Halloween party ideas 2015

Dalam melakukan komunikasi pada anak perlu memperhatikan berbagai aspek diantaranya adalah usia tumbuh kembang anak, cara berkomunikasi dengan anak, metode dalam berkomunikasi dengan anak tahapan atau langkah-langkah dalam melakukan komunikasi dengan anak serta peran orang tua dalam membantu proses komunikasi dengan anak sehingga bisa didapatkan informasi yang benar dan akurat.

Sebagai orangtua, kita harus mengerti apa yang sebenarnya diinginkan si kecil. Harus kita akui kalau anak-anak sulit mengungkapkan keinginan mereka terutama saat mereka masih kecil.

Agar kita bisa memahami apa sebenarnya yang diinginkan anak sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lebih baik, Anda bisa mengikuti beberapa tips berikut ini.

Bermain bersama anak
Anak-anak belajar dengan lebih baik melalui permainan. Cobalah bermain bersamanya sekurangnya selama 20 menit. Lakukan ini setidaknya tiga kali sehari. Libatkan diri Anda pada permainan yang disukai anak. Cobalah larut dalam permainannya sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lebih lancar sekaligus memberikan pelajaran melalui permainan tersebut.

Cara  Efektif Komunikasi dengan Anak

Jadilah pendengar yang baik
Anak-anak memiliki banyak hal untuk diceritakan dan yang mereka inginkan adalah pendengar yang baik sehingga mereka bisa mengeluarkannya dengan baik. Menjadi pendengar yang baik akan memuaskan keinginan anak sekaligus membuat mereka merasa penting serta memperbaiki hubungan orangtua dan anak. Bahkan terkadang menjadi pendengar yang baik adalah cara terbaik untuk berkomunikasi.

Jadikan anak prioritas
Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak dan jadikan mereka prioritas utama Anda.

Libatkan diri Anda
Tunjukkan kalau kita memang peduli pada anak serta dunianya. Anda bisa melakukan ini dengan mencoba melihat aneka hal dari sudut pandang anak. Berpartisipasilah saat anak menanyakan sesuatu dan tunjukkan rasa ingin tahu seperti yang biasa ditunjukkan si kecil.

Semangati anak untuk berbicara
Janganlah menjadi figur yang dominan saat menyemangati anak berbicara. Cobalah menanyakan hal-hal yang sederhana dimana ia akan dengan senang hati menjawabnya. Cobalah membesarkan hati anak untuk menceritakan sesuatu dengan ekspresi, emosi, mimik dan lain-lain.

Biarkan ia berbicara mengenai keberhasilannya seperti mendapatkan nilai bagus di sekolah, memenangkan lomba atau apapun. Si kecil akan bersemangat bercerita dengan sepenuh hati kepada Anda.

Bantulah anak dengan metode visual
Memperlancar proses komunikasi dengan anak juga bisa dilakukan saat Anda mengajarinya dengan menunjukkan gambar, flash card, video, binatang serta aneka kegiatan lainnya. Tanggapi keingintahuannya dengan menjelaskan dalam bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami serta dimengerti.

Bercerita
Cobalah menceritakan dongeng dengan menggunakan ekspresi wajah, gerakan tangan yang akan lebih menarik perhatian anak.

Tetaplah tersenyum
Sebisa mungkin hindari mimik serius di wajah Anda, begitu pula dengan intonasi suara. Cobalah untuk tetap tersenyum pada si kecil untuk menunjukkan kalau Anda bahagia dengan kehadirannya.

Komunikasi non verbal terdiri atas ekspresi wajah, intonasi suara, kontak mata dan bahasa tubuh. Tanpa kita sadari komunikasi non verbal ini bisa berarti lebih dari ribuan kata lho. Sehingga bahasa tubuh yang menyenangkan membuat si kecil akan lebih dekat dan akrab dengan kita sebagai orangtuanya.

Saya sempat bertengkar hebat dengan anak saya, setelah secara tidak sadar, saya berceloteh panjang lebar tentang prilakunya yang sedang menaksir lawan jenisnya. Saya cerita tentang sikapnya yang mellow dan suka lagu-lagu romantis sejak ditaksir kakak kelasnya di sekolah, ungkap seorang ibu. ketersinggungan anak terhadap 'kelancangan' ibunya itu berbuntut panjang. "anak  ngambek dan gak mau bicara dengan saya selama tiga minggu, hanya karena keteledoran saya ngegosip sama teman-teman".

Apa yang dihadapi oleh seorang ibu tersebut adalah bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak-anaknya.sehingga terkadang orangtua tidak menyadari anaknya sudah dewasa. Rahasia terbesar yang harus dijaga oleh setiap orangtua tentang anaknya adalah ketika anaknya mulai menyukai lawan jenisnya. Karena ini biasanya adalah masalah yang sangat pribadi bagi seorang anak. Anak biasanya tidak ingin semua orang tahu tentang perilaku dirinya ketika sedang menyukai seseorang.Padahal bila anak semakin besar, orangtua perlu semakin memperhatikan dan menghormati privasi anak, "setiap anak pasti memiliki privasi yang tidak dibeberkan terbuka kepada orang lain. Semakin anak tumbuh biasanya keinginan untuk mandiri dan memiliki privasi semakin tinggi. Ia mungkin mulai mempunyai rahasia yang tidak ingin ia ceritakan pada orngtuanya, atau yang ia pikir orangtuanya tidak perlu tahu.

