Halloween party ideas 2015
Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts

Perubahan perilaku anak karena pengaruh aliran yang mengatas namakan agama tertentu, memang bukan perkara mudah menghadapinya. Apalagi bila orangtua tidak memiliki dasar-dasar pendidikan agama yang mumpuni. Jangankan membendung desakan aliran tersebut pada anak, sekedar untuk memastikan apakah aliran itu sesat atau bukan, sudah persoalan sendiri.


Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang diartikan sesat adalah ketika aliran tersebut sudah bertentangan dengan Al Quran dan Hadist. Selain itu ada pokok-pokok agama yang berbeda dengan dengan ajaran yang sebenarnya seperti rukun Islam, rukun islam, rukun imam, syahadat, puasa, zakat, dan lain-lain. Lebih jelasnya terdapat 10 ciri dimana aliran sesat tersebut dapat dikatakan sebagai aliran sesat.

Diantaranya, mengingkari rukun Islam dan Iman, meyakini aqidah yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, mengakui adanya wahyu setelah Al-Quran, mengingkari kebenaran isi Al-Quran, membuat tafsiran baru yang tidak menurut kaidah penafsiran, mengingkari kedudukan Hadist nabi Muhammad, menghina para nabi dan rasul, mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, mengubah atau menambah pokok-pokok ibadah, dan mengkafirkan sesama muslim.

Lindungi Anak Dari Aliran Sesat

Fenomena aliran sesat bukan hanya dihadapi kaum Muslim, agama lain menghadapi permasalahan yang sama. Misalnya kristen, Ada dua pengaruh masuknya aliran sesat ini. pertama, masuknya pengaruh konteks budaya atau agama setempat. Kedua, adanya kekosangan atau kekurangan tertentu dalam gereja asalnya.

Muncul silih berganti
Hadirnya aliran-aliran yang dianggap menyimpang sebenarnya sudah sejak lama, sempat beredar dan berkembang di Indonesia. Tumbuhnya aliran sesat ini antara lain dipicu oleh beberapa persoalan didalam sebuah negara. Sebab munculnya aliran yang dianggap sesat bukan hanya di Indonesia , tetapi juga diluar negeri. Amerika sekalipun bisa dimasuki oleh aliran- aliran yang dianggap sesat ini, tetapi jenis dan bentuknya yang berbeda.

Biasanya aliran ini muncul ketika ada orang-orang yang sedang kehilangan pegangan, dan mencari seorang tokoh yang berkharisma. khususnya para generasi muda yang membutuhkan dan mencari tokoh yang bisa diandalkan untuk diikuti. Munculnya seorang tokoh kharismatik ditengah-tengah keadaan yang kacau, seperti hukum yang tidak berlaku, nilai-nilai yang tidak jelas dan lain-lain, akan mudah menjerumuskan orang-orang tersebut. Apalagi kaum muda remaja yang sangat mudah terpengaruh akan aliran seperti ini. Tetapi yang perlu diperhatikan ternyata bukan hanya kaum muda saja terpengaruh, orangtua dan tokoh agama juga banyak yang terpengaruh oleh aliran-aliran yang dianggap sesat ini.

Penyebab berbagai aliran sesat ini, pada umumnya menjadikan remaja dan pelajar sebagai target. Dengan bermodalkan kepiawaian dalam berkomunikasi dan sangat persuasif dalam mengajak, para utusan aliran tersebut berusaha masuk ke kalangan remaja. Apalagi biasanya kelompok beraliran sesat ini mempunyai motif materi dan motif ekonomi, sehingga masyarakat yang menginginkan jalan pintas untuk mendapatkan kebahagian biasanya mudah terpengaruh. misalnya, dengan Rp. 400 Ribu bisa masuk surga, atau jemaat yang dapat merekrut jemaat baru alan mendapatkan beberapa ratus ribu, dan lain-lain.

Masa remaja memang masa dimana seorang anak sedang mencari jati dirinya, berusaha mencari teman, berusaha lepas dari pengaruh orangtua dan berpetualang mencari eksistensi diri. Aliran-aliran fundamintalis cenderung berupaya merekrut anak usia remaja, karena mereka masih dalam pembentukan diri, dan sangat tertarik dengan hal baru. Pada usia ini anak mentransformasikan semua informasi yang masuk dan kemudian akan menentukan sikapnya. Namun mereka cenderung lebih tertarik pada sesuatu yang baru yang mereka anggap militan.

