Halloween party ideas 2015

Menjaga kesehatan dan kebugaran saat ini kerapkali dikaitkan dengan dengan pasokan suplemen. Padahal, jika pola makanan yang kita lakukan sehari-hari sudah mengikuti menu gizi seimbang, suplemen tak lagi diperlukan.

Sebagai makanan tambahan atau pelengkap, suplemen makanan harus dikonsumsi pada saat yang tepat dan sesuai dengan kondisi tubuh seseorang. Seseorang dapat saja mengkonsumsi suplemen jika dia sedang hamil, menyusui, baru sembuh dari sakit, pada masa pertumbuhan atau orangtua yang metabolisme tubuhnya sudah menurun. Suplemen juga bisa bermanfaat untuk anda yang sedang menggunakan obat-obatan dalam jangka panjang. Misalnya penderita TBC, yang memang butuh vitamin B6. Tapi suplemen tak boleh dikonsumsi terus-menerus, jika kondisi sudah pulih sebaiknya konsumsi suplemen dihentikan saja. Mengingat bahwa suplemen makanan hanya berfungsi memelihara kesehatan bukan obat yang dapat menyembuhkan. Bahkan jika kebutuhan gizi sudah tercukupi untuk sehari-hari, tidak lagi perlu mengkonsumsi suplemen. 

Beberapa tahun terakhir ini, makanan tambahan atau suplemen gencar sekali dipasarkan melalui berbagai media. Iming-iming hidup sehat menjadi faktor yang memancing Anda untuk tergoda. Booming produk suplemen seakan berlomba, bukan hanya melalui media cetak, media televisi atau mall-mall, bahkan sudah masuk kerumah-rumah melalui MLM.

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya dengan sayuran dan buah-buahan serta makanan tradisional yang sarat vitamin apakah masih diperlukan lagi suplemen tambahan? Meskipun begitu tingginya kebutuhan anda akan vitamin, namun alangkah bijaknya anda tidak membiasakan mengkonsumsi suplemen. Sudah selayaknya anda banyak mempertimbangkan dengan pedoman gizi seimbang yang selama ini anda anut dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah sebenarnya suplemen itu dan benarkah kita memerlukannya? Suplemen adalah substansi penting yang disarikan dari bahan alami, yang dimaksudkan untuk membantu seseorang dalam mempertahankan vitalitas tubuh. Pada hakekatnya suplemen kerap dikaitkan dengan kebugaran dan kekuatan fisik. Meski belakangan juga dikhususkan untuk pria, wanita, anak-anak. Pasaran yang segmented ini membuat bisnis suplemen seolah menjadi bisnis yang tak kenal mati dan menggiurkan.

Meskipun terbuat dari bahan alami, bukan berarti anda aman-aman saja mengkonsumsi suplemen. Produk suplemen yang dijual juga mengandung bahan kimia bahkan bahan aktif yang bisa membahayakan kesehatan anda, akibat kontarindikasi. Sebaiknya anda tetap berkonsultasi dengan dokter saat mengkonsumsi suplemen. Sebaiknya seseorang tidak perlu membentengi diri dengan suplemen terus-menerus karena tubuh seseorang sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit asalkan menganut pola hidup sehat dan mengkonsumsi makanan gizi seimbang.

 Pilih Suplemen Atau Makanan Alami

Dari ratusan suplemen yang beredar hanya sebagian kecil saja yang memiliki keefektifan dan aman dikonsumsi. Pasalnya awam seringkali keliru menganggap suplemen adalah obat, padahal suplemen bukan obat. Harap diketahui, produk obat yang gagal memenuhi syarat sebagai obat akhirnya beralih menjadi golongan suplemen.

Overdosis suplemen pun seharusnya menjadi pertimbangan saat anda memutuskan untuk memilih bahan suplemen yang anda perlukan. Karena bukan hanya semata-mata anda memerlukan. Namun yang anda perlukan justru kehati-hatian dan kecermatan saat membaca imformasi yang tertera disetiap kemasan produk suplemen. Ingat, jangan mudah terbujuk rayuan iming-iming sehat dan bugar.

Terkait dengan masih minimnya penelitian terhadap berbagai produk suplemen yang banyak beredar di masyarakat, ada baiknya anda justru bijak menentukan perlu atau tidaknya menkonsumsi suplemen. Harganya yang cukup mahal, sebaiknya menjadi alasan anda untuk memepertimbangkan pentingnya membeli membeli produk suplemen. Alangkah baiknya jika anda berinisiatif menyajikan makanan sehat bergizi untuk sekeluarga. Selain suplemen makanan yang diraih, suplemen cinta yang anda peroleh pasti lebih banyak lagi. seperti dikutip dari bening.

Dalam takaran yang pas, kopi punya sejuta manfaat bagi kesehatan. Namun ada kalanya konsumsi kopi harus dikurangi, sebab seringkali kalau sudah berlebihan justru bisa memicu berbagai keluhan ringan dan gangguan serius bagi kesehatan seperti mengacaukan siklus tidur.

Selain menyebabkan rasa kantuk di siang hari, gangguan tidur di malam hari juga mengakibatkan sakit kepala, pegal-pegal, lesu, lemah, dan sebagainya. Dalam jangka panjang dapat menyebabkan otak dan jantung kekurangan oksigen, sehingga terjadi gangguan pada jantung, mengurangi kepandaian serta kekebalan (mudah lupa, pikun, dan sakit). Kekurangan oksigen pada jantung juga dapat menyebabkan mimpi yang menakutkan.

Karenanya, setiap orang membutuhkan siklus tidur yang normal sesuai dengan tingkatan usianya. Siklus tidur di malam hari (ultradian sleep cycle), mestinya ditandai siklus rapid eye movement (REM) dan siklus non-rapid eye movement (NREM) yang muncul bergantian antara 90 - 110 menit. Tidur yang "baik", memiliki siklus REM tidak lebih dari 25% dari total waktu tidur. REM merupakan batas antara tidur dan terjaga, saat daya ingat dan respon terhadap sinar dan suara masih ada, meskipun tidak sampai terbangun.

Pengacau Siklus Tidur Yang Harus Anda Hindari
Saat REM, mata dan anggota tubuh lainnya tidak istirahat, sehingga tidur tidak nyenyak dan gelisah, mudah terbangun, dan sering bermimpi. Sekitar 80% dari mimpi tersebut dapat diingat sampai ke detil-detilnya. Denyut jantung dan pernapasan tidak teratur. Makanya ketika terbangun, akan terasa sakit kepala, mata lelah, pegal-pegal di otot leher, bahu, dada, dan sendi-sendi, serta mengantuk di siang hari.

Sementara pada siklus tidur NREM, terjadi tidur yang begitu nyenyak, sehingga nyaris tidak mengingat apapun, termasuk mimpi. Ada empat tingkat kenyenyakan pada siklus NREM. Tingkat 1 dan tingkat 2 merupakan tahap kenyenyakan yang paling banyak dialami orang (50 - 60%).

Sedangkan pada tingkat kenyenyakan 3 dan 4, tubuh menunjukkan keadaan istirahat maksimal (metabolisme, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan menurun) disertai sekresi hormon pertumbuhan dan hormon-hormon lain yang sangat penting dalam proses pemulihan, karena merangsang pertumbuhan sel-sel baru di seluruh tubuh menggantikan sel-sel rusak dan mati. Pikiran pun jadi cerah, tubuh segar dan berenergi, karena tidur nyenyak tanpa gangguan.

Anak-anak mengalami siklus tidur NREM di tingkat 3 dan 4 lebih lama dan akan berkurang dengan bertambahnya usia. Di usia lanjut, siklus tidur NREM umumnya hanya sampai tingkat 1 dan 2 sehingga mudah terbangun dan mudah tertidur.
Beberapa alasan yang perlu dipertimbangan untuk mengurangi kopi adalah sebagai berikut:
1. Kandungan kafein dalam kopi meningkatkan produksi catecholamine, salah satu hormon stres. Respons stres akan meningkatkan produksi insulin, sementara insulin yang terlalu banyak akan memicu peradangan dan rasa tidak enak badan.

2. Kebiasaan minum kopi yang berlebihan bisa mengurangi sensitivitas insulin, sehingga tubuh kesulitan menilai kebutuhan gula darah. Kalau kadar gula darah berlebihan, risiko kerusakan pembuluh darah serta kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat.

3. Kopi murni punya banyak senyawa antioksidan yang bermanfaat, tapi kadang juga mengandung diterpen. Senyawa yang disebutkan terakhir ini berhubungan dengan peningkatan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) atau kolesterol jahat dan trigliserida.

