Halloween party ideas 2015
Showing posts with label tips dan trik. Show all posts

Ancaman bahaya narkoba tidak pandang usia, Masuk keseluruh lapisan masyarakat, termasuk ke lingkungan sekolah, bahkan mendirikan pabrik di lingkungan perumahan. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2007 mengungkapkan, terdapat 3,5 juta jiwa penduduk Indonesia yang berkutat dengan zat terlarang tersebut. Bahkan tahun 2006 tercatat sekitar 15000 anak dan remaja meninggal akibat narkotika dan obat berbahaya (narkoba), yang umumnya sudah mereka kenal sejak dalam rentang usia 10-19 tahun. Penelitian Program International Eliminasi Pekerja Anak (IPEC), Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada tahun 2003 menegaskan rata-rata anak mulai mengenal narkoba sejak usia 13 tahun. Ada sekitar 500 ribu di antaranya para pencandu heroin, 25 persennya memakai alat suntik. Heroin memiliki ketergantungan yang sangat besar dibandingkan dengan jenis narkotika lainnya, dan kenikmatannya juga juga lebih besar. Oleh karena itu para orang tua memahami dengan baik informasi mengenai jenis dan bahaya narkoba. Pemahaman ini penting, agar orangtua juga dapat mengenali dan memeberikan informasi yang benar kepada anak.

Jenis narkoba yang banyak beredar di pasaran adalah opioid, salah satu jenisnya adalah heroin. Dunia kedokteran sering menggunakannya untuk obat-obatan, seperti morphin, penthamil. Namun sekarang ini banyak juga yang beredar di pasaran. Efek akibat pemakaian heroin adalah pupil mata mengecil, timbul eophoria, atau disphoria, mengalami gangguan pemusatan perhatian, keringat berlebihan, dan daya ingat berlebihan. Konsumsi opioid juga mempengaruhi tingkah laku penggunanya, berupa perilaku maladaftif seperti ketakutan, kecurigaan, gangguan dan tidak realistis.

Zat berbahaya lain yang banyak dikonsumsi dan menimbulkan masalah kecanduan adalah alkohol. Minuman alkohol juga termasuk jenis narkoba. Alkohol menimbulkan efek gelisah yang berlebihan, tekanan darah menurun dan menimbulkan halusinasi pendengaran. Alkohol memiliki jenis yang beragam, mulai dari yang resmi sampai yang tidak resmi, mulai dari kadar alkohol rendah hingga sangta berbahaya.

Cegah Narkoba Kenali Anak

Ketiga adalah ganja. Penelitian Profil Pcandu (YCAB,2001)bmembuktikan bahwa lebih dari 70 persen pecandu berat narkoba memulai karier mereka dengan menghisap ganja. kebiasaan melayang dengan menghisap ganja ini biasanya kemudian meningkat ke narkoba kelas berat seperti putau atau sabu. Efek yang ditimbulkan bila seseorang memakai ganja adalah jantung berdebar, euphoria,halusinasi, delusi, nafsu makan bertambah, apatis, dan memiliki perasaan waktu berjalan sangat lambat.

Jenis Lainnya adalah kokain, jenis stimulasia yang terbuat dari pohon koka yang bayak terdapat di peru dan chilli. Melalui proses kimiawi, sari daun koka ini diolah menjadi bubuk halus yang disebut kokain  dengan cara menyedot langsung serbuk putih tersebut melalui hidung. Jenis ini sangat mahal dan dikonsumsi orang-orang tertentu saja.

Jenis narkoba yang lain yang banyak beredar adalah aphetamine tipe stimulan. Aphetamine sebenarnya adalah obat perangsang yang dapat menimbulkan efek langsung pada pemakainya. Ada  4 jenis bentuk aphetamine, di antaranya adalah tablet, injeksi, ekstasi, dan shabu. Saat ini pasar narkoba dunia sebagian besar mengarh pada pemakaian aphetamine sangat gampang dibuat dari bahan racikan. Efek yang ditibulkan adalah agitasi psikomotor (hyperaktif, tidak dapat diam), rasa gembira, paranoid, halusinasi penglihatan, tekanan darah meningkat, dan sebagainya.

Zat memabukkan lainnya yang juga banyak dikonsumsi adalah halusinogen yakni zat yang bisa menimbulkan halusinasi, diantaranya valatile solvent, zat cair yang mudah menguap yang kerap digunakan untuk campuran lem. Ada pula benzoadiazepine dan pil koplo. Namun  zat adiktif yang bayak beredar adalah rokok, Pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenallnya kepada rokok.

Brain Damage
Narkoba menyebabkan ketergantungan pada penggunanya karena mengandung zat adiktif yang menempel di otak. Otak adalah organ vital yang akan terserang pertama kali akibat pemakaian narkoba. Dalam jangka panjang pemakaian dapat menyerang organ lainnya vital lainnya seperti hati, jantung, dan paru-paru. Dalam otak manusia terdapat zat-zat kimia yang berfungsi sebagai pengantar implus di dalam synapse (jaringan otak) yang disebut neorotransmitter.

Ada beberapa jenis neorotransmitter di antaranya adalah dopamin yang bertanggung jawab akan tibulnya rasa nyaman, meningkatkan tekanan darah dan denyaut jantung. Kedua  adalah serotonin yang bertanggung jawab pada mood, rasa lapar, dan kantuk. Kekurangan serotonin akan mengakibatkan depresi. Ketiga adalah gama amino butyric acid yang bertanggung jawab akan tibulnya rasa tenang dan kantung. Dan terakhir endrophin yang bertanggung jawab mengatur rasa nyeri.

Setiap neorotransmitter tersebut mempunyai reseptor tertentu yang pengaruhnya langsung ke otak. Jika seseorang memakai narkoba, zat yang terkandung di dalamnya membuat otak seolah-olah di injeksi dengan tekan tinggi, yang menyebabkan terjadinya barain damage atau kerusakan otak. Makanya seseorang pencandu baru akan merasakan kenikmatan mengunakan narkoba pada saat ia mencoba pertama kali, si zat tersebut sudah membuat sarang di dalam otaknya.

Orangtua perlu lebih aware
Banyak orangtua yang berpendapat "saya  pasti tahu kalau anak saya mulai memakai narkoba". Namun sayangnya, pada kebanyakan kasus narkoba, orangtua justru menjadi orang terakhir yang mengetahui bahwa anaknya bernmasalah dengan narkoba. Celakanya, ketika orangtua mengetahui, tingkat ketergantungan anak sudah parah dan sangat terlamabat diupayakan pencegahan.  Karena itu menghimbau kepada orangtua agar benar-benar mengenal anaknya dengan baik "hanya itu yang dapat menjadi peringatan dini (early warning) bagi orangtua.

Langkah pertama yang perlu dilakukan orangtua adalah menekankan pada anak-anak bahwa penyalahgunaan narkoba adalah haram dan dilarang semua agama. Dengan begitu anak-anak tidak ragu lagi terhadap status barang laknat tersebut. Hendaknya orangtua membekali dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan tentang   bahaya dan akibat narkoba. Dengan mengetahuinya, orangtua bisa melihat dan mendeteksi secara dini segala kejanggalan yangf tampak pada diri anaknya. Baik dalam keseharian dirumah maupun aktivitas bersama rekan sebayanya.