Ada beberapa hal yang diperlihatkan si anak ketika sudah terpengaruh sesuatu. Diantaranya, terjadi perubahan drastis pada si anak. Misalnya, anak yang tadinya sangat komunikatif, jadi sering mengurung diri atau malah sering pergi sendiri. Selain itu anak seperti itu memiliki rahasia yang pantang diketahui atau share kepada anggota keluarga, suka menyendiri, sering merenung, dan biasanya tidak mau menjelaskan apa yang sedang mereka alami.

Bentengi anak
Bukan hanya gejala yang harus diperhatikan, peran orangtua sangat diperlukan untuk melindungi anak dari jerat aliran sesat. Hal utama yang harus dilakukan oleh orangtua adalah komunikasi dua arah dengan anak, terbuka. Membekali anak dengan spiritual yang kuat, serta berusaha mengetahui ajaran-ajaran yang sedang berkembang saat ini. Yang juga penting adalah memperhatikan isi kamar anak karena biasanya mereka mengikuti aliran-aliran seperti ini senang membaca buku-buku spiritual dan religius.

Proses penyebaran biasanya dilakukan melalui berbagai kegiatan keagamaan dengan materi kajian agama, penjabaran, dan kemudian di ikuti proses penyesatan. oleh karena itu orangtua perlu memberi pemahaman kepada anak agar tidak mudah percaya kepada orang lain yang menjanjikan kemudahan dan kepastian.

Pada dasarnya orang tua mengetahui akan pentingnya hubungan dan kedekatan antara anak-anak dengan mereka. Banyak penelitian menunjukkan bahwa, pada dasarnya sebagian besar orang tua menyatakan bahwa menghabiskan waktu dan demi kedekatan dengan anak bisa menjadi hal yang lebih penting di banding hal lainnya. Pada intinya bahwa antara orang tua dan anak saling membutuhkan rasa cinta dan kasih sayang satu samai lainnya, dan hal itu tidak dapat dipungkiri adanya. Banyak orang tua dan anak merasakan bila rasa cinta dan kasih sayang tidak di dapat dari satu sama lainnya, maka keharmonisan keluarga serasa tidak lengkap.

Namun dilain sisi, banyak hubungan antara orang tua dan anak menjadi terbengkalai, dan hal ini memicu ketidak harmonisan dalam keluarga, bahkan akan menjadi sesuatu yang tidak baik bagi perkembangan psikologis anak. Banyak hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi, salah satunya adalah karena tuntutan ekonomi dan pekerjaan lah yang membuat orang tua kehilangan waktu untuk dapat bersama dengan anak. Kadang dikarenakan kesibukan, orang tua harus pergi pagi-pagi secara terburu-buru karena pekerjaannya dan pulang ke rumah tatkala anak-anak sudah tertidur. Jika kondisi memang demikian, salah satu cara yang bisa dilakukan orang tua untuk dapat mendekatkan hubungan dengan anak meski memiliki waktu sedikit adalah dengan cara memeluk anak.

Pelukan orang tua kepada anak dapat menimbulkan ikatan batin dan kasih sayang yang kuat antara anak dan orang tua. Mendapat pelukan berarti mendapat dukungan, dan bagi yang memeluknya berarti akan menimbulkan rasa percaya diri. Kehadiran hormon endomorfin yang muncul saat berpelukan dapat mengurangi ketegangan saraf dan serta tekanan darah.

Manfaat Pelukan Orangtua Bagi perkembangan Psikologis Anak

Bahkan penelitian di university of Itali menunjukkan data, bahwa anak yang sering mendapat pelukan dari orang tuanya akan lebih efektif sembuh dari depresi, dan akan timbul rasa percaya dirinya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Bahkan pelukan saat inisiasi dini, sesaat bayi terlahir ke dunia, akan mentransfer sejenis mikroorganisme yang membuat daya tahan tubuh bayi akan semakin kuat. Dan ketika pelukan dengan rasa sayang ini di teruskan hingga masa kanak-kanak dapat menjadikan pribadi anak yang tidak gampang stress (Penelitian Journal of Epidemiology and Community Health). Jangan percaya pada mitos yang mengatakan bahwa anak yang sering mendapat pelukan akan menjadi cengeng, bahkan sebaliknya, secara psikologi, anak yang sering mendapat belaian, sentuhan dan pelukan kasih sayang dari orang tuanya akan tumbuh menjadi anak yang penyayang, pertumbuhannya sehat, akan merasa nyaman dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi.