Bila anaknya bicara yang dimulai dengan imbauan "ma, ini hanya rahasia kita berdua saja ya, orang lain tidak perlu tahu bahkan papa sekalipun, sang ibu harus bersiap-siap untuk menjaga rahasia tersebut. Ibu harus memiliki kepekaan yang tinggi akan hal ini. Jika ini dilanggar,  bukan mustahil kepercayaan seorang anak terhadap orangtuanya akan luntur. Efeknya, bisa menjadi trauma pada si anak dan jadi enggan terbuka kepada orangtuanya.
Curhat vs  rahasia

Menjaga Rahasia Anak

Pada dasarnya, curhat atau mencurahkan isi hati  biasanya mulai dilakukan oleh anak 6-12 tahun. Namun isi curhatnya tidak sedalam orang dewasa. Umumnya masih bersipat ringan, atau minatnya pada sesuatu atau soal lawan jenisnya yang menarik perhatiannya. Semakin besar usia anak, seiring juga dengan pengalaman hidup yang dialaminya, jenis curhat akan semakin beragam dan mendalam.

Hanya saja, kadang-kadang ketika sang anak mulai mencurahkan isi hatinya, orangtua kerap abai untuk menahan diri.  tidak sedikit orangtua yang secara tidak sadar suka mengumbar rahasia anak kepada orang lain. pengalaman ini biasanya hanya terjadi pada ibu. Padahal banyak anak  yang berharap orangtuanya bisa mengerti topik pembicaraan apa saja yang sifatnya rahasia dan apa yang tidak.

Orangtua memang kerap lancang bercerita tentang apa yang dihadapinya anaknya. Ia bisa saja terjadi karena setiap orangtua pada dasarnya begitu ingin membimbing dan melindungi anaknya ke jalan yang benar. Hanya saja kadang-kadang jalan itu akhirnya kerap melanggar privasi anak.Kalau privasinya terlanggar maupun rahasianya diungkap, banyak anak yang kemudian menutup diri dan cenderung menghindar dari orangtuanya.

Padahal ketertutupan anak, kerap membuat orangtua semakin ingin tah, sehingga terpancing untuk semakin melanggar privasi anak.Tidak mengherankan jika banyak orangtua yang sengaja "mencuri' membaca buku harian anaknya, menggeledah kamar anaknya "mengintrogasi" teman-temannya hanya karena ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan anaknya.

Sebaiknya orang tua perlu membedakan antara hal-hal yang perlu diketahui dan  hal-hal yang tidak perlu diketahui. Bicarakan hal-hal yang perlu diketahui dengan mereka. Let it go, hal-hal yang tidak perlu diketahui. Terkadang anak menganggap  orangtuanya belum saatnya mengetahui masalah yang dihadapinya. Dalam menghadapi kondisi ini, biarkan dan awasi tingkah  lakunya, jangan didekte atau dilarang, karena ini nanti akan menghambat komunikasi secara terbuka anak kepada orangtuanya.

Anak introvert dan ekstrovert
Soal curhat, tidak selamanya anak percaya, temanadalah sahabat yang baik untuk menjaga rahasianya. "semua tergantung pada keperibadian anak"  Si ekstrovert, umpamanya, karena keperibadian terbuka, akan lebih sreg kalau hatinya ditumpahkan kepada orang lain, supaya lebih plong. Bahkan si ekstrovert bisa melakuakan curhat pada banyak teman-teman. Jadi tak terbatas hanya pada orang yang itu-itu saja.

Sebaliknya, anak intovert umumnya enggan curhat. Kalaupun mau mengeluarkan unek-unek, ia lebih memilih membuat puisi, menulis diari, menggambar, atau sejenisnya. Nah, kalau ada anggapan bahwa anak perempuan lebih sering melakukan curhat ketimbang anak laki-laki, baik anak perempuan maupun laki-laki mempunyai kebutuhan yang sama untuk mencurahkan isi hatinya. Bedanya mungkin hanya pada caranya saja. Ketika curhat, anak perempuan bisa menceritakan dari A sampai Z suatu persoalan.  Sementara anak laki-laki biasanya lebih singkat dan langsung pada inti masalahnya.

Curhat yang wajar dan yang tidak
curhat jelas bukan perilaku negatif karena manusia pada dasarnya butuh mengeluarkan unek-unek, butuh didengar, dan butuh diperhatikan. Dengan curhat, anak bisa meringankan beban masalah yang sedang dihadapinya syukur-syukur bisa mendapat solusi atau setidaknya dukungan semangat dari teman curhatnya itu.
Justru anak yang sama sekali tidak mau mengungkapkan isi hatinya, terkadang memendam masalah yang tidak kunjung terselesaikan. Dengan memendam masalah, berarti ia dituntut menyelesaikan sendiri. Padahal mungkin saja belum mampu untuk itu dan membutuhkan bantuan orang lain.