Perubahan tingkah laku yang terjadi pada anak secara mendadak atau ekstrim bisa dijadikan warning bagi orangtua. Misalnya si anak yang tadinya rajin beribadah menjadi sering meninggalkannya, sering berbohong, membolos prestasi belajar menurun, dan lainnya.  Selain itu bila orangtua menemukan barang-barang yang digunakan untuk konsumsi, atau sisa konsumsi narkoba, misalnya alumunium foil terbakar, alat suntik, remah daun ganja, dan lainnya. Maka orangtua harus waspada. Untuk mengetahuinya orangtua sesekali memeriksa kamar anak. Orangtua juga wajib  mengenali teman-teman bermain satu geng anak, dan memperhatikan aktivitas mereka.

Meskipun mitos ada yang mengatakan pecandu biaasanya berasal dari keluarga broken home, namun penelitian Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB,2000) pada 600 pecandu menunjukkan, sebagian besar pencandu narkoba berasal dari keluarga baik-baik. Persepsi keluarga baik-baik ini mungkin berbeda tiap orang. Namun hal penting perlu dicatat dari penelitian ini adalah lebih dari 60 persen pecandu mengaku mempunyai orangtua lengkap, dimana ibu tidak bekerja dan tinggal dirumah.

Artinya narkoba tidak hanya meneyerang mereka yang berlatar belakang keluarga broken home,  atau ibu yang sibuk bekerja. Narkoba juga merasuki anak-anak dari keluarga yang tampaknya sempurna. Tapi anak dari keluarga yang hancur dan kurang perhatian, akan lebih mudah terpancing untuk mencari perhatian diluar rumah dan bisa terjerumus pada kelamnya dunia narkoba.

Metode rehabillitasi yang memasukkan konsep agama memiliki tingkat kegagalan 12 persen. Semenetra tingkat keberhasilan rehabilitasi tanpa konsep agama hanya sekitar 43 persen.

Namun bagaimana pun kondisi keluarga, yang penting orangtua perlu senantiasa menjaga komunikasi dengan anak. Meskipun si anak sudah tidak lagi menjadi pencandu dan melakukan rehabilitasi,  namun tidak menetup kemungkinan zat aktif narkoba yang pernah ia pakai menjadi aktif kembali. Yang perlu dilakukan adalah menghilangkan "sarang-sarang" bekas zat adiktif tadi. Karena obat-obat ini memiliki efek yang berbeda-beda, maka orangtua dapat melihatnya lewat perubahan perilaku anak. Biasanya yang pendiam lebih sering memakai aphetamin, sehingga ia akan mengalami kegairahan. Dan bila anak agak hyper, ia lebih senang menggunakan jenis opioid.


Jika memang kedapatan seseorang sudah terkena narkoba hal yang perlu segera dilakukan adalah membawanya ke profesioanal. Bila anaknya sudah overdosis maka orangtua perlu membawanya ke rumah sakit bukan ke psikiater. Psikiater hanya akan melakukan terapi medik,psikologik, mauoun sosial. Terapi medik yang dimaksud adalah si anak diberi jenis obatanti psikotik yang ditujukan terhadap gangguan sistem neurotransmitter susunan saraf pusat (otak). Selain itu juga diberikan terapi psikologi, dan sosial, yang akan mengontrol lingkungan sosial si anak.Jika ia bergaul dengantukang bunga maka ia kan ikut wangi. Jadi orangtua perlu memantau pergaulan anak, dan lingkungannya.


Tak kalah penting adalah terapi agama. Ada korelasi positif antara faktor agama dengan proses penyembuhan pengguna narkoba. Pada intinya niat si pencandu itu sendiri yang memperkuat keinginan untuk keluar dari jerat narkoba. Metode rehabilitasi yang memasukkan konsep agama memiliki tingkat kegagalan 12 persen. Sementara tingkat keberhasilan rehabilitasi tanpa konsep agama hanya sekitar 43 persen.


Kenali lingkungan Anda
Tidak ada jamina tipe-tipe anak tertentu saja yang mudah terpengaruh narkoba. Apa pun tipenya, anak bisa terjangkit narkoba. Namun kebanyakan dari mereka yang terkena adalah anak-anak yang tergolong tidak bisa menentukan keputusan, dan mudah sekali terpancing denganhal-hal yang baru, sehingga ingin mencoba-coba. Usia pra remaja hingga remaja adalah usia dimana mereka lebih care kepada teman-teman bermain, dengan kata lain peer group sangat berpengaruh. oleh karena itu, lingkungan pergaulan anak,akan sangat berperan dalam menularkan narkoba kepada anak.


lingkungan pergaulan, bukan hanya lingkungan tempat anak-anak nongkrong, namun juga lingkungan sekolah yang juga menjadi tempat yang paling rawan akan peredaran narkoba. Malah sekolah elite yang edentik dengan ketatnya aturan ternyata tidak luput dari incaran jaringan narkoba. sekolah elite justru menjadi sasaran empuk bagi bandar narkoba. hidup serba kecukupan para siswa sekolah elite sering membuat mereka gampang mengeluarkan uang, untuk membeli barang haram tersebut. Apalagi banyak siswa yang tidak mengetahui aneka macam narkoba.


Narkoba juga sudah masuk lingkungan perumahan. Tidak hanya mengedarkan, bahkan beberapa kasus menunjukkan bahwa narkoba diproduksi di lingkungan perumahan. Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar ini sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab banyak pihak, seperti orangtua,guru,dan masyarakat. Salah satunya adalah dengan memberikan penyuluhan mengenai bahaya narkoba dan mengadakan razia mendadaksecara rutin, baikdi sekolah maupun di lingkungan  masyarakat. untuk mencegah anak agar tidak terjerumus pada dunia narkoba, orangtua perlu menegaskan kepada anak bahwa narkoba dan sejenisnya adalah HARAM.


Langkah terbaik untuk mencegah agar anak tidak terjerat narkoba adalah mengenal sifat dan perilaku anak. Apakah Anda sudah mengenal anak Anda? berikut ini kuis mengenal anak menurut Raising Drug-Free Children, Veronica Colondan tahun 2007.

  1. Warna fafavorit anak saya adalah.........
  2. Sahabat terdekat anak saya adalah..........
  3. Siapa nama guru anak saya dan siapa guru yang disuka mengapa?
  4. Siapa yang menjadi panutan di dalam  keluaraga?
  5. Apa yang dikaguminya dari orang yang menjadi panutan?
  6. Apakah harapan anak untuk sesuatu yang sekarang saya lakukan bagi dia?
  7. Apa makanan kesukaan anak saya?
  8. Apa acara televisi yang disuka anak saya?
  9. Apa pendapat anak saya tentang dirinya sendiri, dan tentang saya?
  10. Apa hoby anak saya?
  11. Apa cita-cita anak saya?
Skor Anda jika menjawab dengan benar
  • 8-10 : Selamat! Anda sangat mengenal anak anda
  • 5-7   : Anda bisa lebih baik memberi perhatian
  • Kurang dari 5 pertanyaan : Wah..parah.. sudah saatnya Anda luangkan waktu untuk lebih mengenal anak Anda sebelum terlambat.