Peluklah anak anda sebelum anda berangkat kerja, toh memeluk anak tidak akan membutuhkan waktu yang begitu banyak. Peluklah yang tulus, jangan tergesa-gesa, curahkan segala rasa sayang dan cinta anda saat anda memeluk anak anda. Saat anda pulang kerja, meskipun anak sudah tertidur pulas, peluklah dia meskipun sedang tidur. Sesekali sisakan waktu untuk tidur bersamanya dan memeluknya. Meskipun berada di alam bawah sadar, pelukan orang tua saat tidur tetap dapat memerkuat bonding antara orang tua dan anak, karena saat mereka tidur, anak-anak masih berada dalam gelombang alpha, dimana masih bisa untuk menerima rangsangan dan getaran dari perasaan cinta dan kasih sayang orang tuanya.

Hampir tak ada anak yang patuh seratus persen kepada orangtua. Adakalanya sang anak membantah atau mengabaikan perkataan orangtuanya, seperti "nanti aja" atau "nggak mau" jadi kata pamungkas saat ia merasa tak sejalan dengan perasaannya. Wajarkah terjadi pada setiap anak?

Perkembangan emosi tentu dimulai sedari bayi. Misalnya anak usia di bawah 5 tahun menunjukkan emosinya melalui mimik muka. Jika senang mereka tertawa, jika sedih mereka menangis.

Semakin bertambahnya usia anak, perkembangan emosinya pun semakin kompleks. Jika anak usia 5 tahun mengekpresikan perasaan hanya senang dan sedih. Anak usia 5-9 tahun lebih kompleks dan sudah bercabang. Para orangtua, sebaiknya jangan terburu menghakimi anak, menyalahkan, atau mencap buruk sikap anak yang suka melawan. Karena bisa jadi anak yang suka melawan dan meledak kepada orangtuanya lantaran meniru gaya atau sikap yang sama dari salah satu orangtuanya. Oleh sebab itu orangtua harus memberi contoh sikap yang baik di depan anak. Jangan menunjukkan emosi berlebihan yang malah berdampak buruk bagi emosi anak. Kekeliruan adalah membiarkan sikap anaknya karena orangtuanya tak tahu harus melakukan apa.

Sebaikny berkomunikasilah secara tenang saat menghadapi anak yang sedang melawan. Lebih baik paparkan konsekuensi atas sikapnya ketimbang masih marah. Selain meniru tadi, umumnya sikap suka melawan bisa jadi disebabkan oleh pola asuh orangtua yang tak menjadikan anak terampil mengatsai emosinya misalnya otoriter dan memanjakan.
Duh, Kecil-kecil Suka Melawan?

5 Demensi keterampilan emosi yang harus anak kuasai.  Keterampilan berikut sebaiknya sudah diajarkan sejak anak berusia 2 tahun:

  • Kenali emosi. Bila anak menangis karena sedih atau kesal, katakan padanya "kakak menangis karena sedih ya?. Begitu juga ia marah-marah katakan "oh kakak sedang marah ya?"
  • Kendalikan emosi. Kadang anak-anak menggunakan tangisan sebagai cara paling cepat menunjukkan emosinya (marah, sedih, menginginkan sesuatu). Jika ia menangis sambil berkata-kata, maintalah ia hentikan tangisannya lebih dulu baru bicara.
  • Memahami orang lain. Beritahu sebauh alasan, jika sekali waktu ia menginginkan sesuatutapi ibu belum bisa memenuhinya.
  • Memotivasi diri. Ini salah satu yang sangat jarang dilakukan kebanyakan orangtua, biasanya bukan memotivasi tapi malah memarahi atau meladeni yang justru meruntuhkan kepercayaan dirinya.
  • Menjalin Relasi. Pahamkan pada anak, ia tak hidup sendirian. Ada orang lain yang juga perlu diperhatikan kebutuhannya sehingga ia perlu belajar memahami orang lain.

Sulit rasanya memisahkan si ABG dengan bantal butut kesayangannya. Jika ada yang berusaha mencuci atau membuang guling kesayangannya maka bisa jadi si anak akan marah besar. Meski guling kesayangannya itu sudah lusuh, baunya tidak enak, bekas air liur sudah membentuk peta pulau-pulau kecil. Biasanya bantal guling ini sudah menemani tidurnya sejak kecil, bahkan anak akan sulit tidur tanpa guling bututnya.

