Advertisement
Dunia berubah dan berkembang sedemikian cepat setiap harinya. Kemajuan media dan perangkat komunikasi adalah dua hal yang paling kita rasakan pengaruhnya pada kehidupan sehari-hari. Handphone misalnya, 10 tahun yang lalu masih merupakan barang langka namun sekarang benda plastik berukuran ini telah menjadi teman sejati manusia untuk bertelepon, membuat foto, mendengarkan musik, bermain games, dan bahkan untuk browsing di internet.
Perkembangan ini tentunya telah memberi perubahan besar dalam kehidupan maupun pengalaman hidup anak-anak kita. Masa kanak-kanak mengalami perubahan yang cukup signifikan. Kebanyakan anak sudah meninggalkan jenis-jenis permainan 'lama' seperti: memanjat dan bertengger di atas pohon, membuat benteng pasir, bermain di sungai, bersepeda di jalan, menjaga keseimbangan tubuh di atas batu, mengukur kakuatan fisik dengan teman sebaya, atau pun menjatuhkan diri dan berguling di atas bukit ke bawah dengan gembira. Anak-anak zaman sekarang, lebih sering melewatkan masa kanak-kanak di rumah dengan berbvagai kegiatan seperti: menonton televisi, bermain komputer, bemain playstation, atau pun permainan elektronik lainnya. Tentunya hal ini juga membawa damapak positif untuk memenuhi keingintahuan mereka terhadap teknologi dan informasi.
Oleh karena itulah, perkembangan kemampuan anak terutama dalam teknologi dewasa ini sangat mengagumkan. Tak perlu heran bila pada usia 7 tahun banyak dari mereka yang telah menguasai berbagai informasi dan pengetahuan tentang dunia, lebih unggul daripada kakek dan nenek di rumah. Bahkan, di usia dini, banyak anak yang telah mengerti 2 sampai 3 bahasa dengan sendirinya, tanpa sadar dari televisi. Selain itu mereka juga mampu memakai peralatan teknik modern dengan luar biasa cekatan. Pada satu sisi, anak-anak menjadi jauh lebih cerdas dan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Namun di sisi lain, kami mengamati adanya peningkatan jumlah siswa yang mengalami masalah gangguan belajar, seperti: masalah konsentrasi serta kesulitan dalam proses membaca, menulis, dan berhitung.
Tahapan Pengembangan Kemampuan Belajar Anak
Hasil observasi mencatat, saat ini, 15-20% dari siswa da dalam kelas reguler mengalami gangguan belajar. Masalah yang paling terlihat adalah gangguan koordinasi. Pada pelajaran olahraga, misalnya. Sebuah gerakan koprol sederhana atau aktivitas senam dengan alat yang membutuhkan kepekaan gerakan tubuh, tercatat mempunyai risiko cidera yang cukup tinggi. Bertambahnya angka kecelakaan dalam pelajaran ini, menjadikan tantangan utama bagi tiap guru olahraga olahraga untuk menguasai teknik penyelamatan siswa, walaupun pada akhirnya sering berujung pada penghentian aktivitas tersebut.
Menjaga keseimbangan bergerak pada usia 1 tahun, diawali dengan kemampuan menggerakkan mata, menyeimbangkan tubuh, dan kemampuan untuk berdiri. Kemampuan dasar ini sangat penting dikuasai untuk kelanjutan tingkat perkembangan berikutnya di usia 2-3 tahun, dimana titik beratnya adalah daya dan rentang konsentrasi seorang anak, serta kemampuannya untuk bergerak.
Daya konsentrasi dan kemampuan bergerak merupakan dasar langkah berikutnya di usia 4-6 tahun, dimana anak mulai mengembangkan daya ingat dan kemampuan berinteraksi. Tahapan ini merupakan dasar dari kemampuan tingkat berikutnya, yaitu kemampuan berkonsentrasi dan sebagainya, yang sangat penting dalam mencapai kesuksesan akademik. Maka secara garis besar dapat disimpulkan, bahwa kemampuan dasar seorang anak merupakan syarat utama untuk menuju kemampuan yang lebih kompleks. Dan di lain pihak dapat disimpulkan pula bahwa salah satu penyebab gangguan konsentrasi adalah kurangnya koordinasi/keseimbangan tubuh seorang anak.
Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kemampuan Matematika
Dari penjabaran diatas, maka dapat dikatakan bahwa penyebab masalah ketidakberhasilan siswa di sekolah, terutama dalam pelajaran yang memerlukan konsentrasi tinggi seperti matematika, adalah kurangnya pengalaman latihan motorik keseimbangan tubuh yang secara langsung berdampak pada kurangnya koordinasi tubuh dan lemahnya koordinasi mata-tangan.
Koordinasi tubuh bukanlah bakat, melainkan dapat dikuasai melalui latihan. Pada umumnya anak-anak belajar koordinasi tubuh melalui aktivitas fisik, seperti: memanjat pohon, menjaga keseimbangan diatas batu, dan bahkan anak dapat belajar dari pengalaman jatuh dalam usahanya untuk menjaga keseimbangan tubuh.
Meskipun kurangnya koordinasi tubuh dan anak sangat dapat terlihat dalam pelajaran olahraga, namun hal ini juga berdampak pada mata pelajaran lainnya. hambatan dalam belajar matematika, contohnya, sering disebabkan oleh kurangnya baiknya koordinasi tubuh anak. Mungkin terdengar sangat janggal. Namun metode mengatasi masalah belajar matematika dapat dilakukan melalui latihan keseimbangan diatas batu selama satu jam bersama dengan anak.