Namun begitu, perilaku curhat bisa juga membawa dampak negatif. Hal ini terjadi karena cara berpikir anak yang belum bijak, sehingga saran teman-teman yang tidak bisa ditelannya mentah-mentah sebagai suatu solusi. Belum lagi, bila curhat pada teman ini sudah dijadikan suatu kebiasaan.

ujung-ujungnya apa pun permasalahan yang dihadapi anak, akan diungkapkan pada teman-temannya. Termasuk soal keluarga, soal orangtuanya yang suka bertengkar, soal ayahnya yang jarang pulang, soal gaji ayahnya yang sangat besar, soal ibunya yng beli peralatan elektronik mutahir, dan sebagainya. Kalau ini terjadi, curhat bukan lagi suatu yang positif karena akanmengumbar rahasia keluraga yang seharusnya hanya diketahui orang-orangtertentu saja. mungkin saja tanpa disadari, citra anak menjadi negatif di mata kawan-kawanya sehingga bisa dijadikan bahan ejekan ketika hubungan dengan teman-temannya merenggang.

Bila curhat anak ke teman-temanya masih wajar-wajar saja, dalam artian tidak menceritakan permasalahan keluarga, orangtua tidak perlu merisaukannya. Trekadang curhat antar teman dibutuhkan sebagai cara pengekspresian diri, ajang bergaul, untuk mencari teman bergaul baru. Namun bila curhat anak sudah melenceng menyentuh masalah internal keluarga, perlu diluruskan.

Dalam menyikapi masalah ini, orangtua perlu melakukan intropeksi diri karena beberapa penyebab anak lebih memilih curhat  pada temannya ada kaitannya dengan orangtua yang bernasalah. Jangan -jangan selama ini orangtua tidak pernah mendengarkan segala unek-unek dan keluh kesahnya. kalau memang demikian, orangtua perlu membenahi keembali hubungannya yang renggang dengan baik.

Sebagai langkah awal, orangtua mendekati anaknya kembali. Saat anak mencoba curhat, munculkan sikap impati dan dengarkan cerita anak dengan seksama, jangan menghakimi. jika isi curhatnya merupakan permasalahan yang dihadapi anak, berikan solusi penyelesaian sesuai dengan kemampunnya.

Setelah itu barulah anak diajak berdiskusi soal untung rugi menceritakan rahasia keluraga pada orang lain. Gunakan kata-kata sederhana seraya menjabarkan apa akibat yang akan diterimanya saat ia melaukan curhat pada sembarang orang. Diskusi dari hati akan membuat anak berpikir dua kali menceritakan rahasia kelurga.

Perubahan perilaku anak karena pengaruh aliran yang mengatas namakan agama tertentu, memang bukan perkara mudah menghadapinya. Apalagi bila orangtua tidak memiliki dasar-dasar pendidikan agama yang mumpuni. Jangankan membendung desakan aliran tersebut pada anak, sekedar untuk memastikan apakah aliran itu sesat atau bukan, sudah persoalan sendiri.


Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang diartikan sesat adalah ketika aliran tersebut sudah bertentangan dengan Al Quran dan Hadist. Selain itu ada pokok-pokok agama yang berbeda dengan dengan ajaran yang sebenarnya seperti rukun Islam, rukun islam, rukun imam, syahadat, puasa, zakat, dan lain-lain. Lebih jelasnya terdapat 10 ciri dimana aliran sesat tersebut dapat dikatakan sebagai aliran sesat.

Diantaranya, mengingkari rukun Islam dan Iman, meyakini aqidah yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, mengakui adanya wahyu setelah Al-Quran, mengingkari kebenaran isi Al-Quran, membuat tafsiran baru yang tidak menurut kaidah penafsiran, mengingkari kedudukan Hadist nabi Muhammad, menghina para nabi dan rasul, mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, mengubah atau menambah pokok-pokok ibadah, dan mengkafirkan sesama muslim.

Lindungi Anak Dari Aliran Sesat

Fenomena aliran sesat bukan hanya dihadapi kaum Muslim, agama lain menghadapi permasalahan yang sama. Misalnya kristen, Ada dua pengaruh masuknya aliran sesat ini. pertama, masuknya pengaruh konteks budaya atau agama setempat. Kedua, adanya kekosangan atau kekurangan tertentu dalam gereja asalnya.

Muncul silih berganti
Hadirnya aliran-aliran yang dianggap menyimpang sebenarnya sudah sejak lama, sempat beredar dan berkembang di Indonesia. Tumbuhnya aliran sesat ini antara lain dipicu oleh beberapa persoalan didalam sebuah negara. Sebab munculnya aliran yang dianggap sesat bukan hanya di Indonesia , tetapi juga diluar negeri. Amerika sekalipun bisa dimasuki oleh aliran- aliran yang dianggap sesat ini, tetapi jenis dan bentuknya yang berbeda.

Biasanya aliran ini muncul ketika ada orang-orang yang sedang kehilangan pegangan, dan mencari seorang tokoh yang berkharisma. khususnya para generasi muda yang membutuhkan dan mencari tokoh yang bisa diandalkan untuk diikuti. Munculnya seorang tokoh kharismatik ditengah-tengah keadaan yang kacau, seperti hukum yang tidak berlaku, nilai-nilai yang tidak jelas dan lain-lain, akan mudah menjerumuskan orang-orang tersebut. Apalagi kaum muda remaja yang sangat mudah terpengaruh akan aliran seperti ini. Tetapi yang perlu diperhatikan ternyata bukan hanya kaum muda saja terpengaruh, orangtua dan tokoh agama juga banyak yang terpengaruh oleh aliran-aliran yang dianggap sesat ini.

