Cegah Narkoba Kenali Anak
Ancaman bahaya narkoba tidak pandang usia, Masuk keseluruh lapisan masyarakat, termasuk ke lingkungan sekolah, bahkan mendirikan pabrik di lingkungan perumahan. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2007 mengungkapkan, terdapat 3,5 juta jiwa penduduk Indonesia yang berkutat dengan zat terlarang tersebut. Bahkan tahun 2006 tercatat sekitar 15000 anak dan remaja meninggal akibat narkotika dan obat berbahaya (narkoba), yang umumnya sudah mereka kenal sejak dalam rentang usia 10-19 tahun. Penelitian Program International Eliminasi Pekerja Anak (IPEC), Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada tahun 2003 menegaskan rata-rata anak mulai mengenal narkoba sejak usia 13 tahun. Ada sekitar 500 ribu di antaranya para pencandu heroin, 25 persennya memakai alat suntik. Heroin memiliki ketergantungan yang sangat besar dibandingkan dengan jenis narkotika lainnya, dan kenikmatannya juga juga lebih besar. Oleh karena itu para orang tua memahami dengan baik informasi mengenai jenis dan bahaya narkoba. Pemahaman ini penting, agar orangtua juga dapat mengenali dan memeberikan informasi yang benar kepada anak.
Jenis narkoba yang banyak beredar di pasaran adalah opioid, salah satu jenisnya adalah heroin. Dunia kedokteran sering menggunakannya untuk obat-obatan, seperti morphin, penthamil. Namun sekarang ini banyak juga yang beredar di pasaran. Efek akibat pemakaian heroin adalah pupil mata mengecil, timbul eophoria, atau disphoria, mengalami gangguan pemusatan perhatian, keringat berlebihan, dan daya ingat berlebihan. Konsumsi opioid juga mempengaruhi tingkah laku penggunanya, berupa perilaku maladaftif seperti ketakutan, kecurigaan, gangguan dan tidak realistis.
Zat berbahaya lain yang banyak dikonsumsi dan menimbulkan masalah kecanduan adalah alkohol. Minuman alkohol juga termasuk jenis narkoba. Alkohol menimbulkan efek gelisah yang berlebihan, tekanan darah menurun dan menimbulkan halusinasi pendengaran. Alkohol memiliki jenis yang beragam, mulai dari yang resmi sampai yang tidak resmi, mulai dari kadar alkohol rendah hingga sangta berbahaya.
Ketiga adalah ganja. Penelitian Profil Pcandu (YCAB,2001)bmembuktikan bahwa lebih dari 70 persen pecandu berat narkoba memulai karier mereka dengan menghisap ganja. kebiasaan melayang dengan menghisap ganja ini biasanya kemudian meningkat ke narkoba kelas berat seperti putau atau sabu. Efek yang ditimbulkan bila seseorang memakai ganja adalah jantung berdebar, euphoria,halusinasi, delusi, nafsu makan bertambah, apatis, dan memiliki perasaan waktu berjalan sangat lambat.
Jenis Lainnya adalah kokain, jenis stimulasia yang terbuat dari pohon koka yang bayak terdapat di peru dan chilli. Melalui proses kimiawi, sari daun koka ini diolah menjadi bubuk halus yang disebut kokain dengan cara menyedot langsung serbuk putih tersebut melalui hidung. Jenis ini sangat mahal dan dikonsumsi orang-orang tertentu saja.
Jenis narkoba yang lain yang banyak beredar adalah aphetamine tipe stimulan. Aphetamine sebenarnya adalah obat perangsang yang dapat menimbulkan efek langsung pada pemakainya. Ada 4 jenis bentuk aphetamine, di antaranya adalah tablet, injeksi, ekstasi, dan shabu. Saat ini pasar narkoba dunia sebagian besar mengarh pada pemakaian aphetamine sangat gampang dibuat dari bahan racikan. Efek yang ditibulkan adalah agitasi psikomotor (hyperaktif, tidak dapat diam), rasa gembira, paranoid, halusinasi penglihatan, tekanan darah meningkat, dan sebagainya.
Zat memabukkan lainnya yang juga banyak dikonsumsi adalah halusinogen yakni zat yang bisa menimbulkan halusinasi, diantaranya valatile solvent, zat cair yang mudah menguap yang kerap digunakan untuk campuran lem. Ada pula benzoadiazepine dan pil koplo. Namun zat adiktif yang bayak beredar adalah rokok, Pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenallnya kepada rokok.
Brain Damage
Narkoba menyebabkan ketergantungan pada penggunanya karena mengandung zat adiktif yang menempel di otak. Otak adalah organ vital yang akan terserang pertama kali akibat pemakaian narkoba. Dalam jangka panjang pemakaian dapat menyerang organ lainnya vital lainnya seperti hati, jantung, dan paru-paru. Dalam otak manusia terdapat zat-zat kimia yang berfungsi sebagai pengantar implus di dalam synapse (jaringan otak) yang disebut neorotransmitter.