Hal yang perlu kita perhatikan dan selalu ingat adalah jangan pernah memberikan sanksi atau hukuman apa pun pada anak ketika kita sedang marah apalagi dalam kondisi emosi sedang memuncak. Pada saat kita sedang marah atau emosi kita sedang tinggi, apapun yang keluar dari mulut kita, baik dalam bentuk kata-kata atau hukuman akan cenderung untuk menyakiti dan menghakimi dan tidak menjadikan anak kita lebih baik.
Selain kita akan menyesal dikemudian hari, akibat yang sangat fatal adalah kita telah melukai hati anak kita dan anak seringkali tidak bisa melupakan kejadian itu meski ia telah beranjak dewasa. Anak juga bisa mendendam pada orangtuanya karena sering mendapatkan perlakuan diluar batas.
Ingatlah selalu :
Hukuman hanya menjadi salah satu bagian dari pendisiplinan. Ini bagian penting karena anak-anak terkadang menolak memperbaiki perilakunya kendati sudah diberi tahu berulang kali. Orangtua membentak, berteriak, mengancam, bahkan menampar, tapi hasilnya sia-sia. Hukuman bisa mengatasi semua itu. Berbagai cara digunakan oleh orangtua untuk menghukum anak-anak mereka.
Hukuman memang suatu konsekuensi negatif. Apabila digunakan secara tepat, hukuman bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan perilaku buruk. Hanya saja, menggunakan hukuman secara benar itu sulit. Perlu konsistensi yang terus-menerus. Terlalu banyak hukuman itu tidak baik. Bisa menciptakan perasaan yang tidak menyenangkan. Ia bisa menyedot energi. Kebanyaan orangtua percaya, menghukum perilaku buruk akan menghentikan anak dalam mengulangi perbuatannya. Kadang-kadang itu benar, tapi terkadang pula salah.

            Hukuman yang baik adalah yang jarang digunakan
Hukuman apa pun yang digunakan terlalu sering tidak akan berjalan baik. Perilaku buruk pun takkan menjadi lebih baik. Hukuman yang sesungguhnya adalah yang jarang digunakan karena jarang dibutuhkan. Ini aturan utama dari hukuman. Hukuman harus mengurangi kebutuhan akan hukuman yang lebih banyak.
Jangan Menghukum Anak Pada Saat Sedang Marah
Kalau perilaku buruk tak berubah juga, maka hukuman tersebut tidak mempan. Banyak orangtua melakukan kesalahan karena lebih memfokuskan pada hukuman ketimbang perilaku buruk. Jika Anda menghukum anak Anda lima sampai enam kali sehari untuk perilaku buruk yang sama, itu berarti sebetulnya hukuman tidak berjalan. Jika Anda terus menambah hukuman dan perilaku buruknya berlanjut, hukuman tersebut tidak efektif.

Bukan hukumannya yang penting, tapi perilaku buruknya. Hukuman harus bisa mengubah perilaku buruk. Kalau tidak bisa, ganti dengan hukuman yang lain. Anda mungkin beranggapan bahwa membentak, mengancam, memaki, dan menampar adalah hukuman yang baik. Itu hanyalah reaksi dalam melepas kemarahan Anda. Itu bukan hukuman yang baik. Amarah dan hukuman tak dapat dicampuradukkan.

            Jangan menghukum di saat kita marah
Tampaknya memang tidak realistis, tapi itulah yang benar. Ketika kita memberi hukuman dalam suasana marah, sebenarnya kita melakukan dua hal pada saat yang bersamaan. Kita menghukum. Kita bereaksi dengan marah. Bagaimana jadinya kalau anak kita ternyata bermaksud membuat marah kita? Bagaimana jadinya kalau anak kita ingin impas atau membalas gara-gara persoalan yang terjadi sebelumnya? Melihat kita marah itu bukan hukuman. Itu ganjaran!

Bila kita marah pada suatu perilaku buruk, kita mengajarkan pada anak bagaimana mengendalikan emosi. Kita memberi kekuasaan pada si anak. Terbayar sudah kemauan anak. Perilaku buruknya yang semakin diperkuat, bukan hukumannya. Alhasil, perilaku buruk pun meningkat. Efek hukuman disangkal oleh ganjaran yang berupa kemarahan kita itu. Anak-anak merasa senang dengan itu karena mereka berhasil memperoleh keinginannya.

Satu-satunya jalan untuk mematahkan siklus pembalasan tersebut adalah tidak menjatuhkan hukuman yang disertai amarah. Kalau kita sadar akan marah, pergi saja. Hilangkan dulu amarah itu, kemudian baru hadapi perilaku buruk si anak. Jangan biarkan anak berhasil memprovokasi kita.

Jangan menghukum ketika kita marah. Redakan dulu. Tujuan hukuman adalah mengajari anak berperilaku lebih baik di kemudian hari. Tujuannya bukan untuk impas. Kadang-kadang anak bisa membuat kita hilang kesabaran, dan saat itu bukanlah waktu untuk menjatuhkan hukuman.

Terkadang orangtua bereaksi secara berlebihan. Apa komentar Anda terhadap seorang ibu yang tidak memberi makan putranya selama lima jam ketika dia menghilangkan sweater-nyadi sekolah. Ketika kita bereaksi berlebihan karena marah, perkataan kita bisa jadi tidak masuk akal. Kita tentu saja tidak bisa membiarkan anak kelaparan selama beberapa jam. Jadi, jangan hukum anak ketika kita sedang marah. Kalau marah, kita mengajarkan kepada anak-anak bahwa hukuman merupakan bentuk pembalasan.

Tujuan memberi hukuman adalah mengubah perilaku buruk dan mengajarkan kepada anak untuk dapat mengambil keputusan yang lebih baik. Hukuman akan sangat efektif bila ditetapkan sebelumnya dan direncanakan. Hukuman tidak akan berjalan baik bila itu berupa reaksi impulsif. Saat marah dan menghukum, kita bertindak sebagai contoh bagi perilaku negatif. Kita tidak mengajari anak-anak untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Jangan menghukum untuk mempermalukan
    Hukuman seharusnya tidak mempermalukan, menghina, atau merendahkan anak. Hukuman dimaksudkan untuk mengajarkan bahwa berperilaku buruk itu salah.
Kalau hukuman itu sampai mempermalukan anak, di dalam dirinya akan timbul perasaan yang tidak sehat. Tindakan mempermalukan hanya akan menyebabkan si anak menilai kita jahat dan tidak adil. Dia tidak belajar tentang kerja sama. Anak mungkin akan menyerang balik dengan kemarahan. Ini bisa mengawali terjadinya siklus negatif.
Jangan menghukum anak di hadapan anak-anak lainnya. Ajak dia menjauh. Beri tahu dia mengenai apa yang telah diperbuatnya dan nanti dia akan dihukum karenanya. Bicarakan masalah tersebut nanti, ketika kita berdua sudah sendirian.

