Halloween party ideas 2015
Showing posts with label Permainan anak. Show all posts

Dunia berubah dan berkembang sedemikian cepat setiap harinya. Kemajuan media dan perangkat komunikasi adalah dua hal yang paling kita rasakan pengaruhnya pada kehidupan sehari-hari. Handphone misalnya, 10 tahun yang lalu masih merupakan barang langka namun sekarang benda plastik berukuran ini telah menjadi teman sejati manusia untuk bertelepon, membuat foto, mendengarkan musik, bermain games, dan bahkan untuk browsing di internet.

Perkembangan ini tentunya telah memberi perubahan besar dalam kehidupan maupun pengalaman hidup anak-anak kita. Masa kanak-kanak mengalami perubahan yang cukup signifikan. Kebanyakan anak sudah meninggalkan jenis-jenis permainan 'lama' seperti: memanjat dan bertengger di atas pohon, membuat benteng pasir, bermain di sungai, bersepeda di jalan, menjaga keseimbangan tubuh di atas batu, mengukur kakuatan fisik dengan teman sebaya, atau pun menjatuhkan diri dan berguling di atas bukit ke bawah dengan gembira. Anak-anak zaman sekarang, lebih sering melewatkan masa kanak-kanak di rumah dengan berbvagai kegiatan seperti: menonton televisi, bermain komputer, bemain playstation, atau pun permainan elektronik lainnya. Tentunya hal ini juga membawa damapak positif untuk memenuhi keingintahuan mereka terhadap teknologi dan informasi.

Oleh karena itulah, perkembangan kemampuan anak terutama dalam teknologi dewasa ini sangat mengagumkan. Tak perlu heran bila pada usia 7 tahun banyak dari mereka yang telah menguasai berbagai informasi dan pengetahuan tentang dunia, lebih unggul daripada kakek dan nenek di rumah. Bahkan, di usia dini, banyak anak yang telah mengerti 2 sampai 3 bahasa dengan sendirinya, tanpa sadar dari televisi. Selain itu mereka juga mampu memakai peralatan teknik modern dengan luar biasa cekatan. Pada satu sisi, anak-anak menjadi jauh lebih cerdas dan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Namun di sisi lain, kami mengamati adanya peningkatan jumlah siswa yang mengalami masalah gangguan belajar, seperti: masalah konsentrasi serta kesulitan dalam proses membaca, menulis, dan berhitung. 
Aktivitas Fisik Pengaruhi Kemampuan Matematika Anak

Tahapan Pengembangan Kemampuan Belajar Anak

Hasil observasi mencatat, saat ini, 15-20% dari siswa da dalam kelas reguler mengalami gangguan belajar. Masalah yang paling terlihat adalah gangguan koordinasi. Pada pelajaran olahraga, misalnya. Sebuah gerakan koprol sederhana atau aktivitas senam dengan alat yang membutuhkan kepekaan gerakan tubuh, tercatat mempunyai risiko cidera yang cukup tinggi. Bertambahnya angka kecelakaan dalam pelajaran ini, menjadikan tantangan utama bagi tiap guru olahraga olahraga untuk menguasai teknik penyelamatan siswa, walaupun pada akhirnya sering berujung pada penghentian aktivitas tersebut.

Menjaga keseimbangan bergerak pada usia 1 tahun, diawali dengan kemampuan menggerakkan mata, menyeimbangkan tubuh, dan kemampuan untuk berdiri. Kemampuan dasar ini sangat penting dikuasai untuk kelanjutan tingkat perkembangan berikutnya di usia 2-3 tahun, dimana titik beratnya adalah daya dan rentang konsentrasi seorang anak, serta kemampuannya untuk bergerak.