Ada beberapa jenis neorotransmitter di antaranya adalah dopamin yang bertanggung jawab akan tibulnya rasa nyaman, meningkatkan tekanan darah dan denyaut jantung. Kedua adalah serotonin yang bertanggung jawab pada mood, rasa lapar, dan kantuk. Kekurangan serotonin akan mengakibatkan depresi. Ketiga adalah gama amino butyric acid yang bertanggung jawab akan tibulnya rasa tenang dan kantung. Dan terakhir endrophin yang bertanggung jawab mengatur rasa nyeri.
Setiap neorotransmitter tersebut mempunyai reseptor tertentu yang pengaruhnya langsung ke otak. Jika seseorang memakai narkoba, zat yang terkandung di dalamnya membuat otak seolah-olah di injeksi dengan tekan tinggi, yang menyebabkan terjadinya barain damage atau kerusakan otak. Makanya seseorang pencandu baru akan merasakan kenikmatan mengunakan narkoba pada saat ia mencoba pertama kali, si zat tersebut sudah membuat sarang di dalam otaknya.
Orangtua perlu lebih aware
Banyak orangtua yang berpendapat "saya pasti tahu kalau anak saya mulai memakai narkoba". Namun sayangnya, pada kebanyakan kasus narkoba, orangtua justru menjadi orang terakhir yang mengetahui bahwa anaknya bernmasalah dengan narkoba. Celakanya, ketika orangtua mengetahui, tingkat ketergantungan anak sudah parah dan sangat terlamabat diupayakan pencegahan. Karena itu menghimbau kepada orangtua agar benar-benar mengenal anaknya dengan baik "hanya itu yang dapat menjadi peringatan dini (early warning) bagi orangtua.
Langkah pertama yang perlu dilakukan orangtua adalah menekankan pada anak-anak bahwa penyalahgunaan narkoba adalah haram dan dilarang semua agama. Dengan begitu anak-anak tidak ragu lagi terhadap status barang laknat tersebut. Hendaknya orangtua membekali dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan tentang bahaya dan akibat narkoba. Dengan mengetahuinya, orangtua bisa melihat dan mendeteksi secara dini segala kejanggalan yangf tampak pada diri anaknya. Baik dalam keseharian dirumah maupun aktivitas bersama rekan sebayanya.
Perubahan tingkah laku yang terjadi pada anak secara mendadak atau ekstrim bisa dijadikan warning bagi orangtua. Misalnya si anak yang tadinya rajin beribadah menjadi sering meninggalkannya, sering berbohong, membolos prestasi belajar menurun, dan lainnya. Selain itu bila orangtua menemukan barang-barang yang digunakan untuk konsumsi, atau sisa konsumsi narkoba, misalnya alumunium foil terbakar, alat suntik, remah daun ganja, dan lainnya. Maka orangtua harus waspada. Untuk mengetahuinya orangtua sesekali memeriksa kamar anak. Orangtua juga wajib mengenali teman-teman bermain satu geng anak, dan memperhatikan aktivitas mereka.
Meskipun mitos ada yang mengatakan pecandu biaasanya berasal dari keluarga broken home, namun penelitian Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB,2000) pada 600 pecandu menunjukkan, sebagian besar pencandu narkoba berasal dari keluarga baik-baik. Persepsi keluarga baik-baik ini mungkin berbeda tiap orang. Namun hal penting perlu dicatat dari penelitian ini adalah lebih dari 60 persen pecandu mengaku mempunyai orangtua lengkap, dimana ibu tidak bekerja dan tinggal dirumah.
Artinya narkoba tidak hanya meneyerang mereka yang berlatar belakang keluarga broken home, atau ibu yang sibuk bekerja. Narkoba juga merasuki anak-anak dari keluarga yang tampaknya sempurna. Tapi anak dari keluarga yang hancur dan kurang perhatian, akan lebih mudah terpancing untuk mencari perhatian diluar rumah dan bisa terjerumus pada kelamnya dunia narkoba.
Metode rehabillitasi yang memasukkan konsep agama memiliki tingkat kegagalan 12 persen. Semenetra tingkat keberhasilan rehabilitasi tanpa konsep agama hanya sekitar 43 persen.
Namun bagaimana pun kondisi keluarga, yang penting orangtua perlu senantiasa menjaga komunikasi dengan anak. Meskipun si anak sudah tidak lagi menjadi pencandu dan melakukan rehabilitasi, namun tidak menetup kemungkinan zat aktif narkoba yang pernah ia pakai menjadi aktif kembali. Yang perlu dilakukan adalah menghilangkan "sarang-sarang" bekas zat adiktif tadi. Karena obat-obat ini memiliki efek yang berbeda-beda, maka orangtua dapat melihatnya lewat perubahan perilaku anak. Biasanya yang pendiam lebih sering memakai aphetamin, sehingga ia akan mengalami kegairahan. Dan bila anak agak hyper, ia lebih senang menggunakan jenis opioid.