           Konsistenlah
Hukuman harus dilaksanakan secara konsisten. Ketika memutuskan untuk menghukum perilaku buruk, lakukan selalu. Kalau kita menghukum hanya ketika menyukainya, hal ini justru akan menjadikan permasalahan kian memburuk. Kalau kita sudah mengatakan kepada anak bahwa dia akan dihukum, benar-benar lakukanlah.
Kita harus menggunakan hukuman secara konsisten, meskipun kitaa dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Jangan biarkan sedikit pun perilaku buruk terjadi. Banyak orangtua membiarkan hal tersebut terjadi pada saat-saat tertentu. Anak-anak menyukainya. Ini akan memotivasi mereka menguji kita - untuk menjajaki apakah kita akan menghukum mereka.
Saya sering mendengar ibu-ibu mengeluh karena anak-anaknya tak mau menggubris apa yang dikatakannya. "Saya sudah mencoba semuanya. Tapi tampaknya tak berhasil." Setelah berdiskusi, alasannya menjadi jelas. Kebanyakan ibu menghukum secara tidak konsisten ketika anak-anak berperilaku buruk. Kadang-kadang mereka menghukum perilaku buruk, tapi di saat lain mereka membiarkannya karena menganggap tidak ada hasilnya. Anak-anak melanjutkan perilaku buruknya karena mereka sering berhasil melakukannya.

            Gunakan hukuman yang mudah dilaksanakan
Pilihlah hukuman yang dapat kita laksanakan dengan mudah. Jika hukuman itu merepotkan dan melelahkan, kita akan menjadi kurang konsisten. Jika hukuman yang merepotkan tidak juga membuat perilaku anak berubah, berpikirlah dengan hukuman lain. Butuh cara yang lebih efektif untuk melaksanakan hukuman.

           Jelaskan hukumannya
Beri tahu anak kita mengenai tujuan hukuman itu. Ketika kita menjelaskan hukuman, kita meningkatkan pemahaman dan kerja sama dari si anak. Jelaskan bahwa kita bukanlah musuh. Kita berusaha membantunya untuk memperbaiki perilakunya yang salah. Jelaskan pula bahwa kita tidak melakukan pembalasan. Mungkin kita akan menghadapi komentar yang menjengkelkan. Jelaskan sekali saja. Jangan terjebak dalam penjelasan dan perdebatan yang bertele-tele.

            Lebih besar tidak selalu lebih baik
Hukuman yang lunak biasanya lebih produktif daripada hukuman yang keras. Pertahankan segala sesuatunya dalam perspektif dan bereaksilah secara tepat terhadap besar-kecilnya perilaku buruk. Jangan menggunakan "meriam" bila hanya untuk "membunuh nyamuk". Semisal menyuruh anak menggantungkan handuk di tempatnya. Jangan larang anak menonton acara TV favoritnya selama sebulan hanya karena dia tidak menyelesaikan makannya, atau lupa menelepon kita sebagaimana yang telah kita suruh. Pilih hukuman yang sepadan dengan perbuatannya.

Gunakan konsekuensi sesuai realitas. Anak yang membuat barang-barang berserakan, dialah yang akan membenahinya. Anak yang pulangnya terlambat tidak boleh keluar di hari berikutnya. Anak yang lebih suka menonton TV ketimbang mengerjakan PR akan berangkat sekolah tanpa mengerjakannya, dan itu menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan konsekuensi yang relevan terhadap perilaku buruk. Semua itu akan bermakna bagi anak-anak Anda, dan membantu memberi mereka pelajaran.
Ada anak-anak yang bisa dipercaya untuk memilih hukumannya. Ini membantu mereka belajar lebih cepat. Ini juga mendorong mereka untuk lebih dewasa dan bertanggung jawab.

"Perilakumu sangat bagus sebelum peristiwa ini. Aku akan mempercayakan padamu untuk memilih sendiri hukumanmu atas perilaku buruk ini. Beri tahu aku apa yang kamu putuskan."
Hukuman berat sering menimbulkan rasa marah atau pembalasan. Yang kecil, sederhana, dan berjangka pendek biasanya lebih efektif. Bila anak kita marah, hanya sedikit yang ia pelajari. Jika anak merasa Anda tidak adil dalam menerapkan hukuman, dia akan cenderung membalas dendam atau mendebat. Ini akan memicu siklus negatif. Kita menghukum, anak marah dan membalasnya dengan berperilaku buruk lagi, mungkin lebih buruk dari sebelumnya. Kita hukum lagi, mungkin dengan lebih keras, untuk menegaskan maksud kita. Anak menjadi semakin marah dan membalasnya dengan berperilaku buruk lagi.

           Cara menghukum anak tanpa menghukum diri sendiri
Kadang-kadang karena kekalutannya, orangtua melontarkan ancaman yang justru lebih merugikan dirinya ketimbang anaknya. "Kita tidak akan pergi ke restoran sebelum kamu membersihkan kamarmu. Restoran tutup pukul 23.00, sekarang sudah jam 22.30." Kalau Anda pergi ke mana pun dia tetap ingin ikut, ancaman itu manjur. Kalau dia ternyata tidak ingin ikut, Anda telah memberi kekuatan besar kepada anak Anda. Tak seorang pun pergi sebelum kamar dibersihkan. Anda memberi anak tersebut kendali atas seluruh keluarga. Siapa sebenarnya yang dihukum? Seluruh anggota keluarga, termasuk anak itu.

Pilihlah hukuman yang berdampak pada anak kita, bukan pada Anda. Anak-anak yang lain juga bisa belajar bahwa hukuman hanya berlaku bagi yang berperilaku buruk. Orangtua sering bertanya bagaimana caranya melarang satu anak menonton TV. Kalau harus mematikan TV, anak-anak lain juga ikut dihukum. Itu benar. Makanya, jangan matikan TV karena satu anak dilarang. Itu menghukum semua orang. Anak yang sedang dihukum harus pergi ke ruang lain. Kalau tak seorang pun boleh menonton TV gara-gara dia tak boleh menonton, kita memberi si anak kendali atas seluruh keluarga.

           Menggunakan larangan secara konstruktif
Larangan berarti kehilangan satu atau lebih kesenangan untuk waktu tertentu. Larangan menjadi hukuman yang berguna bagi anak dan remaja. Kita perlu menentukan apa kesenangan itu. Beberapa contohnya adalah dilarang menonton TV, tidur awal, dilarang bertemu teman, tak boleh menggunakan telepon, tidak boleh bermain video game, dilarang bermain mainan, dan sebagainya. Pilih larangan yang mudah dilaksanakan dan berdampak pada yang dihukum, bukan yang lain.