Penyebab berbagai aliran sesat ini, pada umumnya menjadikan remaja dan pelajar sebagai target. Dengan bermodalkan kepiawaian dalam berkomunikasi dan sangat persuasif dalam mengajak, para utusan aliran tersebut berusaha masuk ke kalangan remaja. Apalagi biasanya kelompok beraliran sesat ini mempunyai motif materi dan motif ekonomi, sehingga masyarakat yang menginginkan jalan pintas untuk mendapatkan kebahagian biasanya mudah terpengaruh. misalnya, dengan Rp. 400 Ribu bisa masuk surga, atau jemaat yang dapat merekrut jemaat baru alan mendapatkan beberapa ratus ribu, dan lain-lain.

Masa remaja memang masa dimana seorang anak sedang mencari jati dirinya, berusaha mencari teman, berusaha lepas dari pengaruh orangtua dan berpetualang mencari eksistensi diri. Aliran-aliran fundamintalis cenderung berupaya merekrut anak usia remaja, karena mereka masih dalam pembentukan diri, dan sangat tertarik dengan hal baru. Pada usia ini anak mentransformasikan semua informasi yang masuk dan kemudian akan menentukan sikapnya. Namun mereka cenderung lebih tertarik pada sesuatu yang baru yang mereka anggap militan.

Ada beberapa hal yang diperlihatkan si anak ketika sudah terpengaruh sesuatu. Diantaranya, terjadi perubahan drastis pada si anak. Misalnya, anak yang tadinya sangat komunikatif, jadi sering mengurung diri atau malah sering pergi sendiri. Selain itu anak seperti itu memiliki rahasia yang pantang diketahui atau share kepada anggota keluarga, suka menyendiri, sering merenung, dan biasanya tidak mau menjelaskan apa yang sedang mereka alami.

Bentengi anak
Bukan hanya gejala yang harus diperhatikan, peran orangtua sangat diperlukan untuk melindungi anak dari jerat aliran sesat. Hal utama yang harus dilakukan oleh orangtua adalah komunikasi dua arah dengan anak, terbuka. Membekali anak dengan spiritual yang kuat, serta berusaha mengetahui ajaran-ajaran yang sedang berkembang saat ini. Yang juga penting adalah memperhatikan isi kamar anak karena biasanya mereka mengikuti aliran-aliran seperti ini senang membaca buku-buku spiritual dan religius.

Proses penyebaran biasanya dilakukan melalui berbagai kegiatan keagamaan dengan materi kajian agama, penjabaran, dan kemudian di ikuti proses penyesatan. oleh karena itu orangtua perlu memberi pemahaman kepada anak agar tidak mudah percaya kepada orang lain yang menjanjikan kemudahan dan kepastian.

Hal yang perlu kita perhatikan dan selalu ingat adalah jangan pernah memberikan sanksi atau hukuman apa pun pada anak ketika kita sedang marah apalagi dalam kondisi emosi sedang memuncak. Pada saat kita sedang marah atau emosi kita sedang tinggi, apapun yang keluar dari mulut kita, baik dalam bentuk kata-kata atau hukuman akan cenderung untuk menyakiti dan menghakimi dan tidak menjadikan anak kita lebih baik.
Selain kita akan menyesal dikemudian hari, akibat yang sangat fatal adalah kita telah melukai hati anak kita dan anak seringkali tidak bisa melupakan kejadian itu meski ia telah beranjak dewasa. Anak juga bisa mendendam pada orangtuanya karena sering mendapatkan perlakuan diluar batas.
Ingatlah selalu :
Hukuman hanya menjadi salah satu bagian dari pendisiplinan. Ini bagian penting karena anak-anak terkadang menolak memperbaiki perilakunya kendati sudah diberi tahu berulang kali. Orangtua membentak, berteriak, mengancam, bahkan menampar, tapi hasilnya sia-sia. Hukuman bisa mengatasi semua itu. Berbagai cara digunakan oleh orangtua untuk menghukum anak-anak mereka.
Hukuman memang suatu konsekuensi negatif. Apabila digunakan secara tepat, hukuman bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan perilaku buruk. Hanya saja, menggunakan hukuman secara benar itu sulit. Perlu konsistensi yang terus-menerus. Terlalu banyak hukuman itu tidak baik. Bisa menciptakan perasaan yang tidak menyenangkan. Ia bisa menyedot energi. Kebanyaan orangtua percaya, menghukum perilaku buruk akan menghentikan anak dalam mengulangi perbuatannya. Kadang-kadang itu benar, tapi terkadang pula salah.

            Hukuman yang baik adalah yang jarang digunakan
Hukuman apa pun yang digunakan terlalu sering tidak akan berjalan baik. Perilaku buruk pun takkan menjadi lebih baik. Hukuman yang sesungguhnya adalah yang jarang digunakan karena jarang dibutuhkan. Ini aturan utama dari hukuman. Hukuman harus mengurangi kebutuhan akan hukuman yang lebih banyak.
Jangan Menghukum Anak Pada Saat Sedang Marah
Kalau perilaku buruk tak berubah juga, maka hukuman tersebut tidak mempan. Banyak orangtua melakukan kesalahan karena lebih memfokuskan pada hukuman ketimbang perilaku buruk. Jika Anda menghukum anak Anda lima sampai enam kali sehari untuk perilaku buruk yang sama, itu berarti sebetulnya hukuman tidak berjalan. Jika Anda terus menambah hukuman dan perilaku buruknya berlanjut, hukuman tersebut tidak efektif.