4. Kandungan asam kolinergik dalam kopi bermanfaat untuk menunda penyerapan glukosa di usus, tetapi juga bisa meningkatkan kadar senyawa homosistein. Senyawa tersebut merupakan indikator adanya peningkatan risiko penyakit kardiovaskular yang dijumpai pada diabesitas (diabetes yang dipicu oleh obesitas).
5. Keasaman kopi juga berhubungan dengan rasa tidak nyaman di saluran pencernaan, serta banyak dikaitkan dengan berbagai gangguan seperti GERD (gastro esophgial reflux disease), nyeri dada, perut kembung serta disbiosis (ketidakseimbangan flora usus).

6. Kecanduan adalah masalah lain yang sering dipicu oleh kopi dan membuat tubuh susah menemukan sumber energi yang sesungguhnya. Coba tanyakan pada orang-orang yang pernah sakau karena belum minum kopi, rasanya pasti lemas meskipun sebenarnya sudah makan.
7. Bukan cuma kopi yang bikin kecanduan, tetapi juga hal-hal lain yang sering disajikan bersama dengan kopi misalnya gula dan cremmer. Kopi latte misalnya, adalah contoh minuman rendah gizi namun kaya energi dan cepat bikin gemuk.

8. Sebuah senyawa organik di dalam tubuh yang dinamakan 5-HIA akan meningkat kadarnya pada orang yang minum kopi. Senyawa ini merupakan neurotransmitter serotonin atau hormon senang, yang sangat berperan dalam siklus tidur-bangun. Artinya, kopi bisa mengganggu pola tidur lalu memicu depresi dan kegelisahan.

9. Sehabis minum kopi, frekuensi buang air kecil pasti meningkat. Pada peminum kopi yang parah, berbagai mineral tubuh seperti kalsium, magnesium dan potassium akan berkurang kadarnya dan memicu ketidakseimbangan eletrolit.

10. Berbagai kandungan dalam kopi bisa mempengaruhi penyerapan obat di dalam tubuh, serta proses pembuangannya di hati. Obat antidepresan trisiklik misalnya, akan sulit diserap jika tubuh berada dalam pengaruh kafein sehingga gejala penyakit akan memburuk.

Ancaman bahaya narkoba tidak pandang usia, Masuk keseluruh lapisan masyarakat, termasuk ke lingkungan sekolah, bahkan mendirikan pabrik di lingkungan perumahan. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2007 mengungkapkan, terdapat 3,5 juta jiwa penduduk Indonesia yang berkutat dengan zat terlarang tersebut. Bahkan tahun 2006 tercatat sekitar 15000 anak dan remaja meninggal akibat narkotika dan obat berbahaya (narkoba), yang umumnya sudah mereka kenal sejak dalam rentang usia 10-19 tahun. Penelitian Program International Eliminasi Pekerja Anak (IPEC), Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada tahun 2003 menegaskan rata-rata anak mulai mengenal narkoba sejak usia 13 tahun. Ada sekitar 500 ribu di antaranya para pencandu heroin, 25 persennya memakai alat suntik. Heroin memiliki ketergantungan yang sangat besar dibandingkan dengan jenis narkotika lainnya, dan kenikmatannya juga juga lebih besar. Oleh karena itu para orang tua memahami dengan baik informasi mengenai jenis dan bahaya narkoba. Pemahaman ini penting, agar orangtua juga dapat mengenali dan memeberikan informasi yang benar kepada anak.

Jenis narkoba yang banyak beredar di pasaran adalah opioid, salah satu jenisnya adalah heroin. Dunia kedokteran sering menggunakannya untuk obat-obatan, seperti morphin, penthamil. Namun sekarang ini banyak juga yang beredar di pasaran. Efek akibat pemakaian heroin adalah pupil mata mengecil, timbul eophoria, atau disphoria, mengalami gangguan pemusatan perhatian, keringat berlebihan, dan daya ingat berlebihan. Konsumsi opioid juga mempengaruhi tingkah laku penggunanya, berupa perilaku maladaftif seperti ketakutan, kecurigaan, gangguan dan tidak realistis.

Zat berbahaya lain yang banyak dikonsumsi dan menimbulkan masalah kecanduan adalah alkohol. Minuman alkohol juga termasuk jenis narkoba. Alkohol menimbulkan efek gelisah yang berlebihan, tekanan darah menurun dan menimbulkan halusinasi pendengaran. Alkohol memiliki jenis yang beragam, mulai dari yang resmi sampai yang tidak resmi, mulai dari kadar alkohol rendah hingga sangta berbahaya.

Cegah Narkoba Kenali Anak

Ketiga adalah ganja. Penelitian Profil Pcandu (YCAB,2001)bmembuktikan bahwa lebih dari 70 persen pecandu berat narkoba memulai karier mereka dengan menghisap ganja. kebiasaan melayang dengan menghisap ganja ini biasanya kemudian meningkat ke narkoba kelas berat seperti putau atau sabu. Efek yang ditimbulkan bila seseorang memakai ganja adalah jantung berdebar, euphoria,halusinasi, delusi, nafsu makan bertambah, apatis, dan memiliki perasaan waktu berjalan sangat lambat.

Jenis Lainnya adalah kokain, jenis stimulasia yang terbuat dari pohon koka yang bayak terdapat di peru dan chilli. Melalui proses kimiawi, sari daun koka ini diolah menjadi bubuk halus yang disebut kokain  dengan cara menyedot langsung serbuk putih tersebut melalui hidung. Jenis ini sangat mahal dan dikonsumsi orang-orang tertentu saja.

Jenis narkoba yang lain yang banyak beredar adalah aphetamine tipe stimulan. Aphetamine sebenarnya adalah obat perangsang yang dapat menimbulkan efek langsung pada pemakainya. Ada  4 jenis bentuk aphetamine, di antaranya adalah tablet, injeksi, ekstasi, dan shabu. Saat ini pasar narkoba dunia sebagian besar mengarh pada pemakaian aphetamine sangat gampang dibuat dari bahan racikan. Efek yang ditibulkan adalah agitasi psikomotor (hyperaktif, tidak dapat diam), rasa gembira, paranoid, halusinasi penglihatan, tekanan darah meningkat, dan sebagainya.

Zat memabukkan lainnya yang juga banyak dikonsumsi adalah halusinogen yakni zat yang bisa menimbulkan halusinasi, diantaranya valatile solvent, zat cair yang mudah menguap yang kerap digunakan untuk campuran lem. Ada pula benzoadiazepine dan pil koplo. Namun  zat adiktif yang bayak beredar adalah rokok, Pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenallnya kepada rokok.

Brain Damage
Narkoba menyebabkan ketergantungan pada penggunanya karena mengandung zat adiktif yang menempel di otak. Otak adalah organ vital yang akan terserang pertama kali akibat pemakaian narkoba. Dalam jangka panjang pemakaian dapat menyerang organ lainnya vital lainnya seperti hati, jantung, dan paru-paru. Dalam otak manusia terdapat zat-zat kimia yang berfungsi sebagai pengantar implus di dalam synapse (jaringan otak) yang disebut neorotransmitter.

Ada beberapa jenis neorotransmitter di antaranya adalah dopamin yang bertanggung jawab akan tibulnya rasa nyaman, meningkatkan tekanan darah dan denyaut jantung. Kedua  adalah serotonin yang bertanggung jawab pada mood, rasa lapar, dan kantuk. Kekurangan serotonin akan mengakibatkan depresi. Ketiga adalah gama amino butyric acid yang bertanggung jawab akan tibulnya rasa tenang dan kantung. Dan terakhir endrophin yang bertanggung jawab mengatur rasa nyeri.

Setiap neorotransmitter tersebut mempunyai reseptor tertentu yang pengaruhnya langsung ke otak. Jika seseorang memakai narkoba, zat yang terkandung di dalamnya membuat otak seolah-olah di injeksi dengan tekan tinggi, yang menyebabkan terjadinya barain damage atau kerusakan otak. Makanya seseorang pencandu baru akan merasakan kenikmatan mengunakan narkoba pada saat ia mencoba pertama kali, si zat tersebut sudah membuat sarang di dalam otaknya.

Orangtua perlu lebih aware
Banyak orangtua yang berpendapat "saya  pasti tahu kalau anak saya mulai memakai narkoba". Namun sayangnya, pada kebanyakan kasus narkoba, orangtua justru menjadi orang terakhir yang mengetahui bahwa anaknya bernmasalah dengan narkoba. Celakanya, ketika orangtua mengetahui, tingkat ketergantungan anak sudah parah dan sangat terlamabat diupayakan pencegahan.  Karena itu menghimbau kepada orangtua agar benar-benar mengenal anaknya dengan baik "hanya itu yang dapat menjadi peringatan dini (early warning) bagi orangtua.