Melarang anak berperilaku buruk menjadi format hukuman yang populer. Sayangnya, tak banyak orangtua menggunakan larangan secara efektif. Kebanyakan orangtua menentukan periode waktu yang terlalu lama. Sebagai orang dewasa, kita lupa bahwa seminggu atau dua minggu bisa terasa selamanya bagi si anak. Periode larangan yang lama sering kali merupakan hasil dari pertengkaran, rasa sakit hati, atau amarah. Ini takkan membawa hasil yang baik, karena bisa menjadikan anak merasa dianiaya. Hal semacam itu bisa menimbulkan rasa balas dendam, dan siklus pembalasan pun dimulai.

Dalam larangan, ada masalah yang mengikuti. Anak-anak yang dikenai larangan merasa tak punya harapan. Tanpa harapan, hanya ada peluang kecil untuk berperilaku baik. "Kenapa mesti berperilaku baik? Bagaimanapun saya tak bisa keluar selama seminggu." Lalu, si anak pun berpikiran bahwa orang-orang lain itu memang menyebalkan. Ada solusi manjur untuk persoalan tersebut.

Periode larangan seharusnya tidak lebih dari 12 hari. Periode maksimum yang efektif biasanya 12 hari. Kalau lebih lama dari itu, risiko pembalasan akan muncul. Selanjutnya, jelaskan bahwa setiap hari baik akan mengurangi hukuman satu hari di akhir periode larangan. Misalnya, Anda menerapkan larangan selama enam hari dari Rabu sampai Senin. Kalau si anak menjadi baik pada hari Rabu, larangan pada Senin dibatalkan. Jika Kamis berjalan baik, maka Minggu dihapus. Jika Jumat berjalan baik lagi, larangan di hari Sabtu pun dibatalkan. Jumat menjadi hari terakhir larangan. Anda bisa menggunakan tabel atau kalender, sehingga anak Anda bisa mencoret hari-hari itu dan melihat perkembangannya.

Teknik tersebut bisa berjalan sangat baik. Anak-anak bisa tahu bahwa kita tetap ingin adil meskipun hukuman itu serius. Anak-anak juga menjadi tahu bahwa kita mengharapkan perilaku yang tepat kendati dalam larangan. Dilarang atau dibatasi bukan berarti tidak kooperatif. Jadi, pendekatan ini memberi anak kita insentif yang kuat untuk segera berperilaku baik. Hanya duduk-duduk di rumah selama seminggu bukanlah hal yang mengerikan. Keberhasilan strategi ini tergantung seberapa bagus kita mendefinisikan hari baik. Lalu, tetap berpegang pada apa yang kita katakan. Akan sangat membantu apabila kita menulis apa yang dibutuhkan.
  • o    Peraturan untuk membatalkan hari larangan:
  • o    Melakukan yang Anda minta.
  • o    Berbicara dengan nada yang menyenangkan.
  • o    Berbaik hati dan sopan pada saudara-sau daramu.
       Pastikan bahwa hari baik itu benar-benar hari baik. Jangan batalkan hari kalau memang tidak patut dibatalkan. Jika kita terlalu mudah membatalkan hari, kita akan mengalahkan tujuan dari pendekatan ini. Walaupun terkena larangan, anak masih bisa melakukan aktivitas lainnya
Gunakan dulu umpan balik positif  
Untuk menghadapi perilaku buruk yang berulang lagi, hukuman seharusnya hanya digunakan setelah kita mencoba sejumlah upaya positif. Kebanyakan orangtua mendahulukan hukuman. Mereka percaya perilaku buruk harus ditangani dengan hukuman.

Kita bisa memperbaiki perilaku buruk dengan menggunakan umpan balik positif untuk memperkuat lawan perilaku buruk. Dua anak kita terus bertengkar. "Kalau tidak berhenti bertengkar, kamu berdua tidak boleh ikut piknik sekolah minggu depan."

Tunjukkan kebalikannya ketimbang hukumannya. Kebalikan bertengkar adalah bekerja sama. Gunakan dorongan semangat dan umpan balik positif ketika mereka berkeja sama dan berbagi. "Sungguh menyenangkan melihat kalian bersenang-senang. Benar-benar menggembirakan melihat kalian berdua berbagi komputer."

Banyak orangtua terjebak untuk tergesa-gesa menerapkan hukuman. Padahal ini benar-benar tidak nyaman. Salah satu cara untuk menghindarkan diri dari jebakan itu adalah memfokuskan pada perilaku positif. 

Anak Merupakan pelengkap kebahagian pasangan menikah. Saat berkumpul dalam acara keluarga, sering muncul pertanyaan seperti, "isi" belum? dan sebagainya. Mungkin pertanyaan itu tidak menjadi persoalan bagi pasangan  yang baru saja menikah, namun bisa menjadi tofik sensitif bagi pasangan yang telah bertahun-tahun merindukan momongan.

Pernikahan adalah pengukuhan hubungan dua individu laki-laki dan perempuan dalam sebuah lembaga perkawinan yang sah. Salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan keturunan sebagai penerus generasi . Buah hati bukan saja penerus generasi dan perekat perkawinan, tetapi juga awal dari langkah selanjutnya bagi pria dan wanita dalam mengisi tugas sebagai ayah dan ibu. Dengan berubahnya peran, individu akan mulai belajar bagaimana harus berperilaku.

Meski banyak pasangan yang ingin segera memiliki momongan setelah menikah, namun tidak sedikit pasangan yang sengaja menunda. Ada bererapa alasan mengapa pasangan menikah menunda untuk memiliki anak. Pertama, ketidakpastian secara materi. Dalam hal ini, pasangan memiliki ketakutan bahwa pendapatan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan si buah hati. Kedua, ketidak siapan secara psikologis. Alasan ini muncul karena adanya ketakutan tidak bisa menjadi ayah atau ibu yang baik. Ketiga, pasangan mendahulukan kepentingan lain. Misalnya, melanjutkan studi. dan lain sebagainya.
Bila Buah Hati Tak Kunjung Hadir

Alasan sebuah pasangan mengharapkan kehadiran buah hati seringkali didasarkan pada motivasi  saat awal pernikahan. Misalnya, pasangan yang menikah karena ingin mempunyai keturunan, cenderung ada menuntut agar sang istri harus dapat melahirkan anak. Namun ada juga pasangan yang menikah, lebih karena ingin mempunyai teman.

Penantian akan lahirnya buah hati bisa menjadi masalah dalam rumah tangga, bila keduanya tidak bisa menerima keadaan. Apalagi bila salah satu pihak menimpakan kesalahan pada pasangan, biasanya dalam hal ini istri sebagai korban. Padahal suatu pasangan tidak dikarunia anak bukan melulu karena masalah intertilitas tetapi juga masalah psikologis.

Lantaran tak kunjung dikaruniai anak, ada pasangan yang depresi. Namun banyak pasangan tanpa anak yang menerimanya dengan pasrah, dan berpikir positif. Namun hal ini kembali lagi pada konsep pernikahan mereka, apakah ingin cepat dapat momongan atau memang ingin menunda dengan berbagai alasan.

