Advertisement
Kerapkali para orang tua mendapatkan informasi yang salah kaprah tentang pemberian kebutuhan suplemen pada anak. Anda sebagai orang tua harus dapat bersikap bijak terhadap hal-hal yang sangat riskan tersebut. Alangkah baiknya sebelum Anda memutuskan untuk memberikan suplemen, terdapat indikasi yang kuat kalau si anak memang membutuhkannya. Suplemen bukanlah makanan melainkan asupan tambahan bagi tubuh yang kekurangan akan zat gizi.
Selama mengonsumsi suplemen, Anda harus perhatikan benar dosis pemberiannya. Untuk membantu konsumen pada umumnya pihak produsen mencantumkan dosis dan aturan pakai pada setiapkemasan. Bahkan suplemen khusus untuk anak juga mencantumkan kategori usia anak.
Sebagai orangtua Anda tentunya menginginkan yang terbaik bagi anak kita, begitu pula dengan kesehatannya. Selain memberikan makanan yang sehat serta bergizi, suplemen akan memberikan tambahan asupan vitamin, mineral serta berbagai zat yang diperlukan si kecil di masa pertumbuhannya.
Tapi bagaimana sebenarnya pandangan ahli mengenai pemberian suplemen bagi anak? Menurut Jennifer Crain, seorang ahli akupuntur, herbalis serta ahli gizi, ternyata makanan sehat yang bervariasi adalah sumber terbaik dari vitamin dan mineral untuk bagi anak.
"Apabila anak dalam kondisi sehat, tanpa masalah kesehatan kronis, saya menganjurkan pemberian suplemen seminimum mungkin," papar Crain.

Sementara itu riset yang dilakukan UC Davis University, California, AS yang dipublikasikan pada jurnal Pediatric & Adolescent Medicine, menemukan kalau kebanyakan anak serta remaja di AS yang mengonsumsi vitamin serta suplemen setiap hari sebenarnya tak memerlukannya.
Sebaliknya studi ini justru menemukan kalau anak-anak yang membutuhkan vitamin dan suplemen justru tak memperolehnya. Hal ini seringkali terjadi pada anak-anak dengan keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi rendah.
Menurut ahli gizi, Dr Anatoly Belilovsky dari Americhoice Center of Excellence in pediatric care menyatakan sebenarnya 24 persen remaja AS kekurangan Vitamin D. Selain itu 10 hingga 30 persen balita AS juga kekurangan zat besi. Pendapat ini juga didukung survei dari USDA (Departemen Pertanian AS) kalau 60 persen anak usia hingga 11 tahun hanya 60 persen yang mendapatkan zat besi cukup.
Jika Anda akhirnya memilih memberikan suplemen serta vitamin pada si kecil tiap harinya, jangan lupa berikan asupan bervariasi yang sehat.
Begitu pula dengan aktivitas fisik yang cukup setiap hari. Menurut Dr Belilovsky, ketergantungan pada suplemen dan vitamin bisa berisiko pada kesehatan anak karena tak memberikan asupan yang cukup soal protein, karbohidrat, lemak atau serta yang menghasilkan energi.
"Vitamin dan suplemen juga tak dapat menggantikan tenaga yang dikeluarkan saat anak beraktivitas yang membutuhkan kekuatan kardio serta kemampuan berat," tegas Dr Belilovsky.
Kesimpulannya Anda bisa memberikan asupan yang bergizi dan bervariasi pada si kecil sekaligus memberikan vitamin serta suplemen agar si kecil berkembang dengan baik di masa pertumbuhannya. Cara memilih suplemen yang tepat untuk anak:
Selama mengonsumsi suplemen, Anda harus perhatikan benar dosis pemberiannya. Untuk membantu konsumen pada umumnya pihak produsen mencantumkan dosis dan aturan pakai pada setiapkemasan. Bahkan suplemen khusus untuk anak juga mencantumkan kategori usia anak.
Sebagai orangtua Anda tentunya menginginkan yang terbaik bagi anak kita, begitu pula dengan kesehatannya. Selain memberikan makanan yang sehat serta bergizi, suplemen akan memberikan tambahan asupan vitamin, mineral serta berbagai zat yang diperlukan si kecil di masa pertumbuhannya.
Tapi bagaimana sebenarnya pandangan ahli mengenai pemberian suplemen bagi anak? Menurut Jennifer Crain, seorang ahli akupuntur, herbalis serta ahli gizi, ternyata makanan sehat yang bervariasi adalah sumber terbaik dari vitamin dan mineral untuk bagi anak.
"Apabila anak dalam kondisi sehat, tanpa masalah kesehatan kronis, saya menganjurkan pemberian suplemen seminimum mungkin," papar Crain.

Sementara itu riset yang dilakukan UC Davis University, California, AS yang dipublikasikan pada jurnal Pediatric & Adolescent Medicine, menemukan kalau kebanyakan anak serta remaja di AS yang mengonsumsi vitamin serta suplemen setiap hari sebenarnya tak memerlukannya.
Sebaliknya studi ini justru menemukan kalau anak-anak yang membutuhkan vitamin dan suplemen justru tak memperolehnya. Hal ini seringkali terjadi pada anak-anak dengan keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi rendah.
Menurut ahli gizi, Dr Anatoly Belilovsky dari Americhoice Center of Excellence in pediatric care menyatakan sebenarnya 24 persen remaja AS kekurangan Vitamin D. Selain itu 10 hingga 30 persen balita AS juga kekurangan zat besi. Pendapat ini juga didukung survei dari USDA (Departemen Pertanian AS) kalau 60 persen anak usia hingga 11 tahun hanya 60 persen yang mendapatkan zat besi cukup.
Jika Anda akhirnya memilih memberikan suplemen serta vitamin pada si kecil tiap harinya, jangan lupa berikan asupan bervariasi yang sehat.
Begitu pula dengan aktivitas fisik yang cukup setiap hari. Menurut Dr Belilovsky, ketergantungan pada suplemen dan vitamin bisa berisiko pada kesehatan anak karena tak memberikan asupan yang cukup soal protein, karbohidrat, lemak atau serta yang menghasilkan energi.
"Vitamin dan suplemen juga tak dapat menggantikan tenaga yang dikeluarkan saat anak beraktivitas yang membutuhkan kekuatan kardio serta kemampuan berat," tegas Dr Belilovsky.
Kesimpulannya Anda bisa memberikan asupan yang bergizi dan bervariasi pada si kecil sekaligus memberikan vitamin serta suplemen agar si kecil berkembang dengan baik di masa pertumbuhannya. Cara memilih suplemen yang tepat untuk anak:
- Pastikan suplemen apa yang dibutuhkan oleh anak Anda.
- Pilihlah suplemen yang khusus diformulasikan untuk anak, bukan suplemen yang diperuntukkan bagi semua usia. Baiknya suplemen itu memiliki rasa yang enak serta mudah untuk dikonsumsi.
- Pilihlah suplemen yang berdosis kecil. Vitamin larut lemak dalam suplemen tertentu bisa tertimbun di jaringan tubuh apabila diberikan dalam dosis besar.
- Komposisi suplemen harus sesuai dengan standar. Perhatikan pula label manfaat, dosis, cara penyimpanan, dan peringatan pemakaian produk tersebut. Apabila si kecil tengah mengidap suatu penyakit, pastikan kalau suplemen tersebut takkan menyebabkan kontraindikasi dengan penyakit si anak. Diskusikan hal ini dengan dokter Anda.