Bukan hukumannya yang penting, tapi perilaku buruknya. Hukuman harus bisa mengubah perilaku buruk. Kalau tidak bisa, ganti dengan hukuman yang lain. Anda mungkin beranggapan bahwa membentak, mengancam, memaki, dan menampar adalah hukuman yang baik. Itu hanyalah reaksi dalam melepas kemarahan Anda. Itu bukan hukuman yang baik. Amarah dan hukuman tak dapat dicampuradukkan.

            Jangan menghukum di saat kita marah
Tampaknya memang tidak realistis, tapi itulah yang benar. Ketika kita memberi hukuman dalam suasana marah, sebenarnya kita melakukan dua hal pada saat yang bersamaan. Kita menghukum. Kita bereaksi dengan marah. Bagaimana jadinya kalau anak kita ternyata bermaksud membuat marah kita? Bagaimana jadinya kalau anak kita ingin impas atau membalas gara-gara persoalan yang terjadi sebelumnya? Melihat kita marah itu bukan hukuman. Itu ganjaran!

Bila kita marah pada suatu perilaku buruk, kita mengajarkan pada anak bagaimana mengendalikan emosi. Kita memberi kekuasaan pada si anak. Terbayar sudah kemauan anak. Perilaku buruknya yang semakin diperkuat, bukan hukumannya. Alhasil, perilaku buruk pun meningkat. Efek hukuman disangkal oleh ganjaran yang berupa kemarahan kita itu. Anak-anak merasa senang dengan itu karena mereka berhasil memperoleh keinginannya.

Satu-satunya jalan untuk mematahkan siklus pembalasan tersebut adalah tidak menjatuhkan hukuman yang disertai amarah. Kalau kita sadar akan marah, pergi saja. Hilangkan dulu amarah itu, kemudian baru hadapi perilaku buruk si anak. Jangan biarkan anak berhasil memprovokasi kita.

Jangan menghukum ketika kita marah. Redakan dulu. Tujuan hukuman adalah mengajari anak berperilaku lebih baik di kemudian hari. Tujuannya bukan untuk impas. Kadang-kadang anak bisa membuat kita hilang kesabaran, dan saat itu bukanlah waktu untuk menjatuhkan hukuman.

Terkadang orangtua bereaksi secara berlebihan. Apa komentar Anda terhadap seorang ibu yang tidak memberi makan putranya selama lima jam ketika dia menghilangkan sweater-nyadi sekolah. Ketika kita bereaksi berlebihan karena marah, perkataan kita bisa jadi tidak masuk akal. Kita tentu saja tidak bisa membiarkan anak kelaparan selama beberapa jam. Jadi, jangan hukum anak ketika kita sedang marah. Kalau marah, kita mengajarkan kepada anak-anak bahwa hukuman merupakan bentuk pembalasan.

Tujuan memberi hukuman adalah mengubah perilaku buruk dan mengajarkan kepada anak untuk dapat mengambil keputusan yang lebih baik. Hukuman akan sangat efektif bila ditetapkan sebelumnya dan direncanakan. Hukuman tidak akan berjalan baik bila itu berupa reaksi impulsif. Saat marah dan menghukum, kita bertindak sebagai contoh bagi perilaku negatif. Kita tidak mengajari anak-anak untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Jangan menghukum untuk mempermalukan
    Hukuman seharusnya tidak mempermalukan, menghina, atau merendahkan anak. Hukuman dimaksudkan untuk mengajarkan bahwa berperilaku buruk itu salah.
Kalau hukuman itu sampai mempermalukan anak, di dalam dirinya akan timbul perasaan yang tidak sehat. Tindakan mempermalukan hanya akan menyebabkan si anak menilai kita jahat dan tidak adil. Dia tidak belajar tentang kerja sama. Anak mungkin akan menyerang balik dengan kemarahan. Ini bisa mengawali terjadinya siklus negatif.
Jangan menghukum anak di hadapan anak-anak lainnya. Ajak dia menjauh. Beri tahu dia mengenai apa yang telah diperbuatnya dan nanti dia akan dihukum karenanya. Bicarakan masalah tersebut nanti, ketika kita berdua sudah sendirian.

           Konsistenlah
Hukuman harus dilaksanakan secara konsisten. Ketika memutuskan untuk menghukum perilaku buruk, lakukan selalu. Kalau kita menghukum hanya ketika menyukainya, hal ini justru akan menjadikan permasalahan kian memburuk. Kalau kita sudah mengatakan kepada anak bahwa dia akan dihukum, benar-benar lakukanlah.
Kita harus menggunakan hukuman secara konsisten, meskipun kitaa dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Jangan biarkan sedikit pun perilaku buruk terjadi. Banyak orangtua membiarkan hal tersebut terjadi pada saat-saat tertentu. Anak-anak menyukainya. Ini akan memotivasi mereka menguji kita - untuk menjajaki apakah kita akan menghukum mereka.
Saya sering mendengar ibu-ibu mengeluh karena anak-anaknya tak mau menggubris apa yang dikatakannya. "Saya sudah mencoba semuanya. Tapi tampaknya tak berhasil." Setelah berdiskusi, alasannya menjadi jelas. Kebanyakan ibu menghukum secara tidak konsisten ketika anak-anak berperilaku buruk. Kadang-kadang mereka menghukum perilaku buruk, tapi di saat lain mereka membiarkannya karena menganggap tidak ada hasilnya. Anak-anak melanjutkan perilaku buruknya karena mereka sering berhasil melakukannya.