Timbul Masalah.
Permasalahan pada pasangan menikah tanpa anak, bisa jadi justru disebabkan oleh sikap masyarakat atau lingkungan sekitar yang menuntut adanya anak. Baik tuntutan secara langsung, misalnya ayah atau ibu mertua yang terus menerus meminta cucu, maupun tidak langsung, mulai dari sekedar gunjingan ringan, hingga gossip menjengkelkan.

Dalam banyak kasus, istri merasa lebih tertekan jika setelah beberapa tahun belum juga mendapatkan keturunan. Apalagi bila diketahui bahwa sang istri mempunyai masalah keturunan. Apalagi bila diketahui bahwa sang istri mempunyai masalah fertilitas, sehingga tekanan pun akan semakin besar. Tak jarang muncul tekanan lingkungan, bahwa dari suami agar mengijinkan poligami. Sebagai istri akhirnya menyerah dan mengijinkan suaminya berpoligami. Tetapi pada dasarnya tidak ada seorang istri pun rela suaminya menikah lagi atau  pun diduakan.

Ketidak hadiran buah hati ini bisa menimbulkan masalah ketika masing-masing pasangan tidak membuka pikiran atau menerima keadaan  dan mudah terpengaruh pada lingkungan sekitar. Ada yang tidak peduli namun ada juga sebagian pasangan yang terganggu dengan ketiadaan anak ini. Biasanya hal tersebut karena tidak ada komunikasi dua arah antara mereka.

Butuh Kedewasaan
Memang tidak semua pasangan mempermasalahkan  ketidak hadiran si buah hati di tengah-tengah mereka. Namun tetap dibutuhkan kedewasaan sikap dan toleransi yang sangat besar pada masing-masing pihak. Setidaknya mereka perlu memahami bahwa ketidakmampuan memiliki keturunan bukan semata-mata kesalahan pasangan (istri atau Suami). Apa pun kondisinya,masing-masing pihak harus saling mendukung dan mengupayakan solusinya. Duduk bersama dan mendiskusikan bagaimana cara terbaik untuk menghadapi kenyataan tersebut tanpa ada campur tangan orang ketiga.

Oleh karena itu sebelum menikah setiap pasangan harus benar-benar mengenal pasangan, mulai dari sifat baik dan jeleknya, kebiasaan-kebiasaan positif dan buruknya, cara dia mengambil keputusan, sampai pola keluarga dari masing-masing pasangan. Hal tersebut perlu diketahui agar tidak ada penyesalan dan kekecewaan yang tak perlu, yang baru muncul setelah pernikahan.

Pada saat timbul masalah itulah hal-hal positif dari seseorang akan terlihat. Setiap pasangan menikah seharusnya berpikir untuk saling melengkapi bukan hanya memikirkan masalah anak yang tidak kunjung hadir. Mereka yang mempunyai kedewasaan berpikir akan melihat bahwa anak hanyalah titipan tuhan dan bukan milik kita sepenuhnya.

Mencari Solusi
Mereka yang mengharapkan buah hati ditengah-tengah keluarga sebaiknya tidak saling menyalahkan dan menuduh siapa penyebabnya. karena yang dibutuhkan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah bersama-sama mengupayakan solusi.  Apakah  sependapat untuk mengadopsi anak, bayi tabung, atau justru sepakat untuk tidak melakukan keduanya. Ada pasangan yang berpikir bahwa untuk membagikan kasih sayang tidak perlu kepada anak kandung saja, tetapi juga kepada keponakan atau anak-anak dilingkungan sekitarnya.

Namun sebelum mereka mengambil keputusan maka hal utama yang harus dilakukan adalah berpikir secara matang, jangan terburu-buru, sehingga salah satu dari mereka tidak sreg. Umpamanya, diputuskan untuk mengadopsi anak. Jangan sampai keputusan tersebut diambil karena desakan dari salah satu pihak. Karena bila terjadi hal seperti itu, maka yang kasihan adalah si anak adopsi itu. Anak itu tidak akan mendapat limpahan kasih sayang, dan perawatan secara optimal.
Tidak jarang pasangan tanpa anak yang mengadopsi anak bisa membuat hubungan mereka menjadi lebih relaks. Kondisi yang lebih santai dan ceria karena adanya anggota baru dalam keluarga biasanya akan menimbulkan kondisi psikologis yang lebih sehat. Namun mengadopsi anak bukanlah satu-satunya pilihan bagi pasangan yang tak kunjung mendapat keturunan.

Jika ketidak hadiran anak disebabkan oleh gangguan medis maka masalah itu bisa diatasi dengan bantuan dan terapi medis pula. Namun jangan mengadopsi  anak hanya sebagai upaya untuk memancing agar punya anak. Sebagian masyarakat percaya, bahwa mengadopsi anak dapat memicu hadirnya anak kandung. Cara seperti itu bisa jadi hanya akan membuat si anak jadi terlantar, Sebaiknya sebelum pasangan memutuskan untuk mengadopsi anak, tanyakan kembali pada diri masing-masing apakah betul membutuhkan seorang untuk hadir ditengah-tengah mereka. 

Ekspresi kesedihan karena lama tidak mendapatkan anak, biasanya lebih terlihat pada istri. oleh karena itu suami sebaiknya bisa memahami kondisi tersebut. dengarkanlah setiap keluhan sang istri. Hibur sang istri dalam mengisi hari-harinya agar tetap menyenangkan  Jangan menjadikan kehadiran anak sebagai masalah besar dalam keluarga. 

Dan yang lebih penting adalah, belum hadirnya buah hati, jangan sampai mengurangi kadar kemesraan suami istri. mereka bisa menjalankan aktivitas sehari-hari seperti bias  dengan saling memberi motivasi. Bagaimana agar pasangan menjadikan kehidupannya ini tetap bermakna, tanpa mengurangi kadar kasih sayang diantara mereka, maupun pada anak-anak.

Kasus penculikan anak, tak hanya menyergap keluarga yang berkecukupan, dengan tujuan mendapatkan uang tebusan. Dikalangan masyarakat bawah pun, kasus penculikan anak terjadi, untuk diperjualbelikan atau diperkerjakan. Apa pun motif tindakan tak beradap itu, menimbulkan luka yang dalam pada korban. Baik anak maupun keluarga. Selama dalam sekapan para penculik, seorang anak umumnya mengalami beberapa jenis kekerasan, baik secara fisik maupun mental.

Namun, diantara beberapa jenis kekerasan tersebut, yang paling menakutkan bagi anak adalah berpisah dengan orangtua atau orang-orang yang disayangi. Dia harus tinggal dengan orang yang umumnya sama sekali tidak dia kenal. Kalau penculik orang yang dikenal, anak tetap merasa tidak nyaman, bahkan tersiksa karena tidak tahu kapan bisa bertemu dengan orangtua dan keluarga.

