Advertisement
Habis ini kakak les ya, Ma? Kalimat itu selalu ditanyakan cita (5 tahun) setiap pulang sekolah ekspresinya datar, namun tatap tersirat nada harap-harap cemas. Begitu mendapat jawaban bahwa hari ini les libur, ekpresinya langsung berubah total "Yes aku bisa main!" sambil berjingkrak meninggalkan mamanya. Hal seperti ini yang membuat resah. Dulu Cita memaksa ikut les Bahasa Inggris katanya dia pengen ke desneyland, jadi harus bisa bahasa Inggris. Keluarga pun menyambut baik permintaan Cita. Saiapa sih yang tidak pengen anaknya cas cis bahasa asing. Pada awalnya Cita begitu semangat berangkat les, tapi sekarang jangankan semangat, kalau bisa diterjemahkan, maka Cita seolah mengatakan "Aku gak mau berangkat les lagi" Hampir satu tahun Cita les, namun dia tidak pernah cerita bagaimana serunya saat les. Memang Cita bukan tipe anak yang hebat bercerita, namun sepertinya dia tidak begitu menikmati kegiatan lesnya . Kemampuan Bahasa Iggrisnya juga tidak mengalami lompatan yang signifikan, biasa saja. Mama mulai bimbang menghadapi situasi ini, kalau berhenti rasanya sayang karena bahasa Inggris pasti dibutuhkan untuk masa depan. Namun melihat Cita berangkat les tanpa semangat dan hasilnya begitu-begitu saja, rasanaya juga kasihan. Apalagi dia mendapat laporan dari pembantunya kalau cita pernah menangis dan bilang nggak mau les lagi.
BERIKAN SESUAI KEBUTUHAN
Dalam prinsip pengasuhan dan pendidkan, orang tua hendaknya memberikan sesuai dengan kebutuhan anak. Saat anak meminta sesuatu kepada orang tua. apakah itu mencerminkan kebutuhannya dan orang tua harus selalu mengabulkannya? Karena permintaan hanya berbeda tipis dengan kebutuhannya. Orang tua yang bijak hendaknya mencerna terlebih dahulu dan memastikan bahwa yang diberikan benar kebutuhannya. Seorang bayi menangis, menunjukkan bahwa dia sedang mengajukan permintaan. Orang tua akan mencerna terlebih dahulu arti tangisan tersebut, apakah bayi kehausan, membutuhkan makanan, kepanasan, buang air, atau bahkan kesakitan. Sehingga tangisan bayi akan reda saat orangtua tepat memberikan kebutuhannya.
Saat anak sudah bisa berbicara menyampaikan permintaannya, apakah itu mencerminkan kebutuhannya? Bagaimana bila anak menangis dan berterial-teriak meminta mainan di mall? Orang tua yang bijak hendaknya mencerna arti ucapan, teriakan atau bahkan tangisan si anak. Apakah itu merupakan keinginan emosionalnya atau benar-benar kebutuhannya? Tak jarang orangtua mengabulkan permintaan anak bukan dengan dasar kebutuhannya, tapi untuk mempercepat penyelesaian masalah supaya diam, tidak rewel atau bahkan membuat malu orang di mall.
KEBUTUHAN SIAPA?
Bagaimana dengan kasus Cita? Apakah les yang dimabilnya merupakan kebutuhan atau tidak? Pada masa usia dini, orang tua hendaknya memberikan kegiatan yang bermakna bagi anak sesuai dengan perkembanagnnya. Kegiatan yang dilaukan anak, diharapkan merupakan investasi pengetahuan dimasa yang akan datang. Jangan buang waktunya percuma untuk kegiatan yang tidak membuat dirinya berbahagiah karena melakukannya dengan terpaksa. Karena akan sulit tersimpan dalam memori jangka panjang.