            Gunakan hukuman yang mudah dilaksanakan
Pilihlah hukuman yang dapat kita laksanakan dengan mudah. Jika hukuman itu merepotkan dan melelahkan, kita akan menjadi kurang konsisten. Jika hukuman yang merepotkan tidak juga membuat perilaku anak berubah, berpikirlah dengan hukuman lain. Butuh cara yang lebih efektif untuk melaksanakan hukuman.

           Jelaskan hukumannya
Beri tahu anak kita mengenai tujuan hukuman itu. Ketika kita menjelaskan hukuman, kita meningkatkan pemahaman dan kerja sama dari si anak. Jelaskan bahwa kita bukanlah musuh. Kita berusaha membantunya untuk memperbaiki perilakunya yang salah. Jelaskan pula bahwa kita tidak melakukan pembalasan. Mungkin kita akan menghadapi komentar yang menjengkelkan. Jelaskan sekali saja. Jangan terjebak dalam penjelasan dan perdebatan yang bertele-tele.

            Lebih besar tidak selalu lebih baik
Hukuman yang lunak biasanya lebih produktif daripada hukuman yang keras. Pertahankan segala sesuatunya dalam perspektif dan bereaksilah secara tepat terhadap besar-kecilnya perilaku buruk. Jangan menggunakan "meriam" bila hanya untuk "membunuh nyamuk". Semisal menyuruh anak menggantungkan handuk di tempatnya. Jangan larang anak menonton acara TV favoritnya selama sebulan hanya karena dia tidak menyelesaikan makannya, atau lupa menelepon kita sebagaimana yang telah kita suruh. Pilih hukuman yang sepadan dengan perbuatannya.

Gunakan konsekuensi sesuai realitas. Anak yang membuat barang-barang berserakan, dialah yang akan membenahinya. Anak yang pulangnya terlambat tidak boleh keluar di hari berikutnya. Anak yang lebih suka menonton TV ketimbang mengerjakan PR akan berangkat sekolah tanpa mengerjakannya, dan itu menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan konsekuensi yang relevan terhadap perilaku buruk. Semua itu akan bermakna bagi anak-anak Anda, dan membantu memberi mereka pelajaran.
Ada anak-anak yang bisa dipercaya untuk memilih hukumannya. Ini membantu mereka belajar lebih cepat. Ini juga mendorong mereka untuk lebih dewasa dan bertanggung jawab.

"Perilakumu sangat bagus sebelum peristiwa ini. Aku akan mempercayakan padamu untuk memilih sendiri hukumanmu atas perilaku buruk ini. Beri tahu aku apa yang kamu putuskan."
Hukuman berat sering menimbulkan rasa marah atau pembalasan. Yang kecil, sederhana, dan berjangka pendek biasanya lebih efektif. Bila anak kita marah, hanya sedikit yang ia pelajari. Jika anak merasa Anda tidak adil dalam menerapkan hukuman, dia akan cenderung membalas dendam atau mendebat. Ini akan memicu siklus negatif. Kita menghukum, anak marah dan membalasnya dengan berperilaku buruk lagi, mungkin lebih buruk dari sebelumnya. Kita hukum lagi, mungkin dengan lebih keras, untuk menegaskan maksud kita. Anak menjadi semakin marah dan membalasnya dengan berperilaku buruk lagi.

           Cara menghukum anak tanpa menghukum diri sendiri
Kadang-kadang karena kekalutannya, orangtua melontarkan ancaman yang justru lebih merugikan dirinya ketimbang anaknya. "Kita tidak akan pergi ke restoran sebelum kamu membersihkan kamarmu. Restoran tutup pukul 23.00, sekarang sudah jam 22.30." Kalau Anda pergi ke mana pun dia tetap ingin ikut, ancaman itu manjur. Kalau dia ternyata tidak ingin ikut, Anda telah memberi kekuatan besar kepada anak Anda. Tak seorang pun pergi sebelum kamar dibersihkan. Anda memberi anak tersebut kendali atas seluruh keluarga. Siapa sebenarnya yang dihukum? Seluruh anggota keluarga, termasuk anak itu.

Pilihlah hukuman yang berdampak pada anak kita, bukan pada Anda. Anak-anak yang lain juga bisa belajar bahwa hukuman hanya berlaku bagi yang berperilaku buruk. Orangtua sering bertanya bagaimana caranya melarang satu anak menonton TV. Kalau harus mematikan TV, anak-anak lain juga ikut dihukum. Itu benar. Makanya, jangan matikan TV karena satu anak dilarang. Itu menghukum semua orang. Anak yang sedang dihukum harus pergi ke ruang lain. Kalau tak seorang pun boleh menonton TV gara-gara dia tak boleh menonton, kita memberi si anak kendali atas seluruh keluarga.