Meningkatnya kasus penculikan merupakan sinyalemen bahwa kekerasan pada anak meningkat. Eskalasi kekerasan itu, memperkuat dugaan bahwa banyak orang yang menganggap anak hanyalah sebagai miniatur orang dewasa, tidak berdaya, rentan, dan peka. Ketidak berdayaan anak kemudian dimanfaatkan orang dewasa dan dianggap objek. Padahal anak merupakan aset bangsa yang perlu dirawat agar tumbuh optimal. Jadi anak perlu dijamin dan dilindungi hak-haknya.

Usia balita merupakan tahap egosentis dimana anak berpikir bahwa semua keinginannya harus dipenuhi. Namun, ketika diculik kondisi tersebut berubah 180 derajat, anak tidak lagi bisa berontak maupun mengontrol keadaan. Dalam pikiran anak akan muncul seperti, "mengapa saya tidak dijemput?" dan lain-lain.

Ketidaktahuan dan ketidak mengertian anak tentang kondisi yang sedang terjadi, akan menimbulkan dampak negatif pada pencintraan anak. Figur orangtua yang selama ini menjadi idola, perlahan akan luntur dan berkembang menjadi kemarahan. Pada anak yang lebih besar, biasanya akan muncul pikiran bahwa penculikan yang dia alami merupakan akibat dari kesalahan yang telah dia buat.

Lamanya masa penyekapan dan penculikan, akan mempengaruhi kestabilan emosi anak. Akibat yang muncul berbeda-beda tergantung dari motif penculikan, apakah menculik untuk dijadikan anak, meminta uang  tebusan, atau motif pengambilan organ tubuh.

Penculik yang motifnya ingin mnjadikan korban sebagai anaknya biasanya cenderung memanjakan. Pelaku juga akan melakukan cuci otak dengan mengatakan, bahwa meraka adalah papa dan mama si anak yang sebenarnya dan melakukan pembunuhan karakter orangtua. Figur orangtua yang selama ini dikenal, secara sistematis dihapus dari memori si anak, untuk selanjutnya berganti dengan figur si penculik.

Pemulihan
Beberapa korban penculikan yang selamat mengalami trauma yang tidak segera diatasi akan menetap hingga dewasa. Wujudnya biasanya berupa mimpi buruk, takut keluar rumah,curiga bila bertemu orang, dan tidak percaya diri dalam pergaulan. Atau mengalami ketakukan untuk berpisah dengan anggota keluarganya. Anak akan takut untuk pergi ke sekolah,atau menginap ditempat lain tanpa  orangtuanya. Bahkan ketakutan untuk berkenalan, atau bertemu orang lain. Ketakutan ini bisa memunculkan gejala seperti rasa pusing dan rasa sakit yang tidak bersumber penyakit fisik.

Untuk mengatasi kondisi tersebut orangtua harus membangun kembali pola asuh yang konsisten, artinya prinsip-prinsip utama dalam pengasuhan jangan pernah diterjang. Orangtua juga dituntut untuk memberi perhatian lebih pada anak pasca penculikan karena dalam keadaan ini kondisi kejiwaan anak belum stabil.

Selain memulihkan kondisi psikis dan fisik anak, juga penting diperhatikan upaya pemulihan terhadap orangtua pasca penculikan anak. Ternyata, orangtua juga tak kalah menderitanya dengan anak yang menjadi korban penculikan, bahkan bisa mengalami trauma yang lebih dalam. Peraan orangtua korban penculikan biasanya bercampur aduk, tak kalah menderitanya dengan anak.

Pada orangtua, muncul perasaan, sedih, marah yang bercampur menjadi satu. Dalam banyak kasus, orangtua akan berubah menjadi ekstrim. Misalnya menjadi memanjakan atau berupaya melindungi si anak secara berlebihan. pola-pola pendidikan untuk mendisiplinkan dan menanamkan kepercayaan diri pada anak, kerap diabaikan dengan alasan demi melindungi anak. Kondisi ini hanya akan merugikan keduanya.

Cara terbaik mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui konseling dengan ahli. Masa pemulihan pasca penculikan, diharapkan dapat lebih cepat dicapai orang tua dibanding anak. dengan asumsi, kepribadian orangtua jauh lebih matang dibanding anak, pemulihan trauma orang tua akan sangat membantu si anak.

Mencegah penculikan
bagaimanapun , mencegah selalu lebih baik. Para orangtua kini harus lebih waspada dan berhati. Orangtua harus menanamkan  pengertian kepada anak agar jangan mudah percaya kepada orang yang baru dikenal. Perlu  juga diberitahukan kepada pihak sekolah atau tempat kursus siapa yang akan datang menjemput si anak, bagaimana mengawasi si anak bila sekolah telah usai, tetapi penjemput belum tiba. penjemput pun harus tahu betul jadwal pulang sekolah si anak.

Anak juga perlu dibekali sikap waspada. Ajari anak agar mau di ajak oleh orang-orang yang dikenalnya, bila telah mendapat izin langsung dari orangtua. Anak juga perlu diajari untuk berani menolak, dan berteriak sekencang-kencangnya bila ada orang yang membujuknya bahkan memaksa untuk ikut dengannya. Sebagaimana upaya kuratif, orangtua bisa segera melaporkan kepada polisi segera setelah menyadari adanya kemungkinan penculikan. Upaya lain yang bisa ditempuh adalah menyebarkan foto identitas si anak serta nomor kontak orangtua sebanyak mungkin tempat. Dalam hal ini, foto jauh lebih berarti daripada deskripsi dalam bentuk lain.

Penculikan, perdagangan, penganiayaan, eksploitasi, hingga aksi penjualan organ tubuh anak bukanlah tindak kriminal biasa. Pada kasus ini, mestinya diberlakukan pasal berlapis, sehingga pelaku pelanggaran hak anak yang dilakukan oleh pelaku dewasa mesti diberikan sanksi yang maksimal. Hukuman maksimal dan berlapis  bagi pelaku- yang ada dalam UU perlindungan anak- dapat memberikan perlindungan lebih bagi si anak.

Sesuai  UU No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, pelaku penculikan anak - apalagi yang kemudian diikuti dengan tindakan kekerasan, bahkan bila sampai memperdagangkan organ tubuh - harus diberlakukan hukuman maksimal, bahkan hukuman seumur hidup. Bagi anak yang selamat dan masih hidup saja, dampak kekerasan, penculikan, pemerkosaan atau penganiayaan lainnya. Menimbulkan penderitaan fisik dan psikis yang dapat berlangsung lama, bahkan seumur hidup.

Oleh karena itu perlu dipahami, bahwa memperhatikan keamanan dan keselamatan anak, adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya orangtua si anak. Semua orang dewasa berkewajiban menjaga tunas-tunas itu mampu tumbuh berkualitas.

Meraih kembali bentuk tubuh idaman setelah melahirkan bisa! tanpa mengganggu aktivitas menyusui pula.