Langkah pertama yang perlu dilakukan orangtua adalah menekankan pada anak-anak bahwa penyalahgunaan narkoba adalah haram dan dilarang semua agama. Dengan begitu anak-anak tidak ragu lagi terhadap status barang laknat tersebut. Hendaknya orangtua membekali dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan tentang   bahaya dan akibat narkoba. Dengan mengetahuinya, orangtua bisa melihat dan mendeteksi secara dini segala kejanggalan yangf tampak pada diri anaknya. Baik dalam keseharian dirumah maupun aktivitas bersama rekan sebayanya.

Perubahan tingkah laku yang terjadi pada anak secara mendadak atau ekstrim bisa dijadikan warning bagi orangtua. Misalnya si anak yang tadinya rajin beribadah menjadi sering meninggalkannya, sering berbohong, membolos prestasi belajar menurun, dan lainnya.  Selain itu bila orangtua menemukan barang-barang yang digunakan untuk konsumsi, atau sisa konsumsi narkoba, misalnya alumunium foil terbakar, alat suntik, remah daun ganja, dan lainnya. Maka orangtua harus waspada. Untuk mengetahuinya orangtua sesekali memeriksa kamar anak. Orangtua juga wajib  mengenali teman-teman bermain satu geng anak, dan memperhatikan aktivitas mereka.

Meskipun mitos ada yang mengatakan pecandu biaasanya berasal dari keluarga broken home, namun penelitian Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB,2000) pada 600 pecandu menunjukkan, sebagian besar pencandu narkoba berasal dari keluarga baik-baik. Persepsi keluarga baik-baik ini mungkin berbeda tiap orang. Namun hal penting perlu dicatat dari penelitian ini adalah lebih dari 60 persen pecandu mengaku mempunyai orangtua lengkap, dimana ibu tidak bekerja dan tinggal dirumah.

Artinya narkoba tidak hanya meneyerang mereka yang berlatar belakang keluarga broken home,  atau ibu yang sibuk bekerja. Narkoba juga merasuki anak-anak dari keluarga yang tampaknya sempurna. Tapi anak dari keluarga yang hancur dan kurang perhatian, akan lebih mudah terpancing untuk mencari perhatian diluar rumah dan bisa terjerumus pada kelamnya dunia narkoba.

Metode rehabillitasi yang memasukkan konsep agama memiliki tingkat kegagalan 12 persen. Semenetra tingkat keberhasilan rehabilitasi tanpa konsep agama hanya sekitar 43 persen.

Namun bagaimana pun kondisi keluarga, yang penting orangtua perlu senantiasa menjaga komunikasi dengan anak. Meskipun si anak sudah tidak lagi menjadi pencandu dan melakukan rehabilitasi,  namun tidak menetup kemungkinan zat aktif narkoba yang pernah ia pakai menjadi aktif kembali. Yang perlu dilakukan adalah menghilangkan "sarang-sarang" bekas zat adiktif tadi. Karena obat-obat ini memiliki efek yang berbeda-beda, maka orangtua dapat melihatnya lewat perubahan perilaku anak. Biasanya yang pendiam lebih sering memakai aphetamin, sehingga ia akan mengalami kegairahan. Dan bila anak agak hyper, ia lebih senang menggunakan jenis opioid.


Jika memang kedapatan seseorang sudah terkena narkoba hal yang perlu segera dilakukan adalah membawanya ke profesioanal. Bila anaknya sudah overdosis maka orangtua perlu membawanya ke rumah sakit bukan ke psikiater. Psikiater hanya akan melakukan terapi medik,psikologik, mauoun sosial. Terapi medik yang dimaksud adalah si anak diberi jenis obatanti psikotik yang ditujukan terhadap gangguan sistem neurotransmitter susunan saraf pusat (otak). Selain itu juga diberikan terapi psikologi, dan sosial, yang akan mengontrol lingkungan sosial si anak.Jika ia bergaul dengantukang bunga maka ia kan ikut wangi. Jadi orangtua perlu memantau pergaulan anak, dan lingkungannya.


Tak kalah penting adalah terapi agama. Ada korelasi positif antara faktor agama dengan proses penyembuhan pengguna narkoba. Pada intinya niat si pencandu itu sendiri yang memperkuat keinginan untuk keluar dari jerat narkoba. Metode rehabilitasi yang memasukkan konsep agama memiliki tingkat kegagalan 12 persen. Sementara tingkat keberhasilan rehabilitasi tanpa konsep agama hanya sekitar 43 persen.


Kenali lingkungan Anda
Tidak ada jamina tipe-tipe anak tertentu saja yang mudah terpengaruh narkoba. Apa pun tipenya, anak bisa terjangkit narkoba. Namun kebanyakan dari mereka yang terkena adalah anak-anak yang tergolong tidak bisa menentukan keputusan, dan mudah sekali terpancing denganhal-hal yang baru, sehingga ingin mencoba-coba. Usia pra remaja hingga remaja adalah usia dimana mereka lebih care kepada teman-teman bermain, dengan kata lain peer group sangat berpengaruh. oleh karena itu, lingkungan pergaulan anak,akan sangat berperan dalam menularkan narkoba kepada anak.


lingkungan pergaulan, bukan hanya lingkungan tempat anak-anak nongkrong, namun juga lingkungan sekolah yang juga menjadi tempat yang paling rawan akan peredaran narkoba. Malah sekolah elite yang edentik dengan ketatnya aturan ternyata tidak luput dari incaran jaringan narkoba. sekolah elite justru menjadi sasaran empuk bagi bandar narkoba. hidup serba kecukupan para siswa sekolah elite sering membuat mereka gampang mengeluarkan uang, untuk membeli barang haram tersebut. Apalagi banyak siswa yang tidak mengetahui aneka macam narkoba.


Narkoba juga sudah masuk lingkungan perumahan. Tidak hanya mengedarkan, bahkan beberapa kasus menunjukkan bahwa narkoba diproduksi di lingkungan perumahan. Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar ini sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab banyak pihak, seperti orangtua,guru,dan masyarakat. Salah satunya adalah dengan memberikan penyuluhan mengenai bahaya narkoba dan mengadakan razia mendadaksecara rutin, baikdi sekolah maupun di lingkungan  masyarakat. untuk mencegah anak agar tidak terjerumus pada dunia narkoba, orangtua perlu menegaskan kepada anak bahwa narkoba dan sejenisnya adalah HARAM.


Langkah terbaik untuk mencegah agar anak tidak terjerat narkoba adalah mengenal sifat dan perilaku anak. Apakah Anda sudah mengenal anak Anda? berikut ini kuis mengenal anak menurut Raising Drug-Free Children, Veronica Colondan tahun 2007.

  1. Warna fafavorit anak saya adalah.........
  2. Sahabat terdekat anak saya adalah..........
  3. Siapa nama guru anak saya dan siapa guru yang disuka mengapa?
  4. Siapa yang menjadi panutan di dalam  keluaraga?
  5. Apa yang dikaguminya dari orang yang menjadi panutan?
  6. Apakah harapan anak untuk sesuatu yang sekarang saya lakukan bagi dia?
  7. Apa makanan kesukaan anak saya?
  8. Apa acara televisi yang disuka anak saya?
  9. Apa pendapat anak saya tentang dirinya sendiri, dan tentang saya?
  10. Apa hoby anak saya?
  11. Apa cita-cita anak saya?
Skor Anda jika menjawab dengan benar
  • 8-10 : Selamat! Anda sangat mengenal anak anda
  • 5-7   : Anda bisa lebih baik memberi perhatian
  • Kurang dari 5 pertanyaan : Wah..parah.. sudah saatnya Anda luangkan waktu untuk lebih mengenal anak Anda sebelum terlambat.

Dunia berubah dan berkembang sedemikian cepat setiap harinya. Kemajuan media dan perangkat komunikasi adalah dua hal yang paling kita rasakan pengaruhnya pada kehidupan sehari-hari. Handphone misalnya, 10 tahun yang lalu masih merupakan barang langka namun sekarang benda plastik berukuran ini telah menjadi teman sejati manusia untuk bertelepon, membuat foto, mendengarkan musik, bermain games, dan bahkan untuk browsing di internet.

Perkembangan ini tentunya telah memberi perubahan besar dalam kehidupan maupun pengalaman hidup anak-anak kita. Masa kanak-kanak mengalami perubahan yang cukup signifikan. Kebanyakan anak sudah meninggalkan jenis-jenis permainan 'lama' seperti: memanjat dan bertengger di atas pohon, membuat benteng pasir, bermain di sungai, bersepeda di jalan, menjaga keseimbangan tubuh di atas batu, mengukur kakuatan fisik dengan teman sebaya, atau pun menjatuhkan diri dan berguling di atas bukit ke bawah dengan gembira. Anak-anak zaman sekarang, lebih sering melewatkan masa kanak-kanak di rumah dengan berbvagai kegiatan seperti: menonton televisi, bermain komputer, bemain playstation, atau pun permainan elektronik lainnya. Tentunya hal ini juga membawa damapak positif untuk memenuhi keingintahuan mereka terhadap teknologi dan informasi.