Daya konsentrasi dan kemampuan bergerak merupakan dasar langkah berikutnya di usia 4-6 tahun, dimana anak mulai mengembangkan daya ingat dan kemampuan berinteraksi. Tahapan ini merupakan dasar dari kemampuan tingkat berikutnya, yaitu kemampuan berkonsentrasi dan sebagainya, yang sangat penting dalam mencapai kesuksesan akademik. Maka secara garis besar dapat disimpulkan, bahwa kemampuan dasar seorang anak merupakan syarat utama untuk menuju kemampuan yang lebih kompleks. Dan di lain pihak dapat disimpulkan pula bahwa salah satu penyebab gangguan konsentrasi adalah kurangnya koordinasi/keseimbangan tubuh seorang anak.

Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kemampuan Matematika

Dari penjabaran diatas, maka dapat dikatakan bahwa penyebab masalah ketidakberhasilan siswa di sekolah, terutama dalam pelajaran yang memerlukan konsentrasi tinggi seperti matematika, adalah kurangnya pengalaman latihan motorik keseimbangan tubuh yang secara langsung berdampak pada kurangnya koordinasi tubuh dan lemahnya koordinasi mata-tangan. 

Koordinasi tubuh bukanlah bakat, melainkan dapat dikuasai melalui latihan. Pada umumnya anak-anak belajar koordinasi tubuh melalui aktivitas fisik, seperti: memanjat pohon, menjaga keseimbangan diatas batu, dan bahkan anak dapat belajar dari pengalaman jatuh dalam usahanya untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Meskipun kurangnya koordinasi tubuh dan anak sangat dapat terlihat dalam pelajaran olahraga, namun hal ini juga berdampak pada mata pelajaran lainnya. hambatan dalam belajar matematika, contohnya, sering disebabkan oleh kurangnya baiknya koordinasi tubuh anak. Mungkin terdengar sangat janggal. Namun metode mengatasi masalah belajar matematika dapat dilakukan melalui latihan keseimbangan diatas batu selama satu jam bersama dengan anak.

Maka dari itu, para pakar (perkembangan anak) mengatakan bahwa anak-anak yang dapat dengan tangkas menyelamatkan dirinya ketika terjatuh, sebenarnya telah menguasai persyaratan untuk berhasil dalam pelajaran matematika. Dalam hal ini, anak yang dapat tangkas jatuh tanpa mencelakakan diri sendiri, secara tidak langsung mempunyai kesadaran terhadap penguasaan keseimbangan tubuh dalam proses jatuh tersebut.

Koordinasi Tubuh dan Koordinasi Mata-Tangan
Tentunya kemampuan penguasaan keseimbangan diri ini akan sangat terbantu oleh kerja otot dan tendon (motorik kasar) yang terlatih serta kekuatan fungsi indra peraba yang di dukung pula oleh kemampuan visual yang baik lewat koordinasi mata-tangan yang sempurna. Keseluruhan hubungan ini,sekali lagi, dapat dengan mudah dijelaskan dengan contoh sebagai berikut:Apakah koordinasi mata-tangan itu?. Anak kecil akan belajar apa yang dirasakan, dengan tangan. Langkah yang dialami yaitu; (1) meraba (2) bergerak (3) melihat benda yang berbeda bentuk, dan (4) mengerti.

Namun, lemahnya koordinasi mata-tangan menyebabkan anak sulit untuk mengerti berbagai hal. Padahal pada dasarnya, koordinasi tubuh merupakan dasar kemampuan untuk bergerak. Contohnya; untuk mengangkat tangan, seorang anak harus memiliki pengetahuan tentang tangan, selain harus pula mempunyai otot tangan yang kuat untuk menggerakkannya. Disamping itu, koordinasi tubuh yang baik akan menunjang pula perkembangan kemampuan berimajinasi anak. Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah, bahwa kemampuan diatas, yaitu koordinasi tubuh dan koordinasi mata tangan,merupakan syarat dasar untuk melatih perspektif depan-belakang, yang dapat membangun kejelian anak dalam melihat sebuah bentuk dasar.

Seorang anak dengan koordinasi mata-tangan yang tidak terbentuk dengan baik, hanya dapat belajar mengembangkan persepsi depan-belakang dengan terbatas. Ketidakmampuan anak untuk melihat gambar angsa pada garis-garis lengkung yang mengelilinginya dapat menjadi contoh. Kejelian melihat bentuk dasar merupakan syarat dalam mengukur kemampuan untuk memahami dan menyadari suatu hal, terlebih lagi yang abstrak.

