama mereka, seperti Azyumardi Azra, Azrul Anwar. Bahkan sejalan dengan dinamika dan perubahan tata nilai masyarakat Minang, penggunaan nama-nama kauman justru semakin kurang populer dan digantikan dengan nama berbau barat.
Menginagt masyarakat Indonesia yang semakin majemuk, sungguh menarik mengkaji hubungan nama, makna, dan implikasi sebuah nama. Di masyarakat jawa, misalanya, bisa di bedakan nama-nama yang populer di kalangan kaum santri, kraton, petani, dan buruh. Umumnya, nama-nama masyarakat jawa yang akrab dengan tradisi kuno, termasuk dunia pewayangan . Kalangan priyayi, misalnya, lebih senang memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama tokoh pewayangan, seperti Arjuna, Nakula, Sadewa,atau menggunakan nama-nama dalam bahasa sansekerta.
Nama adalah doa dan harapan. Misalnya, Sugiharto, dengan harapan kalau besar nanti anaknya akan menjadi orang kaya.Sugih berarti kaya dan Arto berarti harta. Atau, Suharto, yang berarti orang yang bisa mencari harta agar hidupnya makmur dan indah.
Demikianlah, jika dikaji lebih dalam, nama memiliki kekuatan magis dalam arti kandungan makna dan doa orangtua yang akan berpengaruh pada pertumbuhan jiwa anak. Terlebih lagi, jika sebelum memberikan nama, didahului dengan berpuasa, mengadakan tasyakuran dan doa bersama agar makna dan doa yang terkandung di dalam nama yang diberikan bagaikan energi dan cetak biru bagi masa depan sang anak.
Nama-nama di lingkungan kraton sangat kosmologis , misalnya Mangkubumi, Hamengkubuwono, Paku Alam dan semacamnya yang konotasinya sangat jelas, yaitu sebagai penyangga dan penjaga jagat raya agar tidak gonjang ganjing. Nama-nama ini juga menunjukkan filosofi dibaliknya, para raja Jawa menganggap jabatan penguasa sebagai anugerah dan amanat Tuhan untuk menjaga ketentraman bumi, bukan pilihan rakyat sebagainmana dalam alam demokrasi.
Konon, anak sakit-sakitan bila namanya yang tidak sesuai atau tidak cocok. Demi kebaikan sang anak atau alasan kesehatan biasanya orangtua dan tetangga sering memberi saran agar nama anak itu diubah. Nama baru atau tambahan yang paling populer adalah slamet, dengan harapan anaknya sehat dan hidupnya selamat oleh karena itu, nama slamet cukup banyak dipakai di lingkungan masyarakat jawa.
Sampai hari ini masih sering beredar kepercayaan bahwa untuk menjadi presiden mestilah orang jawa tulen. Paling tidak ada tiga alasan yang mendasarinya. Pertama, penduduk jawa adalah mayoritas. Kedua, diharapkan masih memiliki darah biru atau garis keturunan raja. Ketiga, orang jawa dinilai lebih bijak, akomodatif, dan tidak senang konfrontasi. Sebuah sikap yang cocok bagi masyarakat Indonesia yang majemuk. Dari ketiga ciri tersebut, masih ada satu lagi, yaitu namanya harus khas priyayi jawa, seperti soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono. Kalau namanya tidak mencerminkan priyayi jawa posisi mereka di anggap sekedar selingan, misalanya Habibie, Abdurahman Wahid dan megawati.
Akhir-akhir ini muncul tren baru bagaimana orangtua memberi nama anak-anaknya. Hal ini terjadi terutama dikalangan pasangan muda kota yang terpelajar. Selain nama inti, biasanya nama yang diberikan kepada anak-anak mereka agak panjang, mengandung berbagai unsur yang dikombinasikan. Misalnya unsur gabungan nama ayah dan ibunya, Kemudian, ada unsur tempat dan bulan kelahiran. Nama inti sering di ambil dari tokoh-tokoh teladan yang dikagumi orangtuanya, baik dalam sejarah maupun kitab suci, lalu diubah sehingga terasa modern dan enak didengar. Unsur rasa modern dan funky kelihatnnya menjadi pertimbangan pasangan muda dalam memberi nama putra-putrinya.
Pada generasi kakek-nenek, mereka memberi nama anak-anak mereka misalnya dengan nama Jamilah. Sekarang, namanya diubah menjadi Jameela. Nama Anisah diubah menjadi Anisa, Maryam menjadi Maria, dan sterusnya. Pada dasarnya, maknanya tidak berubah, tetapi bunyinya dipandang lebih berabu kota dan terpelajar.