Oleh karena itulah, perkembangan kemampuan anak terutama dalam teknologi dewasa ini sangat mengagumkan. Tak perlu heran bila pada usia 7 tahun banyak dari mereka yang telah menguasai berbagai informasi dan pengetahuan tentang dunia, lebih unggul daripada kakek dan nenek di rumah. Bahkan, di usia dini, banyak anak yang telah mengerti 2 sampai 3 bahasa dengan sendirinya, tanpa sadar dari televisi. Selain itu mereka juga mampu memakai peralatan teknik modern dengan luar biasa cekatan. Pada satu sisi, anak-anak menjadi jauh lebih cerdas dan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Namun di sisi lain, kami mengamati adanya peningkatan jumlah siswa yang mengalami masalah gangguan belajar, seperti: masalah konsentrasi serta kesulitan dalam proses membaca, menulis, dan berhitung. 
Aktivitas Fisik Pengaruhi Kemampuan Matematika Anak

Tahapan Pengembangan Kemampuan Belajar Anak

Hasil observasi mencatat, saat ini, 15-20% dari siswa da dalam kelas reguler mengalami gangguan belajar. Masalah yang paling terlihat adalah gangguan koordinasi. Pada pelajaran olahraga, misalnya. Sebuah gerakan koprol sederhana atau aktivitas senam dengan alat yang membutuhkan kepekaan gerakan tubuh, tercatat mempunyai risiko cidera yang cukup tinggi. Bertambahnya angka kecelakaan dalam pelajaran ini, menjadikan tantangan utama bagi tiap guru olahraga olahraga untuk menguasai teknik penyelamatan siswa, walaupun pada akhirnya sering berujung pada penghentian aktivitas tersebut.

Menjaga keseimbangan bergerak pada usia 1 tahun, diawali dengan kemampuan menggerakkan mata, menyeimbangkan tubuh, dan kemampuan untuk berdiri. Kemampuan dasar ini sangat penting dikuasai untuk kelanjutan tingkat perkembangan berikutnya di usia 2-3 tahun, dimana titik beratnya adalah daya dan rentang konsentrasi seorang anak, serta kemampuannya untuk bergerak.

Daya konsentrasi dan kemampuan bergerak merupakan dasar langkah berikutnya di usia 4-6 tahun, dimana anak mulai mengembangkan daya ingat dan kemampuan berinteraksi. Tahapan ini merupakan dasar dari kemampuan tingkat berikutnya, yaitu kemampuan berkonsentrasi dan sebagainya, yang sangat penting dalam mencapai kesuksesan akademik. Maka secara garis besar dapat disimpulkan, bahwa kemampuan dasar seorang anak merupakan syarat utama untuk menuju kemampuan yang lebih kompleks. Dan di lain pihak dapat disimpulkan pula bahwa salah satu penyebab gangguan konsentrasi adalah kurangnya koordinasi/keseimbangan tubuh seorang anak.

Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kemampuan Matematika

Dari penjabaran diatas, maka dapat dikatakan bahwa penyebab masalah ketidakberhasilan siswa di sekolah, terutama dalam pelajaran yang memerlukan konsentrasi tinggi seperti matematika, adalah kurangnya pengalaman latihan motorik keseimbangan tubuh yang secara langsung berdampak pada kurangnya koordinasi tubuh dan lemahnya koordinasi mata-tangan. 

Koordinasi tubuh bukanlah bakat, melainkan dapat dikuasai melalui latihan. Pada umumnya anak-anak belajar koordinasi tubuh melalui aktivitas fisik, seperti: memanjat pohon, menjaga keseimbangan diatas batu, dan bahkan anak dapat belajar dari pengalaman jatuh dalam usahanya untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Meskipun kurangnya koordinasi tubuh dan anak sangat dapat terlihat dalam pelajaran olahraga, namun hal ini juga berdampak pada mata pelajaran lainnya. hambatan dalam belajar matematika, contohnya, sering disebabkan oleh kurangnya baiknya koordinasi tubuh anak. Mungkin terdengar sangat janggal. Namun metode mengatasi masalah belajar matematika dapat dilakukan melalui latihan keseimbangan diatas batu selama satu jam bersama dengan anak.

Maka dari itu, para pakar (perkembangan anak) mengatakan bahwa anak-anak yang dapat dengan tangkas menyelamatkan dirinya ketika terjatuh, sebenarnya telah menguasai persyaratan untuk berhasil dalam pelajaran matematika. Dalam hal ini, anak yang dapat tangkas jatuh tanpa mencelakakan diri sendiri, secara tidak langsung mempunyai kesadaran terhadap penguasaan keseimbangan tubuh dalam proses jatuh tersebut.

Koordinasi Tubuh dan Koordinasi Mata-Tangan
Tentunya kemampuan penguasaan keseimbangan diri ini akan sangat terbantu oleh kerja otot dan tendon (motorik kasar) yang terlatih serta kekuatan fungsi indra peraba yang di dukung pula oleh kemampuan visual yang baik lewat koordinasi mata-tangan yang sempurna. Keseluruhan hubungan ini,sekali lagi, dapat dengan mudah dijelaskan dengan contoh sebagai berikut:Apakah koordinasi mata-tangan itu?. Anak kecil akan belajar apa yang dirasakan, dengan tangan. Langkah yang dialami yaitu; (1) meraba (2) bergerak (3) melihat benda yang berbeda bentuk, dan (4) mengerti.

Namun, lemahnya koordinasi mata-tangan menyebabkan anak sulit untuk mengerti berbagai hal. Padahal pada dasarnya, koordinasi tubuh merupakan dasar kemampuan untuk bergerak. Contohnya; untuk mengangkat tangan, seorang anak harus memiliki pengetahuan tentang tangan, selain harus pula mempunyai otot tangan yang kuat untuk menggerakkannya. Disamping itu, koordinasi tubuh yang baik akan menunjang pula perkembangan kemampuan berimajinasi anak. Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah, bahwa kemampuan diatas, yaitu koordinasi tubuh dan koordinasi mata tangan,merupakan syarat dasar untuk melatih perspektif depan-belakang, yang dapat membangun kejelian anak dalam melihat sebuah bentuk dasar.

Seorang anak dengan koordinasi mata-tangan yang tidak terbentuk dengan baik, hanya dapat belajar mengembangkan persepsi depan-belakang dengan terbatas. Ketidakmampuan anak untuk melihat gambar angsa pada garis-garis lengkung yang mengelilinginya dapat menjadi contoh. Kejelian melihat bentuk dasar merupakan syarat dalam mengukur kemampuan untuk memahami dan menyadari suatu hal, terlebih lagi yang abstrak.

Tak Perlu Mahal: Pohon Dan Batu Dapat Membantu!
Bila orangtua atau para pendidik telah menyadari langkah perkembangan pembelajaran yang penting bagi anak, maka sudah seharusnya kita memberikan kesempatan seluas-luasnya pada mereka untuk membangun fisik yang kuat melalui barbagai kegiatan. Salah satunya dapat dilakukan melalui pendidikan olahraga yang optimal.

Di beberapa sekolah, kesadaran akan pentingnya hubungan antara keberhasilan akademik dan koordinasi tubuh telah difasilitasi dan dikembangkan dalam bentuk kegiatan atau program yang mengintergrasikan kedua hal tersebut bagi siswa sedini mungkin. Mulai dari Taman Kanak-Kanak, sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas.

Pada pelajaran olahraga misalnya. penggunaan balok rintangan pada trek lari yang disusun secara khusus, di bawah bimbingan guru, memungkinkan siswa berlatih mengembangkan keseimbangan tubuh. Dan hasilnya sangat mengagumkan, dimana siswa lambat laun menjadi lebih berani mencoba dan mengambil resiko untuk memanjat pohon, dengan penuh kepercayaan diri.

Di sisi lain, hal ini sangat menunjang siswa dalam memahami materi akademik mereka, yang dari hari ke hari semakin penuh tantangan. Para pendidik merasa lebih tertantang untuk memberikan variasi soal matematika dengan banyak tingkat kesulitan yang semakin tinggi setiap harinya. Hal ini dimungkinkan oleh peningkatan kemampuan siswa dalam berkonsentrasi yang secara tidak langsung meningkatkan daya nalar mereka ketika menghadapi sebuah permasalahan.