Maka dari itu, para pakar (perkembangan anak) mengatakan bahwa anak-anak yang dapat dengan tangkas menyelamatkan dirinya ketika terjatuh, sebenarnya telah menguasai persyaratan untuk berhasil dalam pelajaran matematika. Dalam hal ini, anak yang dapat tangkas jatuh tanpa mencelakakan diri sendiri, secara tidak langsung mempunyai kesadaran terhadap penguasaan keseimbangan tubuh dalam proses jatuh tersebut.
Koordinasi Tubuh dan Koordinasi Mata-Tangan
Tentunya kemampuan penguasaan keseimbangan diri ini akan sangat terbantu oleh kerja otot dan tendon (motorik kasar) yang terlatih serta kekuatan fungsi indra peraba yang di dukung pula oleh kemampuan visual yang baik lewat koordinasi mata-tangan yang sempurna. Keseluruhan hubungan ini,sekali lagi, dapat dengan mudah dijelaskan dengan contoh sebagai berikut:Apakah koordinasi mata-tangan itu?. Anak kecil akan belajar apa yang dirasakan, dengan tangan. Langkah yang dialami yaitu; (1) meraba (2) bergerak (3) melihat benda yang berbeda bentuk, dan (4) mengerti.
Namun, lemahnya koordinasi mata-tangan menyebabkan anak sulit untuk mengerti berbagai hal. Padahal pada dasarnya, koordinasi tubuh merupakan dasar kemampuan untuk bergerak. Contohnya; untuk mengangkat tangan, seorang anak harus memiliki pengetahuan tentang tangan, selain harus pula mempunyai otot tangan yang kuat untuk menggerakkannya. Disamping itu, koordinasi tubuh yang baik akan menunjang pula perkembangan kemampuan berimajinasi anak. Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah, bahwa kemampuan diatas, yaitu koordinasi tubuh dan koordinasi mata tangan,merupakan syarat dasar untuk melatih perspektif depan-belakang, yang dapat membangun kejelian anak dalam melihat sebuah bentuk dasar.
Seorang anak dengan koordinasi mata-tangan yang tidak terbentuk dengan baik, hanya dapat belajar mengembangkan persepsi depan-belakang dengan terbatas. Ketidakmampuan anak untuk melihat gambar angsa pada garis-garis lengkung yang mengelilinginya dapat menjadi contoh. Kejelian melihat bentuk dasar merupakan syarat dalam mengukur kemampuan untuk memahami dan menyadari suatu hal, terlebih lagi yang abstrak.
Tak Perlu Mahal: Pohon Dan Batu Dapat Membantu!
Bila orangtua atau para pendidik telah menyadari langkah perkembangan pembelajaran yang penting bagi anak, maka sudah seharusnya kita memberikan kesempatan seluas-luasnya pada mereka untuk membangun fisik yang kuat melalui barbagai kegiatan. Salah satunya dapat dilakukan melalui pendidikan olahraga yang optimal.
Di beberapa sekolah, kesadaran akan pentingnya hubungan antara keberhasilan akademik dan koordinasi tubuh telah difasilitasi dan dikembangkan dalam bentuk kegiatan atau program yang mengintergrasikan kedua hal tersebut bagi siswa sedini mungkin. Mulai dari Taman Kanak-Kanak, sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas.
Pada pelajaran olahraga misalnya. penggunaan balok rintangan pada trek lari yang disusun secara khusus, di bawah bimbingan guru, memungkinkan siswa berlatih mengembangkan keseimbangan tubuh. Dan hasilnya sangat mengagumkan, dimana siswa lambat laun menjadi lebih berani mencoba dan mengambil resiko untuk memanjat pohon, dengan penuh kepercayaan diri.
Di sisi lain, hal ini sangat menunjang siswa dalam memahami materi akademik mereka, yang dari hari ke hari semakin penuh tantangan. Para pendidik merasa lebih tertantang untuk memberikan variasi soal matematika dengan banyak tingkat kesulitan yang semakin tinggi setiap harinya. Hal ini dimungkinkan oleh peningkatan kemampuan siswa dalam berkonsentrasi yang secara tidak langsung meningkatkan daya nalar mereka ketika menghadapi sebuah permasalahan.
Tentunya merupakan hal yang berharga bila anak-anak dibekali dengan pengalaman tersebut sejak dini. Apalagi bila dapat dilakukan bersama orang tua mereka. Sudah seharusnya orang tua menyadari, Bahwa aktifitas fisik dan pengalaman berolah tubuh memiliki arti yang luar biasa bagi perkembangan anak. Dengan kata lain, seorang anak sebaiknya menghabiskan waktunya untuk bermain dan berolahraga lebih banyak daripada duduk diam di depan televisi, komputer atau playstation. Bila memungkinkan, sebaiknya orangtua menyediakan sarana yang memberikan kesempatan anak dapat melakukan aktifitas gerak badan sekaligus belajar untuk mengenal tubuh mereka.
Semua alat bermain yang menunjang perkembangan keseimbangan tubuh, meskipun sangat sederhana, seperti pohon dan batu yang disediakan gratis oleh alam, akan membawa makna yang sangat berguna bagi keberhasilan anak, bukan hanya dalam pelajaran matematika, namun lebih dari itu, dalam semua aspek kehidupan.