Minggu  Pertama cek lemak.
Disela-sela kegiatan menyusui, minggu ini coba cek tubuh bagian mana yang ukurannya bertambah sejak hamil dan ingin anda kembalikan ke ukuran semula. Timabang berat badan (BB), ukur lingkar pinggang, pinggul, paha  dan lengan catat di agenda 90 hari kembali langsing. Jadikan data awal itu motivasi. Langsung Diet. Jangan saat ini Anda tengah menyusui sehingga sebaiknya tidak melakukan diet ketat atau mengurangi porsi makan secara sembarangan sebab bisa mempengaruhi produksi dan kualitas ASI. Pada minggu ini pula, tentukan parner Anda dalam menjalankan program kembali langsing. Seorang ahli gizi dapat diminta bantunnya untuk menyusun menu harian, bila Anda ingin mengikis lemak bandel di tubuh melalui pengaturan pola makan. Seorang personal trainer di pusat kebugaran juga bisa membantu memberi program olah tubuh dengan target-target yang aman dan realistis, untuk ibu menyusui.

Minggu ke Dua rapikan pola makan
Kunci menurunkankan berat badan ibu pasca bersalin adalah :
Tetap makan dengan porsi biasa, yaitu menu dengan kandungan nutrisi lengkap dan seimbang sejumlah 2400 kalori per hari dan ditambah 500 kalori perhari diperlukan karena Anda sedang menyusui.
Jadwal makan harus benar, yaitu makan pagi, snack pagi, makan siang, snack sore, makan malam, serta memenuhi kebutuhan asupan cairan kira-kira 8 gelas per hari.
Menghindari asupan lemak berlebihan karena dapat menyebabkan tubuh kelebihan kalori sehingga menambah kenaikkan berat badan. Makanan yang mengandung lemak misalnya kuning telur, daging berlemak,keju, margarin, jeroan, daging kambing, dan masakan bersantan.

Minggu ke tiga latihan kardio
Mendapatkan tubuh langsing harus dibarengi olahraga, sebab tubuh perlu bergerak untuk membakar lemak berlebihan. Latihan kardio "sahabat" untuk mengurungi berat badan, sebab cepat membakar lemak dan melancarkan metabolisme tubuh sehingga lebih efisien membakar kalori. Berhubung Anda baru bersalin, pilihlah latihan kardio jalan kaki. Jalan mengelilingi kompleks perumahan 1 kali putaran, lakukan 4-5 kali seminggu @30 menit, dan setelah 3hari berlatih tambah jadi 2 putaran, begitu seterusnya. Jalan kaki 30 menit membakar 180 kalor. Kalau cuaca kurang baik, ganti dengan jalan di treatmill dengan kecepatan sedang masih bisa berbicara saat berjalan tanpa kehabisan napas-posisi datar, dan istirahat jika lelah. Ibu menyusui tidak di anjurkan melakukan olahraga kardio lari karena meningkatkan tingkat ke asaman tubuh yang mempengaruhi produksi ASI.

Minggu ke empat : Hindari penurunan berat badan berlebihan. Ukur dan timbang BB Anda dan bandingkan dengan hasil pengukuran pertama. Berkurang 1-2 cm atau turun 1 Kg?Selamat! Segera catat di agenda 90 hari kembali langsing. Namun hati-hati bila penurunan BB drastis dan Anda merasa lemas atau terus-terusan lapar, sebeb bisa mengindikasikan kekurangan gizi atau kelelahan. Tetap perhatikan pola makan dan hindari makanan berlemak. Minum air putih sebelum ,saat, dan sesudah berolahraga, karena haus adalah pertanda kekurangan cairan.

Minggu ke Lima : Berenang. Bosan jalan Kaki, ganti olahraga Anda. Berenang adalah olahraga jenis kardio lainnya yang aman bagi ibu pasca bersalin dan menyusui. Juga efektif untuk program back to shope sebab aktifitas ini menggerakkan hampir seluruh otot itama  di tubuh, dan mengikis lemak disana. Berenang  30 menit membakar 400 kalori. Selebritis Catherina Zeta Jones memilih berenang guna mendapatkan tubuh seksi dan bugar sehais melahirkan. Namun bila Anda bersalin secara Caesar, konsultasikan dulu ke dokter sebelum berenang.

Minggu ke Enam : Kembali ke Gym. Sudah boleh kembali ke gym asalkan bukan untuk berolahraga high impact. mengangkat barbel 3 Kg. Latihan teradmill atau mengayuh sepeda statis, bisa dilakukan dengan pedoman cek ke dokter dulu untuk mengetahui kondisi kesehatan dan jahitan pasca bersalin. Awali dengan pemanasan yg di sertai peregangan, baru progarm inti pendinginan. Perhatikan durasi dan cara berolahraga, jangan terlalu lelah, misalnya akibat menyetel treadmill yang terlalu kencang atau berat. Lakukan latihan berseling-seling hari agar otot memiliki kesempatan pulih dan kembali normal setelah latihan.

Minggu ke Tujuh : Senam di rumah.
Bila Tak sanggup meninggalkan bayi untuk pergi ke gym, mengapa tidak bersenam di rumah.
Bila Tak sanggup meninggalkan bayi untuk pergi ke gym, mengapa tidak bersenam di rumah.

Minggu ke delapan. Coba  tes, apakah pakaian dan celana Anda sebelum hamil dulu, muat lagi? Jangan lupa untuk kembali menimbang BB dan mengukur lingkar tubuh. Bandingkan dengan catatan Anda di minggu ke 1 dan ke 4. Meski demikian, hindari menimbang BB setiap hari, karena bisa membuat Anda depresi.

Minggu ke : kembali bekerja bakar banyak kalori. Masa cuti melahirkan sudah selesai dan kembali bekerja. Di kantor pun Anda tetap bisa mengusir lemak bandel di tubuh dengan mengubah kebiasaan pilih naik turun tangga dari pada lift, karena naik turun tangga mengencangkan otot paha, betis dan bokong. Parkir mobil agak jauh dari gedung agar memiliki kesempatan berjalan jauh. Pilih makan siang jauh dari kantor namun bisa ditempah dengan jalan kaki.

Minggu ke Sebelas : Menggabungkan semua jenis olahraga. Peratahankan pola makan teratur dengan menu lengkap dan seimbang serta melakukan olah raga. Untuk menghindari kebosanan, latihan olahraga bisa divariasaikan, misalnya berselang seling jalan kaki, latiahn otot dan berenang, itensitas 30 menit per latihan dan tidak perlu ngoyo menambah ferkuensi.

Minggu ke Dua Belas: Back to shape dan lanjutkan menyusui. Buka kembali catatan 90 hari kembali langsing karena karena ini minggu trakhir. Bandingkan BB dan ukuran lingkar tubuh Anda pada minggu 1 dan sekarang. Hasilnya Langsing. Selamat Bunda, perjuangan Anda tidak sia-sia. Jika sudah langsing kembali pertahankan pola makan yang sehat serta olah raga yang rutin dan teratur. Tetap menyusui juga membantu Anda tetap langsing, dibuktikan oleh women health across the nation heart study yang merilis laporan risetnya bahwa memberikan ASI bermanfaat mengelurakan kalori berlebih dan menghilangkan lemak di perut.
Powered by Blogger.