Tentunya merupakan hal yang berharga bila anak-anak dibekali dengan pengalaman tersebut sejak dini. Apalagi bila dapat dilakukan bersama orang tua mereka. Sudah seharusnya orang tua menyadari, Bahwa aktifitas fisik dan pengalaman berolah tubuh memiliki arti yang luar biasa bagi perkembangan anak. Dengan kata lain, seorang anak sebaiknya menghabiskan waktunya untuk bermain dan berolahraga lebih banyak daripada duduk diam di depan televisi, komputer atau playstation. Bila memungkinkan, sebaiknya orangtua menyediakan sarana yang memberikan kesempatan anak dapat melakukan aktifitas gerak badan sekaligus belajar untuk mengenal tubuh mereka.

Semua alat bermain yang menunjang perkembangan keseimbangan tubuh, meskipun sangat sederhana, seperti pohon dan batu yang disediakan gratis oleh alam, akan membawa makna yang sangat berguna bagi keberhasilan anak, bukan hanya dalam pelajaran matematika, namun lebih dari itu, dalam semua aspek kehidupan.

Banyak anak yang sudah memiliki ponsel atau piranti elektronik sejenis.di usia dini. Tujuan awalnya ialah untuk mempermudah komunikasi dengan teman atau keluarga. Namun, anak-anak harus tetap diawasi dan dibatasi. Jangan sampai mereka kecanduan dan terus-terusan bermain dengan gadget. Tapi kalau sudah terlanjur, Inilah cara menghadapi anak yang sudah telanjur menyukai jenis mainan yang tak sesuai usia!

Jangan Gunakan Gadget di Depan Anak-anak,

Kalau kamu selalu terlihat sibuk dengan gadget, mereka akan berpikir bahwa itu hal yang seru. Jadi, usahakan tidak terlihat oleh anak-anak saat kamu berkutat dengan gadget. Gunakan Gadget dengan seimbang dan waspadai jika anak mulai mengikuti kebiasaan Anda. Anak menjadi kecanduan gadget karena sering melihat orang tua memainkannya.

Batasi Waktu Bermain Gadget,

Jangan biarkan mereka bermain gadget seharian. Berikan batasan misalnya tiga jam saja dalam sehari, atau hanya boleh saat hari libur saja. Trik mudah untuk mencegah kecanduan itu adalah dengan memberikan batasan waktu bermain game dan memasang alarm sebelum anak memainkan game-game itu. Berikan peringatan secara berkala ketika waktu bermain hampir habis. Jika waktu bermain game telah habis, beri anak sedikit jeda untuk menyimpan permainan.

Siapkan aktivitas pengganti atau Berikan Alternatif Mainan Lain,


Saat Anda hanya menyuruhnya berhenti main game di mal begitu saja maka akan timbul perlawanan darinya. Untuk mengurangi perlawanan itu siapkan aktivitas pengganti. Tidak selamanya aktivitas pengganti itu harus pergi ke luar rumah, Anda mungkin bisa mengajaknya masak bersama, menggambar, menggunting, berkebun atau menanam tanaman bersama. Kalau ada mainan lain yang lebih seru, mereka pasti akan berpaling dari gadget-nya. Coba berikan mainan lain yang menarik dan edukatif, misalnya LEGO.

Adaptasikan game dengan aktivitas nyata,

Ketika anak sangat ‘menyukai’ game yang ada di layar, Anda bisa mengadaptasikannya ke dalam dunia nyata. .Aktifitas luar ruangan mampu meningkatkan kemampuan motorik dan sosial anak. Jadi, sering-seringlah mengajak mereka bermain di taman, berlari-larian, berenang, dan sebagainya.

Aktivitas di luar rumah,

Di usia balita, perkembangan otak berkembang sangat pesat begitu juga dengan daya ingatnya. Daripada melihat bermacam hewan, sarana transportasi atau aneka bentuk bunga, tanaman dan lainnya di layar monitor alangkah baiknya mengajaknya melihat secara langsung. Ajak anak ke kebun binatang, kebung bunga, taman rekreasi atau berolahraga. Selain mereka bisa mendapatkan beragam stimulasi langsung, mereka juga akan belajar bersosialisasi dengan orang lain serta juga membuatnya aktif bergerak.

Karier Terus melaju tentu dambaan pekerja atau karyawan. Bukan  hanya demi kesejahreaan lahir yang meningkat, tetapi juga kepuasan batin. Namun, Orang sering di hadapkan pada pilihan  untuk tetap menekuni pekerjaan yang sedang di jalani, pindah ke tempat kerja lain atau bahkan alih profesi. Apa pun pilihannya pertimbangan matang diperlukan.

Sudah 10  tahun  si A – sebut saja begitu- bekerja sebagai  fotografer di sebuah studio di  Jakarta. Namun, sebagai juru foto pengantin ia merasa, kariernya mandeg. Karier tidak naik-naik.Tidak beranjak jadi supervisor atau manager, misalnya.
Sejak hari pertama  bekerja  hingga hari ke-3.650, tugasnya  itu-itu melulu. Memegang kamera, mengatur posisi pengantin, lalujepret-jepret. Sempat pula  ia berpikiruntuk alih profesi menjadi koki atau juru masak. Kebetulan , ia gemar dan jago memasak. Kini, ia betul-betul berada di persimpangan jalan.

Ada bermacam-macam alasan yang bisa membuat seseorang bertahan atau tidak pada pekerjaannya yang sedang di lakoninya. Salah satunya, berhubungan dengan pendapatan  (take home pay). Gaji atau pendapatan menjadi  yang diterima menjadi alasan yang paling banyak dipertimbangkan oleh orang yang  ingin berpindah atau bertahan pada tempat ia bekerja.

Selain itu juga faktor tunjanagn dan fasilitas tertentu yang diberikan oleh perusahaan atau tempat bekerja. Semisal, tunjangan kesehatan,  fasiliats rumah, pinjaman ringan, dan sebagainya.

Satu hal lagi yang belakangan ikut dipertimbangkan , yaitufaktor jarak  dari rumah atau tempat tinggal ke lokasi tempatnya bekerja. Tampaknya sepele, tetapi berpotensi  menjadi masalah. Apa lagi bagi orang yang bekerja di kota besar seperti Jakarta. Jarak yang jauh dan macet serta makin tingginya ongkos  transportasi  bisa bikin orang berpikir untuk pindah tempat kerja atau ganti profesi.
marketing kartu kredit mandiri

Namun, memutuskan untuk pindah kerja atau alih profesi bukan urusan mudah. Dibutuhkan dorongan atau alasan yang kuat untuk itu. Berpindah pekerjaan, apalagi ganti profesi, jelas mengandung resiko di masa depan. Di sana ada ketidak pastian, apa lagi orang harus memulianya dari awal. Persoalanya akan semakin rumit jika ia sudah beranak-istri.

Hubungan atau relasi sosial yang luas memang sering memudahkan seseorang mendapatkan imformasi tentang lapangan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan jenjang karier. Ini  tentu peluang. Namun,  itu pun tidak ada jaminan. Kalaupun harus memilih, Tetapkan secara hati-hati, realistis, dan fair, agar tidak menuai penyesalan dikemudian hari.

Bekerja serius
 Lantas bagaimana jika sudah  merasa nyaman di tempat kerjanya, namun persoalannya  kenapa jenjang kariernya tidak naik-naik?  Adakah sesuatu yang salah?
Harus di telaah lebih dulu, kenapa karier seseorang  tidak beranjak naik. Sewaktu hendak bekerja  di suatu kantor  atau perusahaan , sebaiknya kumpulkan imformasi yang cukup tentang kantor atau perusahaan itu. Cari tahu apakah dalam formasi strukturalnya terdapat peluang  untuk naik jenjang atau tidak. Dalam kasus si A mungkin  di studio foto tempat ia bekerja tidak formasi itu.

Kalaupun misalnya ada formasi yang memungkinkan pekerja atau karyawan untuk naik jenjan, perlu juga soal kreterianya. Apakah berdasarkan prestasi yang di capai, kompetensi, keterampilan, atau kemahiran? Apakah berdasarkan pada senioritas? Atau mungkin karena faktor hubungan keluarga yang biasanya ada  pada perusahaan keluarga?

Kita tahu, di beberapa instasi kenaikan jenjang karier berjalan otomatis mengikuti masa kerja. Namun,  dibeberapa perusahaan lain kesempatan naik jenjang atau karier karyawannya di buka berdasarkan prestasi yang dicapai.