Jadi, renungkan baik-baik dan sertai doa serta harapan ketika Anda memberi nama kepada putra -putri tercinta.
Menginagt masyarakat Indonesia yang semakin majemuk, sungguh menarik mengkaji hubungan nama, makna, dan implikasi sebuah nama. Di masyarakat jawa, misalanya, bisa di bedakan nama-nama yang populer di kalangan kaum santri, kraton, petani, dan buruh. Umumnya, nama-nama masyarakat jawa yang akrab dengan tradisi kuno, termasuk dunia pewayangan . Kalangan priyayi, misalnya, lebih senang memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama tokoh pewayangan, seperti Arjuna, Nakula, Sadewa,atau menggunakan nama-nama dalam bahasa sansekerta.
Nama adalah doa dan harapan. Misalnya, Sugiharto, dengan harapan kalau besar nanti anaknya akan menjadi orang kaya.Sugih berarti kaya dan Arto berarti harta. Atau, Suharto, yang berarti orang yang bisa mencari harta agar hidupnya makmur dan indah.
![]() |
| Makna di Balik Nama |
Demikianlah, jika dikaji lebih dalam, nama memiliki kekuatan magis dalam arti kandungan makna dan doa orangtua yang akan berpengaruh pada pertumbuhan jiwa anak. Terlebih lagi, jika sebelum memberikan nama, didahului dengan berpuasa, mengadakan tasyakuran dan doa bersama agar makna dan doa yang terkandung di dalam nama yang diberikan bagaikan energi dan cetak biru bagi masa depan sang anak.
Nama-nama di lingkungan kraton sangat kosmologis , misalnya Mangkubumi, Hamengkubuwono, Paku Alam dan semacamnya yang konotasinya sangat jelas, yaitu sebagai penyangga dan penjaga jagat raya agar tidak gonjang ganjing. Nama-nama ini juga menunjukkan filosofi dibaliknya, para raja Jawa menganggap jabatan penguasa sebagai anugerah dan amanat Tuhan untuk menjaga ketentraman bumi, bukan pilihan rakyat sebagainmana dalam alam demokrasi.
Konon, anak sakit-sakitan bila namanya yang tidak sesuai atau tidak cocok. Demi kebaikan sang anak atau alasan kesehatan biasanya orangtua dan tetangga sering memberi saran agar nama anak itu diubah. Nama baru atau tambahan yang paling populer adalah slamet, dengan harapan anaknya sehat dan hidupnya selamat oleh karena itu, nama slamet cukup banyak dipakai di lingkungan masyarakat jawa.
Sampai hari ini masih sering beredar kepercayaan bahwa untuk menjadi presiden mestilah orang jawa tulen. Paling tidak ada tiga alasan yang mendasarinya. Pertama, penduduk jawa adalah mayoritas. Kedua, diharapkan masih memiliki darah biru atau garis keturunan raja. Ketiga, orang jawa dinilai lebih bijak, akomodatif, dan tidak senang konfrontasi. Sebuah sikap yang cocok bagi masyarakat Indonesia yang majemuk. Dari ketiga ciri tersebut, masih ada satu lagi, yaitu namanya harus khas priyayi jawa, seperti soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono. Kalau namanya tidak mencerminkan priyayi jawa posisi mereka di anggap sekedar selingan, misalanya Habibie, Abdurahman Wahid dan megawati.
Akhir-akhir ini muncul tren baru bagaimana orangtua memberi nama anak-anaknya. Hal ini terjadi terutama dikalangan pasangan muda kota yang terpelajar. Selain nama inti, biasanya nama yang diberikan kepada anak-anak mereka agak panjang, mengandung berbagai unsur yang dikombinasikan. Misalnya unsur gabungan nama ayah dan ibunya, Kemudian, ada unsur tempat dan bulan kelahiran. Nama inti sering di ambil dari tokoh-tokoh teladan yang dikagumi orangtuanya, baik dalam sejarah maupun kitab suci, lalu diubah sehingga terasa modern dan enak didengar. Unsur rasa modern dan funky kelihatnnya menjadi pertimbangan pasangan muda dalam memberi nama putra-putrinya.
Pada generasi kakek-nenek, mereka memberi nama anak-anak mereka misalnya dengan nama Jamilah. Sekarang, namanya diubah menjadi Jameela. Nama Anisah diubah menjadi Anisa, Maryam menjadi Maria, dan sterusnya. Pada dasarnya, maknanya tidak berubah, tetapi bunyinya dipandang lebih berabu kota dan terpelajar.
Jadi, renungkan baik-baik dan sertai doa serta harapan ketika Anda memberi nama kepada putra -putri tercinta.