Ibu biasanya sudah kehabisan akal, bingung bagaimana cara supaya anak mau merelakan guling untuk dicuci. Maklum gulingnya sudah bertahun-tahun tanpa dicuci, khawatirnya dibantalnya ada bakteri atau kuman yang dapat mengganggu kesahatannya.

Demi Pertahankan Rasa Aman dan Nyaman.

Keterikatan anak pada benda-benda tertentu, seperti boneka, guling atau bantal adalah wajar di rentang usia tertentu dan dalam batasan perilaku tertentu. Umumnya berkait dengan kebutuhan anak pada munculnya perasaan nyaman dan aman. Perilaku itu juga merupakan model awal interaksi hubungan anak dengan ibunya dalam tugas perkembangannya.

Anak perlu mencapai rasa nyaman dan aman serta mampu mengalihkan model interaksi awal tersebut menjadi keterampilan beriteraksi dengan orang lain, terutama dengan lawan jenis di masa dewasanya.

Jika ada beberapa anak yang meski sudah lewat usia 9 tahun masih terikat pada benda-benda tadi, hal itu disebabkan  anak-anak itu masih belum mampu melakukan proses pengalihan yang seharusnya sudah dikuasainya.

Bayangkan jika suatu saat nanti ia harus menghabiskan waktu diluar rumah bersama teman-temannya, lalu masih membawa bantal guling lapuk hanya supaya tetap nyaman. Oleh sebab itu tingkah polah sepertiu itu harus dihentikan dengan cara yang menyenangkan . Terpenting ajarkan anak menegndalikan diri sendiri untuk merasa aman dan nyaman.

Biasakan Mengganti atau Menukar

Jika bantal guling atau selimut yang menjadi andalan sikecil, dianjurkan para orangtua membiasakan anak mengganti benda-benda itu secara priodik. Hal ini untuk membuktikan bahwa ia tetap bisa merasa nyaman dan aman dengan benda-benda yang lain, tak hanya dengan satu benda.

Orangtua juga perlu membiasakan anak dengan memahamkan anak pada perbedaan konsep bayi, anak kecil, anak besar, remaja, dan seterusnya. Dengan cara ini membuat anak mampu memahami konsep diri yang berbeda, tentu benda-benda nya juga harus berbeda. Misalnya, ada bantal bayi, ada bantal anak kecil dan seterusnya.
Cara Mengatsi Anak Sulit Berpisah Dengan Gulingnya

Namun tentu kareteristik setiap anak tak sama,  dan memaksa anak untuk berpisah dengan benda-benda kesayangannya secara mendadak juga bukan suatu tindakan yang bijaksana. Harus ada proses yang sistematik.

Alternatif Untuk Orangtua

  • Bernegosiasi untuk menukar bantal gulingnya, boneka, selimut denagn barang lain yang diminatinya sejak dini. Namaun jika proses penanaman minat di fase tumbuh kembang sebelumnya (antara 4-8 Tahun) tidak diciptkan, bisa jadi pada usia ini anak tak mempunyai minat apa pun terhadap hal apa pun yang membuat proses ini menjadi sulit.
  • Mengaitkan keberhasilan berpisah pada benda-benda tersebut dengan konsep anak pintar, anak besar, dan seterusnya. Cara ini akan menggerakkan anak mengadaptasi konsep tersebut dan akhirnya berkenan berpisah dengan barang kesayangannya.
  • Menjalanai progaram terapi khusus menciptakan rasa aman dan nyaman, misalnya relaksasi, sugesti, positif dan lain-lain demi mengatasi perasaan tak nyamannya.

Tahun ke tiga dalam kehidupan anak masih merupakan tahap belajar berjalan atau todddler. Masyarakat Barat menyebut anak yang baru belajar berjalan, bisanya usia 1-2 tahun, sebagai toddler. Tahap ini amat penting karena merupakan priode dimana seorang anak belajar dan bertumbuh kembang dalam banyak hal.