Kalau sistem yang terakhir itu yang berlaku,saatnya kini meraih posisiitu dengan cara mengejar prestasi sebaik-baiknya. Prinsipnya, untuk bisa naik pangkat kita harus bekerja sungguh-sungguh. Bukan dengan cara menjilat atasan. Hambatan dalam meraih nya tentu saja ada. Namun, sebaiknya jadikan hambatan sebagai tantangan. Kalau kita bekerja secara benar, cepat atau lambat akan terlihat apa yang sesungguhnya. Kalau ada penilaian negatif akan berubah dengan sendirinya.

Lalu, Bagaimana membuat diri kita menonjol dibandingkan dengan yang lain? Tentu dengan melaukan sesuatu yang bisa di anggap sebagai prestasi di tempat kerja.Prestasi yang jauh lebih tinggi dari yang dicapai teman sekerja lainnya. Misalnya kalau bekerja di bidang  marketing atau penjualan segai salesman, bauatlah pencapaian target penjualan yang lebih dari yang lain.

Untuk mencapai perlu strategi pribadi yang tangguh, dan mungkin juga pengorbanan. Misalnya, dengan menyediakan waktu  bekerja lebih banya, berpikir dan bertindak kreatif, atau bahkan berani mengeluarkan dana pribadi agar bisa mengejar pencapaian yang jauh melebihi target. Bisa juga dengan melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan pelanggan baru, dan sebagainy. Intiunya, bekerja keras tapoi juga cerdas.
Tiga faktor bikin betah

Si A yang fotografer sempat tergoda untuk beralih profesi menjadi koki, seseorang akan memutuskan pindah kerja atau alih profesi dari pekerjaan lamanya bisa karena beberapa faktor. Diantaranya, ambang batas toleransinya sudah sudah terlampaui, kejenuhan, dan hubungan interpersonal dengan rekan kerja kurang baik.
Untuk mengetahui apakah keputusan pindah kerja atau alih profesi itu tepat atau tidak, perlu pertimbangan yang relistis dan berimbang, agar kepusan yang di ambil bukan berdasarkan emosi semata.

Sedikitnya, ada tiga faktor yang membuat orang bertahan pada profesi atau tempat kerjanya. Pertama, Ia bekerja di tempat yang  mendukung karena aman dan nyaman . Kedua, gaji atau pendapatan  yang ia terima sudah di anggap cukup. Ketiga, pekerjaan yang digelutinya sesui dengan minat dan bakat.

Kalau satu dari tiga itu tidak terpenuhi, biasanya orang akan mempertimbangkan untuk alih profesi atau pindah ke tempat kerja  lain. Alih profesi  pun perlu pertimbangan matang misalnya dengan menilai kemampuan yang dimiliki, seperti keterampilan, bakat, kompetensi, juga kemahiran,. Juga mengali lagi minat dan cita-cita yang belum terlaksana. Yang tidak kalah penting,  harus yakin apakah kita benar-benar mahir tentang bidang  baru yang di pilih.

Cara melihat dan mengali kemampuan itu bisa dengan menelisik kembalin  riwayat hidup kita. Sebagian besar waktu kita dad di mana? Kemudian tilik bagian mana yang membuat kita berprestasi. Juga dilihat apakah kita punya kebiasaan bekerja dalam tim atau bekerja sendirian.  

Setelah itu, saatnya kita bermain dengan pilihan. Yakni kalau pilihan kita tidak salah. Tentukan minat ke arah mana yang kuat, di barengi dengan membuat skema kerja:  Apa yang akan di capai dan apa saja yang akan dikerjakan pada tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Di kantor baru biasanya semangat kerja juga baru.  Nah, pergunakan semangat itu untuk memacu kerja.

Sekarang   tidak bingung lagi,  ke arah mana kita melangkah agar kita sejahtera
 lahir dan batin

Dalam melakukan komunikasi pada anak perlu memperhatikan berbagai aspek diantaranya adalah usia tumbuh kembang anak, cara berkomunikasi dengan anak, metode dalam berkomunikasi dengan anak tahapan atau langkah-langkah dalam melakukan komunikasi dengan anak serta peran orang tua dalam membantu proses komunikasi dengan anak sehingga bisa didapatkan informasi yang benar dan akurat.

Sebagai orangtua, kita harus mengerti apa yang sebenarnya diinginkan si kecil. Harus kita akui kalau anak-anak sulit mengungkapkan keinginan mereka terutama saat mereka masih kecil.

Agar kita bisa memahami apa sebenarnya yang diinginkan anak sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lebih baik, Anda bisa mengikuti beberapa tips berikut ini.

Bermain bersama anak
Anak-anak belajar dengan lebih baik melalui permainan. Cobalah bermain bersamanya sekurangnya selama 20 menit. Lakukan ini setidaknya tiga kali sehari. Libatkan diri Anda pada permainan yang disukai anak. Cobalah larut dalam permainannya sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lebih lancar sekaligus memberikan pelajaran melalui permainan tersebut.

Cara  Efektif Komunikasi dengan Anak

Jadilah pendengar yang baik
Anak-anak memiliki banyak hal untuk diceritakan dan yang mereka inginkan adalah pendengar yang baik sehingga mereka bisa mengeluarkannya dengan baik. Menjadi pendengar yang baik akan memuaskan keinginan anak sekaligus membuat mereka merasa penting serta memperbaiki hubungan orangtua dan anak. Bahkan terkadang menjadi pendengar yang baik adalah cara terbaik untuk berkomunikasi.

Jadikan anak prioritas
Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak dan jadikan mereka prioritas utama Anda.

Libatkan diri Anda
Tunjukkan kalau kita memang peduli pada anak serta dunianya. Anda bisa melakukan ini dengan mencoba melihat aneka hal dari sudut pandang anak. Berpartisipasilah saat anak menanyakan sesuatu dan tunjukkan rasa ingin tahu seperti yang biasa ditunjukkan si kecil.

Semangati anak untuk berbicara
Janganlah menjadi figur yang dominan saat menyemangati anak berbicara. Cobalah menanyakan hal-hal yang sederhana dimana ia akan dengan senang hati menjawabnya. Cobalah membesarkan hati anak untuk menceritakan sesuatu dengan ekspresi, emosi, mimik dan lain-lain.

Biarkan ia berbicara mengenai keberhasilannya seperti mendapatkan nilai bagus di sekolah, memenangkan lomba atau apapun. Si kecil akan bersemangat bercerita dengan sepenuh hati kepada Anda.

Bantulah anak dengan metode visual
Memperlancar proses komunikasi dengan anak juga bisa dilakukan saat Anda mengajarinya dengan menunjukkan gambar, flash card, video, binatang serta aneka kegiatan lainnya. Tanggapi keingintahuannya dengan menjelaskan dalam bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami serta dimengerti.

Bercerita
Cobalah menceritakan dongeng dengan menggunakan ekspresi wajah, gerakan tangan yang akan lebih menarik perhatian anak.

Tetaplah tersenyum
Sebisa mungkin hindari mimik serius di wajah Anda, begitu pula dengan intonasi suara. Cobalah untuk tetap tersenyum pada si kecil untuk menunjukkan kalau Anda bahagia dengan kehadirannya.

Komunikasi non verbal terdiri atas ekspresi wajah, intonasi suara, kontak mata dan bahasa tubuh. Tanpa kita sadari komunikasi non verbal ini bisa berarti lebih dari ribuan kata lho. Sehingga bahasa tubuh yang menyenangkan membuat si kecil akan lebih dekat dan akrab dengan kita sebagai orangtuanya.

Saya sempat bertengkar hebat dengan anak saya, setelah secara tidak sadar, saya berceloteh panjang lebar tentang prilakunya yang sedang menaksir lawan jenisnya. Saya cerita tentang sikapnya yang mellow dan suka lagu-lagu romantis sejak ditaksir kakak kelasnya di sekolah, ungkap seorang ibu. ketersinggungan anak terhadap 'kelancangan' ibunya itu berbuntut panjang. "anak  ngambek dan gak mau bicara dengan saya selama tiga minggu, hanya karena keteledoran saya ngegosip sama teman-teman".

Apa yang dihadapi oleh seorang ibu tersebut adalah bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak-anaknya.sehingga terkadang orangtua tidak menyadari anaknya sudah dewasa. Rahasia terbesar yang harus dijaga oleh setiap orangtua tentang anaknya adalah ketika anaknya mulai menyukai lawan jenisnya. Karena ini biasanya adalah masalah yang sangat pribadi bagi seorang anak. Anak biasanya tidak ingin semua orang tahu tentang perilaku dirinya ketika sedang menyukai seseorang.Padahal bila anak semakin besar, orangtua perlu semakin memperhatikan dan menghormati privasi anak, "setiap anak pasti memiliki privasi yang tidak dibeberkan terbuka kepada orang lain. Semakin anak tumbuh biasanya keinginan untuk mandiri dan memiliki privasi semakin tinggi. Ia mungkin mulai mempunyai rahasia yang tidak ingin ia ceritakan pada orngtuanya, atau yang ia pikir orangtuanya tidak perlu tahu.