           Menggunakan larangan secara konstruktif
Larangan berarti kehilangan satu atau lebih kesenangan untuk waktu tertentu. Larangan menjadi hukuman yang berguna bagi anak dan remaja. Kita perlu menentukan apa kesenangan itu. Beberapa contohnya adalah dilarang menonton TV, tidur awal, dilarang bertemu teman, tak boleh menggunakan telepon, tidak boleh bermain video game, dilarang bermain mainan, dan sebagainya. Pilih larangan yang mudah dilaksanakan dan berdampak pada yang dihukum, bukan yang lain.

Melarang anak berperilaku buruk menjadi format hukuman yang populer. Sayangnya, tak banyak orangtua menggunakan larangan secara efektif. Kebanyakan orangtua menentukan periode waktu yang terlalu lama. Sebagai orang dewasa, kita lupa bahwa seminggu atau dua minggu bisa terasa selamanya bagi si anak. Periode larangan yang lama sering kali merupakan hasil dari pertengkaran, rasa sakit hati, atau amarah. Ini takkan membawa hasil yang baik, karena bisa menjadikan anak merasa dianiaya. Hal semacam itu bisa menimbulkan rasa balas dendam, dan siklus pembalasan pun dimulai.

Dalam larangan, ada masalah yang mengikuti. Anak-anak yang dikenai larangan merasa tak punya harapan. Tanpa harapan, hanya ada peluang kecil untuk berperilaku baik. "Kenapa mesti berperilaku baik? Bagaimanapun saya tak bisa keluar selama seminggu." Lalu, si anak pun berpikiran bahwa orang-orang lain itu memang menyebalkan. Ada solusi manjur untuk persoalan tersebut.

Periode larangan seharusnya tidak lebih dari 12 hari. Periode maksimum yang efektif biasanya 12 hari. Kalau lebih lama dari itu, risiko pembalasan akan muncul. Selanjutnya, jelaskan bahwa setiap hari baik akan mengurangi hukuman satu hari di akhir periode larangan. Misalnya, Anda menerapkan larangan selama enam hari dari Rabu sampai Senin. Kalau si anak menjadi baik pada hari Rabu, larangan pada Senin dibatalkan. Jika Kamis berjalan baik, maka Minggu dihapus. Jika Jumat berjalan baik lagi, larangan di hari Sabtu pun dibatalkan. Jumat menjadi hari terakhir larangan. Anda bisa menggunakan tabel atau kalender, sehingga anak Anda bisa mencoret hari-hari itu dan melihat perkembangannya.

Teknik tersebut bisa berjalan sangat baik. Anak-anak bisa tahu bahwa kita tetap ingin adil meskipun hukuman itu serius. Anak-anak juga menjadi tahu bahwa kita mengharapkan perilaku yang tepat kendati dalam larangan. Dilarang atau dibatasi bukan berarti tidak kooperatif. Jadi, pendekatan ini memberi anak kita insentif yang kuat untuk segera berperilaku baik. Hanya duduk-duduk di rumah selama seminggu bukanlah hal yang mengerikan. Keberhasilan strategi ini tergantung seberapa bagus kita mendefinisikan hari baik. Lalu, tetap berpegang pada apa yang kita katakan. Akan sangat membantu apabila kita menulis apa yang dibutuhkan.
  • o    Peraturan untuk membatalkan hari larangan:
  • o    Melakukan yang Anda minta.
  • o    Berbicara dengan nada yang menyenangkan.
  • o    Berbaik hati dan sopan pada saudara-sau daramu.
       Pastikan bahwa hari baik itu benar-benar hari baik. Jangan batalkan hari kalau memang tidak patut dibatalkan. Jika kita terlalu mudah membatalkan hari, kita akan mengalahkan tujuan dari pendekatan ini. Walaupun terkena larangan, anak masih bisa melakukan aktivitas lainnya
Gunakan dulu umpan balik positif  
Untuk menghadapi perilaku buruk yang berulang lagi, hukuman seharusnya hanya digunakan setelah kita mencoba sejumlah upaya positif. Kebanyakan orangtua mendahulukan hukuman. Mereka percaya perilaku buruk harus ditangani dengan hukuman.

Kita bisa memperbaiki perilaku buruk dengan menggunakan umpan balik positif untuk memperkuat lawan perilaku buruk. Dua anak kita terus bertengkar. "Kalau tidak berhenti bertengkar, kamu berdua tidak boleh ikut piknik sekolah minggu depan."

Tunjukkan kebalikannya ketimbang hukumannya. Kebalikan bertengkar adalah bekerja sama. Gunakan dorongan semangat dan umpan balik positif ketika mereka berkeja sama dan berbagi. "Sungguh menyenangkan melihat kalian bersenang-senang. Benar-benar menggembirakan melihat kalian berdua berbagi komputer."

Banyak orangtua terjebak untuk tergesa-gesa menerapkan hukuman. Padahal ini benar-benar tidak nyaman. Salah satu cara untuk menghindarkan diri dari jebakan itu adalah memfokuskan pada perilaku positif. 