Jika memang kedapatan seseorang sudah terkena narkoba hal yang perlu segera dilakukan adalah membawanya ke profesioanal. Bila anaknya sudah overdosis maka orangtua perlu membawanya ke rumah sakit bukan ke psikiater. Psikiater hanya akan melakukan terapi medik,psikologik, mauoun sosial. Terapi medik yang dimaksud adalah si anak diberi jenis obatanti psikotik yang ditujukan terhadap gangguan sistem neurotransmitter susunan saraf pusat (otak). Selain itu juga diberikan terapi psikologi, dan sosial, yang akan mengontrol lingkungan sosial si anak.Jika ia bergaul dengantukang bunga maka ia kan ikut wangi. Jadi orangtua perlu memantau pergaulan anak, dan lingkungannya.
Tak kalah penting adalah terapi agama. Ada korelasi positif antara faktor agama dengan proses penyembuhan pengguna narkoba. Pada intinya niat si pencandu itu sendiri yang memperkuat keinginan untuk keluar dari jerat narkoba. Metode rehabilitasi yang memasukkan konsep agama memiliki tingkat kegagalan 12 persen. Sementara tingkat keberhasilan rehabilitasi tanpa konsep agama hanya sekitar 43 persen.
Kenali lingkungan Anda
Tidak ada jamina tipe-tipe anak tertentu saja yang mudah terpengaruh narkoba. Apa pun tipenya, anak bisa terjangkit narkoba. Namun kebanyakan dari mereka yang terkena adalah anak-anak yang tergolong tidak bisa menentukan keputusan, dan mudah sekali terpancing denganhal-hal yang baru, sehingga ingin mencoba-coba. Usia pra remaja hingga remaja adalah usia dimana mereka lebih care kepada teman-teman bermain, dengan kata lain peer group sangat berpengaruh. oleh karena itu, lingkungan pergaulan anak,akan sangat berperan dalam menularkan narkoba kepada anak.
lingkungan pergaulan, bukan hanya lingkungan tempat anak-anak nongkrong, namun juga lingkungan sekolah yang juga menjadi tempat yang paling rawan akan peredaran narkoba. Malah sekolah elite yang edentik dengan ketatnya aturan ternyata tidak luput dari incaran jaringan narkoba. sekolah elite justru menjadi sasaran empuk bagi bandar narkoba. hidup serba kecukupan para siswa sekolah elite sering membuat mereka gampang mengeluarkan uang, untuk membeli barang haram tersebut. Apalagi banyak siswa yang tidak mengetahui aneka macam narkoba.
Narkoba juga sudah masuk lingkungan perumahan. Tidak hanya mengedarkan, bahkan beberapa kasus menunjukkan bahwa narkoba diproduksi di lingkungan perumahan. Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar ini sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab banyak pihak, seperti orangtua,guru,dan masyarakat. Salah satunya adalah dengan memberikan penyuluhan mengenai bahaya narkoba dan mengadakan razia mendadaksecara rutin, baikdi sekolah maupun di lingkungan masyarakat. untuk mencegah anak agar tidak terjerumus pada dunia narkoba, orangtua perlu menegaskan kepada anak bahwa narkoba dan sejenisnya adalah HARAM.
Langkah terbaik untuk mencegah agar anak tidak terjerat narkoba adalah mengenal sifat dan perilaku anak. Apakah Anda sudah mengenal anak Anda? berikut ini kuis mengenal anak menurut Raising Drug-Free Children, Veronica Colondan tahun 2007.
- Warna fafavorit anak saya adalah.........
- Sahabat terdekat anak saya adalah..........
- Siapa nama guru anak saya dan siapa guru yang disuka mengapa?
- Siapa yang menjadi panutan di dalam keluaraga?
- Apa yang dikaguminya dari orang yang menjadi panutan?
- Apakah harapan anak untuk sesuatu yang sekarang saya lakukan bagi dia?
- Apa makanan kesukaan anak saya?
- Apa acara televisi yang disuka anak saya?
- Apa pendapat anak saya tentang dirinya sendiri, dan tentang saya?
- Apa hoby anak saya?
- Apa cita-cita anak saya?
Skor Anda jika menjawab dengan benar
- 8-10 : Selamat! Anda sangat mengenal anak anda
- 5-7 : Anda bisa lebih baik memberi perhatian
- Kurang dari 5 pertanyaan : Wah..parah.. sudah saatnya Anda luangkan waktu untuk lebih mengenal anak Anda sebelum terlambat.




