Advertisement
Tahun ke tiga dalam kehidupan anak masih merupakan tahap belajar berjalan atau todddler. Masyarakat Barat menyebut anak yang baru belajar berjalan, bisanya usia 1-2 tahun, sebagai toddler. Tahap ini amat penting karena merupakan priode dimana seorang anak belajar dan bertumbuh kembang dalam banyak hal.
TIAP ANAK MEMANG BEDA
Tumbuh kembang anak pada tahap toddler sifatnya unik: anak-anak punya time-table-nya sendiri. Istilah lainnya, tiap anak punya kecepatannya sendiri, jadi boleh saja Anda mengacu pada berbagai diagram tumbuh kembang yang disusun para pakar khusus memastikan apakah si kecil berada didalam kurva. Tapi perlu Anda ketahui, diagram-diagram semacam itu hanya mengambarkan capaian rata-rata. Jadi, tidak berarti capaian si kecil harus sama persis seperti itu.
KESEMPATAN MENCOBA
Melatih anak mandiri memang bukan persoalan gampang. Sering kali orangtua bersikap ambivalen dalam menghadapi anak. Di satu pihak ia menuntut anak menjadi anak mandiri, namun sisi lain orangtua kurang konsisten anaknya mencoba.
Orangtua acapkali terlalu overprotecting terhadap anak. Dengan alasan tidak tega, anak dilarang melakukan sesuatu meskipun dia mampu. Tertutupnya kesempatan semacam ini, menjadikan anak tidak punya kesempatan untuk belajar dari sebuah kesalahan.
Untuk anak satu tahun misalnya, itu masa dimana anak mulai berjalan. Berikan kesempatan untuk melakukannya meski kadang memang jatuh. Tapi tidak apa-apa, karena dari keslahan itu dia belajar.
Masalah lain dari orangtua yang sering menjadikan penghambat munculnya ketidakmandirian ialah kurangnya kebebasab bagi anak untuk mengembangkan fikirannya. Dalam banyak kasus, saat si kecil melakukan sebauh kesalahan, orangtua akan cenderung untuk mengkritik dan menyalahkan.
Sayangnya, penilaian benar dan salah oleh orangtua itu lebih menggunakan sudut pandang sendiri yang tentu saja belum berlaku bagi si kecil. Para orangtua kadang tidak sadar bahwa terminolog benar dan salah dari orangtua tidak selamanya sesuai dengan kondisi anak saat ini.
BENAR VERSI ORANGTUA
Peranan orangtua dalam bermain ternyata sangat mempengaruhi bentuk kemandirian anak. Pada anak yang diberi kebebasan untuk mengembangkan pemikirannya, ternyata dia tumbuh menjadi lebih mandiri. Salah satu penelitian di USA dan Yogyakarta adalah permainan balok. Ibu-ibu di Amerika lebih memberi kebebasan anak untuk membuat bentuk apapun dengan balok tersebut. Tetapi tidak demikian dengan ibu-ibu di Yogyakarta, yang cenderung menggurui. Mereka takut orang akan mengatakan anaknya membentuk bangunan yang salah. Padahal tidak ada yang benar dan salah dalam hal ini.
Sikap yang selalu mengkritik dan menggurui seperti inilah yang sebenarnya awal dari munculnya perasaan tidak percaya diri pada si anak. Anak kemudian berkembang dengan jiwa menunggu perintah serta takut untuk melakukan kesalahan. Anak pada akhirnya muncul sebagai sosok yang tidak mampu menunjukkan kemandirian, meski sebenarnya sanggup melakukan sebuah pekerjaan.
Sikap bijaksana dari orangtua yang diperlukan dalan membentuk kemandirian anak. Orangtua juga tidak perlu bersikap terlalu menggurui. Berilah kebebasan bagi si kecil untuk menunjukkan segala keinginan dan Pikirannya. Jangan memotong pikiran sikecil ditengah jalan, karena akan menjadikan anak tidak mandiri dalam berpikir. Persoalan anak akan semakin rumit, saat gengsi orangtua ikut campur dalam perkembangan anak. Sebagian orangtua memaksa anak untuk dapat menjadi sok pintar, namun orangtua kemudian melupakan aspek lain pada anak.
MANDIRI SEJAK DINI
Untuk usia satu tahun, misalnya anak sudah dapat mulai belajar berjalan. Pada saat inilah orangtua harus mampu memberi kesempatan untuk si kecil berlatih berjalan. Meski kemudian ia harus menangis karena jatuh. Dari itulah kemudian si kecil akan mendapat pengalaman untuk mematangkan dirinya.