TIAP ANAK MEMANG BEDA
Tumbuh kembang anak pada tahap toddler sifatnya unik: anak-anak punya time-table-nya sendiri. Istilah lainnya, tiap anak punya kecepatannya sendiri, jadi boleh saja Anda mengacu pada berbagai diagram tumbuh kembang yang disusun para pakar khusus memastikan apakah si kecil berada didalam kurva. Tapi perlu Anda ketahui, diagram-diagram semacam itu hanya mengambarkan capaian rata-rata. Jadi, tidak berarti capaian si kecil harus sama persis seperti itu.


KESEMPATAN MENCOBA
Melatih anak mandiri memang bukan persoalan gampang. Sering kali orangtua bersikap ambivalen dalam menghadapi anak. Di satu pihak ia menuntut anak menjadi anak mandiri, namun sisi lain orangtua kurang konsisten anaknya mencoba.

Orangtua acapkali terlalu overprotecting terhadap anak. Dengan alasan tidak tega, anak dilarang melakukan sesuatu meskipun dia mampu. Tertutupnya kesempatan semacam ini, menjadikan anak tidak punya kesempatan untuk belajar dari sebuah kesalahan.

Untuk anak satu tahun misalnya, itu masa dimana anak mulai berjalan. Berikan kesempatan untuk melakukannya meski kadang memang jatuh. Tapi tidak apa-apa, karena dari keslahan itu dia belajar.
Tahun ke tiga dalam kehidupan anak masih merupakan tahap belajar berjalan atau todddler. Masyarakat Barat menyebut anak yang baru belajar berjalan, bisanya usia 1-2 tahun, sebagai toddler. Tahap ini amat penting karena merupakan priode dimana seorang anak belajar dan bertumbuh kembang dalam banyak hal.

Masalah lain dari orangtua yang sering menjadikan penghambat munculnya ketidakmandirian ialah kurangnya kebebasab bagi anak untuk mengembangkan fikirannya. Dalam banyak kasus, saat si kecil melakukan sebauh kesalahan, orangtua akan cenderung untuk mengkritik dan menyalahkan.

Sayangnya, penilaian benar dan salah oleh orangtua itu lebih menggunakan sudut pandang sendiri yang tentu saja belum berlaku bagi si kecil. Para orangtua kadang tidak sadar bahwa terminolog benar dan salah dari orangtua tidak selamanya sesuai dengan kondisi anak saat ini.

BENAR VERSI ORANGTUA
Peranan orangtua dalam bermain ternyata sangat mempengaruhi bentuk kemandirian anak. Pada anak yang diberi kebebasan untuk mengembangkan pemikirannya, ternyata dia tumbuh menjadi lebih mandiri. Salah satu penelitian  di USA dan Yogyakarta adalah permainan balok. Ibu-ibu  di Amerika lebih memberi kebebasan anak untuk membuat bentuk apapun dengan balok tersebut. Tetapi tidak demikian dengan ibu-ibu di Yogyakarta, yang cenderung menggurui. Mereka takut orang akan mengatakan anaknya membentuk bangunan yang salah. Padahal tidak ada yang benar dan salah dalam hal ini.

Sikap yang selalu mengkritik dan menggurui seperti inilah yang sebenarnya awal dari munculnya perasaan tidak percaya diri pada si anak. Anak kemudian berkembang dengan jiwa menunggu perintah serta takut untuk melakukan kesalahan. Anak pada akhirnya muncul sebagai sosok yang tidak mampu menunjukkan kemandirian, meski sebenarnya sanggup melakukan sebuah pekerjaan.

Sikap bijaksana dari orangtua yang diperlukan dalan membentuk kemandirian anak. Orangtua juga tidak perlu bersikap terlalu menggurui. Berilah kebebasan bagi si kecil untuk menunjukkan segala keinginan  dan Pikirannya. Jangan memotong pikiran sikecil ditengah jalan, karena akan menjadikan anak tidak mandiri dalam berpikir. Persoalan anak akan semakin rumit, saat gengsi orangtua ikut campur dalam perkembangan anak.  Sebagian orangtua memaksa anak untuk dapat menjadi sok pintar, namun orangtua kemudian melupakan aspek lain pada anak.

MANDIRI SEJAK DINI
Untuk usia satu tahun, misalnya anak sudah dapat mulai belajar berjalan. Pada saat inilah orangtua harus mampu memberi kesempatan untuk si kecil berlatih berjalan. Meski kemudian ia harus menangis karena jatuh. Dari itulah kemudian si kecil akan mendapat pengalaman untuk mematangkan dirinya. 
Powered by Blogger.