Apakah Bahasa Inggris tidak penting bagi Cita? Lebih baik dilihat terlebih dahulu kondisi lingkungannya. Bila sekolah Cita berpengantar Bahasa Inggris, dan dirumah orangtua tak jarang menggunakannya untuk berkomunikasi, Les Bahsa Inggris bisa jadi pendukung untuk mengasah keterampilannya. Namun, bila dia bersekolah dengan Bahsa Indonesia dan dirumah jarang digunakan Bahasa Inggris wajar saja kalau Ciat merasa tidak nyaman. Bahkan bisa jadi merasa tertekan karena harus belajar Bahasa Inggris seorang diri. Sementara orangtuanya tidak punya kewajiban semacam itu. Sama halnya dengan kasus les piano. Banyak orangtua mendaftar supaya anaknya jago main piano. Namun tak jarang ditemukan anak-anak yang frustasi karena harus berlatih. Kenapa akau harus berlatih setiap hari, sementara orang-orang di rumah dan teman yang lain tidak?
Pemeberian kegiatan pada anak usia dini hendaknya diperhatikan, apakah benar itu kebutuhan anak atau demi kebanggan orangtua? Jangan sampai demi kebanggaan, anak terpaksa ikut bermacam-macam kegiatan yang belum tentu bermakna dan membuatnya bahagiah. Hal ini seperti menyimpan bom waktu yang siap meledak suatu saat.
LES BUKAN JAMINAN SUKSES
Masa usia dini masa eksplorasi. Biarakan anak mencoba berbahagiah hal yang disenangi. Namun jangan kaget, bila dalam beberapa waktu dia sudah berpindah ke lain hati. Itu bukan hal yang aneh bila dia berganti-ganti kesenangan. Mengikuti berbagai les, tidak menjamin kesuksesannya dimasa depan. Bila anak menunjukkan ketertarikannya pada satu hal, maka tugas kita adalah mendukung dengan memberikan sarana dan lingkungan yang kondusif untuknya. Hingga satu saat dia akan menemukan hal yang paling diminatinya. Mari kita bantu anak kita menemukan kejeniusannya karena setiap anak adalah juara.
Apakah Bahasa Inggris tidak penting bagi Cita? Lebih baik dilihat terlebih dahulu kondisi lingkungannya. Bila sekolah Cita berpengantar Bahasa Inggris, dan dirumah orangtua tak jarang menggunakannya untuk berkomunikasi, Les Bahsa Inggris bisa jadi pendukung untuk mengasah keterampilannya. Namun, bila dia bersekolah dengan Bahsa Indonesia dan dirumah jarang digunakan Bahasa Inggris wajar saja kalau Ciat merasa tidak nyaman. Bahkan bisa jadi merasa tertekan karena harus belajar Bahasa Inggris seorang diri. Sementara orangtuanya tidak punya kewajiban semacam itu. Sama halnya dengan kasus les piano. Banyak orangtua mendaftar supaya anaknya jago main piano. Namun tak jarang ditemukan anak-anak yang frustasi karena harus berlatih. Kenapa akau harus berlatih setiap hari, sementara orang-orang di rumah dan teman yang lain tidak?
Pemeberian kegiatan pada anak usia dini hendaknya diperhatikan, apakah benar itu kebutuhan anak atau demi kebanggan orangtua? Jangan sampai demi kebanggaan, anak terpaksa ikut bermacam-macam kegiatan yang belum tentu bermakna dan membuatnya bahagiah. Hal ini seperti menyimpan bom waktu yang siap meledak suatu saat.
LES BUKAN JAMINAN SUKSES
Masa usia dini masa eksplorasi. Biarakan anak mencoba berbahagiah hal yang disenangi. Namun jangan kaget, bila dalam beberapa waktu dia sudah berpindah ke lain hati. Itu bukan hal yang aneh bila dia berganti-ganti kesenangan. Mengikuti berbagai les, tidak menjamin kesuksesannya dimasa depan. Bila anak menunjukkan ketertarikannya pada satu hal, maka tugas kita adalah mendukung dengan memberikan sarana dan lingkungan yang kondusif untuknya. Hingga satu saat dia akan menemukan hal yang paling diminatinya. Mari kita bantu anak kita menemukan kejeniusannya karena setiap anak adalah juara.