Pilek ya flu. Flu ya pilek. Benarkah demikian? Meski keduanya merupakan jenis penyakit yang berkaitan dengan saluran pernapasan (respiratory illesess), namun berbeda. keduanya memang memiliki gejala yang hampir sama, namun virus penyebabnya berbeda.Perilaku virus pilek (common colds) dan flu (influenza),agak mirip. Keduanya masuk ke tubuh manusia melalui hidung dan mulut. Keduanya menyerang sinus, tenggorokan dan pembuluh pernapasan bagian atas.

Umumnya, gejala pilek muncul secara bartahap dan tidak menyebar luas, dan hanya berlangsung singkat. Gejala pilek tidak berat dan biasanya berupa hidung tersumbat, batuk produktif, kelelahan ringan, dan nyeri tubuh yang terbatas. Pilek juga dapat menyebabkan radang tenggorokan. Sementara gejala flu muncul tiba-tiba dalam 3-6 jam diawali dengan demam dan nyeri otot, kemudian menyebar menyerang seluruh tubuh dan merasa lelah, yang berlangsung hingga 2 minggu. 

Istirahat yang cukup merupakan cara paling efektif untuk meredakan gejala pilek atau flu, terutama ketika demam. Penderita flu atau pilek juga dianjurkan untuk banyak minum, berhenti merokok, dan hindari merokok pasif. Cairan akan membantu mengganti lendir yang hilang dari hidung dan dada, serta membantu mencegah dehidrasi  akibat demam. Sementara asap rokok dapat mengiritasi saluran napas dan memperparah gejala flu dan pilek.

Untuk mempercepat penyembuhan, saat ini banyak tersedia obat yang dijual bebas dan obat dengan resep dokter untuk membantu meredakan gejala kedua penyakit ini.

Kelompok jenis obat yang biasa terdapat dalam obat bebas untuk mengobati pilek dan flu:
  • Analgesik meredakan nyeri otot dan mengurangi demam. 
  • Antihistamin  menghadang histamin, suatu zat yang dilepskan dalam merespon alergi dan penyebab pilek dan bersin. Antihistamin membantu meringankan pilek dan mata berair.
  • Ekspektoran bekerja dengan mengencerkan lendir/dahak (mulus) sehingga menjadi lebih mudah untuk dibatukkan.
  • Antitusif menghentikan batuk, dan direkomendasiakan untuk batuk kering yang tidak terdapat lendir.
  • Flu pada anak
  • Dekongestan diberikan secara oral  atau semprot hidung untuk melonggarkan pernapasan dan mengurangi hidung tersumbat.
Gunakan obat tersebut sesuai dengan anjuran dokter atau sebagaimana tertera pada label obat bebas. Bacalah label produk dengan baik, batas penggunaan obat seperti kondisi medis pre-existing atau obat lain yang digunakan. Periksalah bersama farmasis atau apotiker mengenai kemungkinan duplikasi pemberian obat, dan interaksi obat antara beberapa obat bebas, atau antara obat bebas dengan obat resep dokter.

Tidak sedikit kalangan ibu-ibu yang sering mengeluhkan anaknya tidak mau makan sayuran. Padahal banyak kandungan vitamin yang bermanfaat bagi pertumbuhannya.

Vitamin A yang terdapat pada wortel akan membantu kejernihan mata anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Lantas bagaimana agar anak-anak mau memakan sayuran?

Berikut ada beberapa kiat yang bisa Anda lakukan agar sang anak tertarik untuk menyantap sayuran.

1. Saat acara makan bersama tunjukkan minat orang tua terhadap sayuran. Ini sangat efektif karena anak cenderung akan meniru apa yang orang tuanya lakukan.

2. Tambahkan sayuran ke dalam makanan favorit anak Anda. Misalnya anak Anda sangat menyukai nasi goreng, maka tambahkan sayuran pada nasi goreng tersebut.

3. Ajak anak untuk berbelanja sayuran ke swalayan. Biarkan anak untuk memilih sayuran yang ia mau,biasanya hal demikian akan memudahkan anak untuk memakan sayur karena ia yang telah memilih apa yang akan dimakannya.

4. Campurkan kaldu pada sayuran agar dirasakan lebih gurih oleh anak.

5. Sekali-kali berikan motivasi melalui bacaan cerita atau dongeng yang mengisahkan tentang manfaat sayuran.

6. Libatkan anak saat memasak sayuran. Dengan suasana yang menyenangkan anak akan lebih bersemangat mencoba hal-hal yang baru di dapur, namun orang tua harus lebih mengawasinya agar tidak melakukan hal-hal yang membahayakannya selama di dapur.

7. Tetap bersabar jika anak tidak mau makan sayur, terus dicoba akan tetapi jangan memaksanya. Justru dengan semakin dipaksa, anak akan semakin menghindari sayur dan menjauhinya.

8. Variasi dalam memasak. Perlu disiasati pula dalam memasak sayuran agar anak tertarik untuk memakan sayuran. Misalnya Anda mencampurakannnya dengan telor dadar.

9. Kreatifitas menghiasi makanan anak dengan sayuran. Anda bisa membuat wajah di piring nasi goreng anak dengan mata dari kacang polong, rambut dari bayam, bibir dan hidung dari wortel, dan telinga dari bunga brokoli. Tentu hal ini akan menarik perahatian anak dan mereka terdorong untuk memakannya karena bentuknya yang lucu.

Selamat mencoba
Powered by Blogger.