Bila anaknya bicara yang dimulai dengan imbauan "ma, ini hanya rahasia kita berdua saja ya, orang lain tidak perlu tahu bahkan papa sekalipun, sang ibu harus bersiap-siap untuk menjaga rahasia tersebut. Ibu harus memiliki kepekaan yang tinggi akan hal ini. Jika ini dilanggar,  bukan mustahil kepercayaan seorang anak terhadap orangtuanya akan luntur. Efeknya, bisa menjadi trauma pada si anak dan jadi enggan terbuka kepada orangtuanya.
Curhat vs  rahasia

Menjaga Rahasia Anak

Pada dasarnya, curhat atau mencurahkan isi hati  biasanya mulai dilakukan oleh anak 6-12 tahun. Namun isi curhatnya tidak sedalam orang dewasa. Umumnya masih bersipat ringan, atau minatnya pada sesuatu atau soal lawan jenisnya yang menarik perhatiannya. Semakin besar usia anak, seiring juga dengan pengalaman hidup yang dialaminya, jenis curhat akan semakin beragam dan mendalam.

Hanya saja, kadang-kadang ketika sang anak mulai mencurahkan isi hatinya, orangtua kerap abai untuk menahan diri.  tidak sedikit orangtua yang secara tidak sadar suka mengumbar rahasia anak kepada orang lain. pengalaman ini biasanya hanya terjadi pada ibu. Padahal banyak anak  yang berharap orangtuanya bisa mengerti topik pembicaraan apa saja yang sifatnya rahasia dan apa yang tidak.

Orangtua memang kerap lancang bercerita tentang apa yang dihadapinya anaknya. Ia bisa saja terjadi karena setiap orangtua pada dasarnya begitu ingin membimbing dan melindungi anaknya ke jalan yang benar. Hanya saja kadang-kadang jalan itu akhirnya kerap melanggar privasi anak.Kalau privasinya terlanggar maupun rahasianya diungkap, banyak anak yang kemudian menutup diri dan cenderung menghindar dari orangtuanya.

Padahal ketertutupan anak, kerap membuat orangtua semakin ingin tah, sehingga terpancing untuk semakin melanggar privasi anak.Tidak mengherankan jika banyak orangtua yang sengaja "mencuri' membaca buku harian anaknya, menggeledah kamar anaknya "mengintrogasi" teman-temannya hanya karena ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan anaknya.

Sebaiknya orang tua perlu membedakan antara hal-hal yang perlu diketahui dan  hal-hal yang tidak perlu diketahui. Bicarakan hal-hal yang perlu diketahui dengan mereka. Let it go, hal-hal yang tidak perlu diketahui. Terkadang anak menganggap  orangtuanya belum saatnya mengetahui masalah yang dihadapinya. Dalam menghadapi kondisi ini, biarkan dan awasi tingkah  lakunya, jangan didekte atau dilarang, karena ini nanti akan menghambat komunikasi secara terbuka anak kepada orangtuanya.

Anak introvert dan ekstrovert
Soal curhat, tidak selamanya anak percaya, temanadalah sahabat yang baik untuk menjaga rahasianya. "semua tergantung pada keperibadian anak"  Si ekstrovert, umpamanya, karena keperibadian terbuka, akan lebih sreg kalau hatinya ditumpahkan kepada orang lain, supaya lebih plong. Bahkan si ekstrovert bisa melakuakan curhat pada banyak teman-teman. Jadi tak terbatas hanya pada orang yang itu-itu saja.

Sebaliknya, anak intovert umumnya enggan curhat. Kalaupun mau mengeluarkan unek-unek, ia lebih memilih membuat puisi, menulis diari, menggambar, atau sejenisnya. Nah, kalau ada anggapan bahwa anak perempuan lebih sering melakukan curhat ketimbang anak laki-laki, baik anak perempuan maupun laki-laki mempunyai kebutuhan yang sama untuk mencurahkan isi hatinya. Bedanya mungkin hanya pada caranya saja. Ketika curhat, anak perempuan bisa menceritakan dari A sampai Z suatu persoalan.  Sementara anak laki-laki biasanya lebih singkat dan langsung pada inti masalahnya.

Curhat yang wajar dan yang tidak
curhat jelas bukan perilaku negatif karena manusia pada dasarnya butuh mengeluarkan unek-unek, butuh didengar, dan butuh diperhatikan. Dengan curhat, anak bisa meringankan beban masalah yang sedang dihadapinya syukur-syukur bisa mendapat solusi atau setidaknya dukungan semangat dari teman curhatnya itu.
Justru anak yang sama sekali tidak mau mengungkapkan isi hatinya, terkadang memendam masalah yang tidak kunjung terselesaikan. Dengan memendam masalah, berarti ia dituntut menyelesaikan sendiri. Padahal mungkin saja belum mampu untuk itu dan membutuhkan bantuan orang lain.

Namun begitu, perilaku curhat bisa juga membawa dampak negatif. Hal ini terjadi karena cara berpikir anak yang belum bijak, sehingga saran teman-teman yang tidak bisa ditelannya mentah-mentah sebagai suatu solusi. Belum lagi, bila curhat pada teman ini sudah dijadikan suatu kebiasaan.

ujung-ujungnya apa pun permasalahan yang dihadapi anak, akan diungkapkan pada teman-temannya. Termasuk soal keluarga, soal orangtuanya yang suka bertengkar, soal ayahnya yang jarang pulang, soal gaji ayahnya yang sangat besar, soal ibunya yng beli peralatan elektronik mutahir, dan sebagainya. Kalau ini terjadi, curhat bukan lagi suatu yang positif karena akanmengumbar rahasia keluraga yang seharusnya hanya diketahui orang-orangtertentu saja. mungkin saja tanpa disadari, citra anak menjadi negatif di mata kawan-kawanya sehingga bisa dijadikan bahan ejekan ketika hubungan dengan teman-temannya merenggang.

Bila curhat anak ke teman-temanya masih wajar-wajar saja, dalam artian tidak menceritakan permasalahan keluarga, orangtua tidak perlu merisaukannya. Trekadang curhat antar teman dibutuhkan sebagai cara pengekspresian diri, ajang bergaul, untuk mencari teman bergaul baru. Namun bila curhat anak sudah melenceng menyentuh masalah internal keluarga, perlu diluruskan.

Dalam menyikapi masalah ini, orangtua perlu melakukan intropeksi diri karena beberapa penyebab anak lebih memilih curhat  pada temannya ada kaitannya dengan orangtua yang bernasalah. Jangan -jangan selama ini orangtua tidak pernah mendengarkan segala unek-unek dan keluh kesahnya. kalau memang demikian, orangtua perlu membenahi keembali hubungannya yang renggang dengan baik.

Sebagai langkah awal, orangtua mendekati anaknya kembali. Saat anak mencoba curhat, munculkan sikap impati dan dengarkan cerita anak dengan seksama, jangan menghakimi. jika isi curhatnya merupakan permasalahan yang dihadapi anak, berikan solusi penyelesaian sesuai dengan kemampunnya.

Setelah itu barulah anak diajak berdiskusi soal untung rugi menceritakan rahasia keluraga pada orang lain. Gunakan kata-kata sederhana seraya menjabarkan apa akibat yang akan diterimanya saat ia melaukan curhat pada sembarang orang. Diskusi dari hati akan membuat anak berpikir dua kali menceritakan rahasia kelurga.

Perubahan perilaku anak karena pengaruh aliran yang mengatas namakan agama tertentu, memang bukan perkara mudah menghadapinya. Apalagi bila orangtua tidak memiliki dasar-dasar pendidikan agama yang mumpuni. Jangankan membendung desakan aliran tersebut pada anak, sekedar untuk memastikan apakah aliran itu sesat atau bukan, sudah persoalan sendiri.


Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang diartikan sesat adalah ketika aliran tersebut sudah bertentangan dengan Al Quran dan Hadist. Selain itu ada pokok-pokok agama yang berbeda dengan dengan ajaran yang sebenarnya seperti rukun Islam, rukun islam, rukun imam, syahadat, puasa, zakat, dan lain-lain. Lebih jelasnya terdapat 10 ciri dimana aliran sesat tersebut dapat dikatakan sebagai aliran sesat.

Diantaranya, mengingkari rukun Islam dan Iman, meyakini aqidah yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, mengakui adanya wahyu setelah Al-Quran, mengingkari kebenaran isi Al-Quran, membuat tafsiran baru yang tidak menurut kaidah penafsiran, mengingkari kedudukan Hadist nabi Muhammad, menghina para nabi dan rasul, mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, mengubah atau menambah pokok-pokok ibadah, dan mengkafirkan sesama muslim.