Tak Perlu Mahal: Pohon Dan Batu Dapat Membantu!
Bila orangtua atau para pendidik telah menyadari langkah perkembangan pembelajaran yang penting bagi anak, maka sudah seharusnya kita memberikan kesempatan seluas-luasnya pada mereka untuk membangun fisik yang kuat melalui barbagai kegiatan. Salah satunya dapat dilakukan melalui pendidikan olahraga yang optimal.

Di beberapa sekolah, kesadaran akan pentingnya hubungan antara keberhasilan akademik dan koordinasi tubuh telah difasilitasi dan dikembangkan dalam bentuk kegiatan atau program yang mengintergrasikan kedua hal tersebut bagi siswa sedini mungkin. Mulai dari Taman Kanak-Kanak, sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas.

Pada pelajaran olahraga misalnya. penggunaan balok rintangan pada trek lari yang disusun secara khusus, di bawah bimbingan guru, memungkinkan siswa berlatih mengembangkan keseimbangan tubuh. Dan hasilnya sangat mengagumkan, dimana siswa lambat laun menjadi lebih berani mencoba dan mengambil resiko untuk memanjat pohon, dengan penuh kepercayaan diri.

Di sisi lain, hal ini sangat menunjang siswa dalam memahami materi akademik mereka, yang dari hari ke hari semakin penuh tantangan. Para pendidik merasa lebih tertantang untuk memberikan variasi soal matematika dengan banyak tingkat kesulitan yang semakin tinggi setiap harinya. Hal ini dimungkinkan oleh peningkatan kemampuan siswa dalam berkonsentrasi yang secara tidak langsung meningkatkan daya nalar mereka ketika menghadapi sebuah permasalahan.

Tentunya merupakan hal yang berharga bila anak-anak dibekali dengan pengalaman tersebut sejak dini. Apalagi bila dapat dilakukan bersama orang tua mereka. Sudah seharusnya orang tua menyadari, Bahwa aktifitas fisik dan pengalaman berolah tubuh memiliki arti yang luar biasa bagi perkembangan anak. Dengan kata lain, seorang anak sebaiknya menghabiskan waktunya untuk bermain dan berolahraga lebih banyak daripada duduk diam di depan televisi, komputer atau playstation. Bila memungkinkan, sebaiknya orangtua menyediakan sarana yang memberikan kesempatan anak dapat melakukan aktifitas gerak badan sekaligus belajar untuk mengenal tubuh mereka.

Semua alat bermain yang menunjang perkembangan keseimbangan tubuh, meskipun sangat sederhana, seperti pohon dan batu yang disediakan gratis oleh alam, akan membawa makna yang sangat berguna bagi keberhasilan anak, bukan hanya dalam pelajaran matematika, namun lebih dari itu, dalam semua aspek kehidupan.

Tahun ke tiga dalam kehidupan anak masih merupakan tahap belajar berjalan atau todddler. Masyarakat Barat menyebut anak yang baru belajar berjalan, bisanya usia 1-2 tahun, sebagai toddler. Tahap ini amat penting karena merupakan priode dimana seorang anak belajar dan bertumbuh kembang dalam banyak hal.

TIAP ANAK MEMANG BEDA
Tumbuh kembang anak pada tahap toddler sifatnya unik: anak-anak punya time-table-nya sendiri. Istilah lainnya, tiap anak punya kecepatannya sendiri, jadi boleh saja Anda mengacu pada berbagai diagram tumbuh kembang yang disusun para pakar khusus memastikan apakah si kecil berada didalam kurva. Tapi perlu Anda ketahui, diagram-diagram semacam itu hanya mengambarkan capaian rata-rata. Jadi, tidak berarti capaian si kecil harus sama persis seperti itu.


KESEMPATAN MENCOBA
Melatih anak mandiri memang bukan persoalan gampang. Sering kali orangtua bersikap ambivalen dalam menghadapi anak. Di satu pihak ia menuntut anak menjadi anak mandiri, namun sisi lain orangtua kurang konsisten anaknya mencoba.

Orangtua acapkali terlalu overprotecting terhadap anak. Dengan alasan tidak tega, anak dilarang melakukan sesuatu meskipun dia mampu. Tertutupnya kesempatan semacam ini, menjadikan anak tidak punya kesempatan untuk belajar dari sebuah kesalahan.

Untuk anak satu tahun misalnya, itu masa dimana anak mulai berjalan. Berikan kesempatan untuk melakukannya meski kadang memang jatuh. Tapi tidak apa-apa, karena dari keslahan itu dia belajar.
Tahun ke tiga dalam kehidupan anak masih merupakan tahap belajar berjalan atau todddler. Masyarakat Barat menyebut anak yang baru belajar berjalan, bisanya usia 1-2 tahun, sebagai toddler. Tahap ini amat penting karena merupakan priode dimana seorang anak belajar dan bertumbuh kembang dalam banyak hal.

Masalah lain dari orangtua yang sering menjadikan penghambat munculnya ketidakmandirian ialah kurangnya kebebasab bagi anak untuk mengembangkan fikirannya. Dalam banyak kasus, saat si kecil melakukan sebauh kesalahan, orangtua akan cenderung untuk mengkritik dan menyalahkan.

Sayangnya, penilaian benar dan salah oleh orangtua itu lebih menggunakan sudut pandang sendiri yang tentu saja belum berlaku bagi si kecil. Para orangtua kadang tidak sadar bahwa terminolog benar dan salah dari orangtua tidak selamanya sesuai dengan kondisi anak saat ini.

BENAR VERSI ORANGTUA
Peranan orangtua dalam bermain ternyata sangat mempengaruhi bentuk kemandirian anak. Pada anak yang diberi kebebasan untuk mengembangkan pemikirannya, ternyata dia tumbuh menjadi lebih mandiri. Salah satu penelitian  di USA dan Yogyakarta adalah permainan balok. Ibu-ibu  di Amerika lebih memberi kebebasan anak untuk membuat bentuk apapun dengan balok tersebut. Tetapi tidak demikian dengan ibu-ibu di Yogyakarta, yang cenderung menggurui. Mereka takut orang akan mengatakan anaknya membentuk bangunan yang salah. Padahal tidak ada yang benar dan salah dalam hal ini.

Sikap yang selalu mengkritik dan menggurui seperti inilah yang sebenarnya awal dari munculnya perasaan tidak percaya diri pada si anak. Anak kemudian berkembang dengan jiwa menunggu perintah serta takut untuk melakukan kesalahan. Anak pada akhirnya muncul sebagai sosok yang tidak mampu menunjukkan kemandirian, meski sebenarnya sanggup melakukan sebuah pekerjaan.

Sikap bijaksana dari orangtua yang diperlukan dalan membentuk kemandirian anak. Orangtua juga tidak perlu bersikap terlalu menggurui. Berilah kebebasan bagi si kecil untuk menunjukkan segala keinginan  dan Pikirannya. Jangan memotong pikiran sikecil ditengah jalan, karena akan menjadikan anak tidak mandiri dalam berpikir. Persoalan anak akan semakin rumit, saat gengsi orangtua ikut campur dalam perkembangan anak.  Sebagian orangtua memaksa anak untuk dapat menjadi sok pintar, namun orangtua kemudian melupakan aspek lain pada anak.

MANDIRI SEJAK DINI
Untuk usia satu tahun, misalnya anak sudah dapat mulai belajar berjalan. Pada saat inilah orangtua harus mampu memberi kesempatan untuk si kecil berlatih berjalan. Meski kemudian ia harus menangis karena jatuh. Dari itulah kemudian si kecil akan mendapat pengalaman untuk mematangkan dirinya. 
Powered by Blogger.