Lindungi Anak Dari Aliran Sesat

Fenomena aliran sesat bukan hanya dihadapi kaum Muslim, agama lain menghadapi permasalahan yang sama. Misalnya kristen, Ada dua pengaruh masuknya aliran sesat ini. pertama, masuknya pengaruh konteks budaya atau agama setempat. Kedua, adanya kekosangan atau kekurangan tertentu dalam gereja asalnya.

Muncul silih berganti
Hadirnya aliran-aliran yang dianggap menyimpang sebenarnya sudah sejak lama, sempat beredar dan berkembang di Indonesia. Tumbuhnya aliran sesat ini antara lain dipicu oleh beberapa persoalan didalam sebuah negara. Sebab munculnya aliran yang dianggap sesat bukan hanya di Indonesia , tetapi juga diluar negeri. Amerika sekalipun bisa dimasuki oleh aliran- aliran yang dianggap sesat ini, tetapi jenis dan bentuknya yang berbeda.

Biasanya aliran ini muncul ketika ada orang-orang yang sedang kehilangan pegangan, dan mencari seorang tokoh yang berkharisma. khususnya para generasi muda yang membutuhkan dan mencari tokoh yang bisa diandalkan untuk diikuti. Munculnya seorang tokoh kharismatik ditengah-tengah keadaan yang kacau, seperti hukum yang tidak berlaku, nilai-nilai yang tidak jelas dan lain-lain, akan mudah menjerumuskan orang-orang tersebut. Apalagi kaum muda remaja yang sangat mudah terpengaruh akan aliran seperti ini. Tetapi yang perlu diperhatikan ternyata bukan hanya kaum muda saja terpengaruh, orangtua dan tokoh agama juga banyak yang terpengaruh oleh aliran-aliran yang dianggap sesat ini.

Penyebab berbagai aliran sesat ini, pada umumnya menjadikan remaja dan pelajar sebagai target. Dengan bermodalkan kepiawaian dalam berkomunikasi dan sangat persuasif dalam mengajak, para utusan aliran tersebut berusaha masuk ke kalangan remaja. Apalagi biasanya kelompok beraliran sesat ini mempunyai motif materi dan motif ekonomi, sehingga masyarakat yang menginginkan jalan pintas untuk mendapatkan kebahagian biasanya mudah terpengaruh. misalnya, dengan Rp. 400 Ribu bisa masuk surga, atau jemaat yang dapat merekrut jemaat baru alan mendapatkan beberapa ratus ribu, dan lain-lain.

Masa remaja memang masa dimana seorang anak sedang mencari jati dirinya, berusaha mencari teman, berusaha lepas dari pengaruh orangtua dan berpetualang mencari eksistensi diri. Aliran-aliran fundamintalis cenderung berupaya merekrut anak usia remaja, karena mereka masih dalam pembentukan diri, dan sangat tertarik dengan hal baru. Pada usia ini anak mentransformasikan semua informasi yang masuk dan kemudian akan menentukan sikapnya. Namun mereka cenderung lebih tertarik pada sesuatu yang baru yang mereka anggap militan.

Ada beberapa hal yang diperlihatkan si anak ketika sudah terpengaruh sesuatu. Diantaranya, terjadi perubahan drastis pada si anak. Misalnya, anak yang tadinya sangat komunikatif, jadi sering mengurung diri atau malah sering pergi sendiri. Selain itu anak seperti itu memiliki rahasia yang pantang diketahui atau share kepada anggota keluarga, suka menyendiri, sering merenung, dan biasanya tidak mau menjelaskan apa yang sedang mereka alami.

Bentengi anak
Bukan hanya gejala yang harus diperhatikan, peran orangtua sangat diperlukan untuk melindungi anak dari jerat aliran sesat. Hal utama yang harus dilakukan oleh orangtua adalah komunikasi dua arah dengan anak, terbuka. Membekali anak dengan spiritual yang kuat, serta berusaha mengetahui ajaran-ajaran yang sedang berkembang saat ini. Yang juga penting adalah memperhatikan isi kamar anak karena biasanya mereka mengikuti aliran-aliran seperti ini senang membaca buku-buku spiritual dan religius.

Proses penyebaran biasanya dilakukan melalui berbagai kegiatan keagamaan dengan materi kajian agama, penjabaran, dan kemudian di ikuti proses penyesatan. oleh karena itu orangtua perlu memberi pemahaman kepada anak agar tidak mudah percaya kepada orang lain yang menjanjikan kemudahan dan kepastian.

Hal yang perlu kita perhatikan dan selalu ingat adalah jangan pernah memberikan sanksi atau hukuman apa pun pada anak ketika kita sedang marah apalagi dalam kondisi emosi sedang memuncak. Pada saat kita sedang marah atau emosi kita sedang tinggi, apapun yang keluar dari mulut kita, baik dalam bentuk kata-kata atau hukuman akan cenderung untuk menyakiti dan menghakimi dan tidak menjadikan anak kita lebih baik.
Selain kita akan menyesal dikemudian hari, akibat yang sangat fatal adalah kita telah melukai hati anak kita dan anak seringkali tidak bisa melupakan kejadian itu meski ia telah beranjak dewasa. Anak juga bisa mendendam pada orangtuanya karena sering mendapatkan perlakuan diluar batas.
Ingatlah selalu :
Hukuman hanya menjadi salah satu bagian dari pendisiplinan. Ini bagian penting karena anak-anak terkadang menolak memperbaiki perilakunya kendati sudah diberi tahu berulang kali. Orangtua membentak, berteriak, mengancam, bahkan menampar, tapi hasilnya sia-sia. Hukuman bisa mengatasi semua itu. Berbagai cara digunakan oleh orangtua untuk menghukum anak-anak mereka.
Hukuman memang suatu konsekuensi negatif. Apabila digunakan secara tepat, hukuman bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan perilaku buruk. Hanya saja, menggunakan hukuman secara benar itu sulit. Perlu konsistensi yang terus-menerus. Terlalu banyak hukuman itu tidak baik. Bisa menciptakan perasaan yang tidak menyenangkan. Ia bisa menyedot energi. Kebanyaan orangtua percaya, menghukum perilaku buruk akan menghentikan anak dalam mengulangi perbuatannya. Kadang-kadang itu benar, tapi terkadang pula salah.

            Hukuman yang baik adalah yang jarang digunakan
Hukuman apa pun yang digunakan terlalu sering tidak akan berjalan baik. Perilaku buruk pun takkan menjadi lebih baik. Hukuman yang sesungguhnya adalah yang jarang digunakan karena jarang dibutuhkan. Ini aturan utama dari hukuman. Hukuman harus mengurangi kebutuhan akan hukuman yang lebih banyak.
Jangan Menghukum Anak Pada Saat Sedang Marah
Kalau perilaku buruk tak berubah juga, maka hukuman tersebut tidak mempan. Banyak orangtua melakukan kesalahan karena lebih memfokuskan pada hukuman ketimbang perilaku buruk. Jika Anda menghukum anak Anda lima sampai enam kali sehari untuk perilaku buruk yang sama, itu berarti sebetulnya hukuman tidak berjalan. Jika Anda terus menambah hukuman dan perilaku buruknya berlanjut, hukuman tersebut tidak efektif.

Bukan hukumannya yang penting, tapi perilaku buruknya. Hukuman harus bisa mengubah perilaku buruk. Kalau tidak bisa, ganti dengan hukuman yang lain. Anda mungkin beranggapan bahwa membentak, mengancam, memaki, dan menampar adalah hukuman yang baik. Itu hanyalah reaksi dalam melepas kemarahan Anda. Itu bukan hukuman yang baik. Amarah dan hukuman tak dapat dicampuradukkan.

            Jangan menghukum di saat kita marah
Tampaknya memang tidak realistis, tapi itulah yang benar. Ketika kita memberi hukuman dalam suasana marah, sebenarnya kita melakukan dua hal pada saat yang bersamaan. Kita menghukum. Kita bereaksi dengan marah. Bagaimana jadinya kalau anak kita ternyata bermaksud membuat marah kita? Bagaimana jadinya kalau anak kita ingin impas atau membalas gara-gara persoalan yang terjadi sebelumnya? Melihat kita marah itu bukan hukuman. Itu ganjaran!

Bila kita marah pada suatu perilaku buruk, kita mengajarkan pada anak bagaimana mengendalikan emosi. Kita memberi kekuasaan pada si anak. Terbayar sudah kemauan anak. Perilaku buruknya yang semakin diperkuat, bukan hukumannya. Alhasil, perilaku buruk pun meningkat. Efek hukuman disangkal oleh ganjaran yang berupa kemarahan kita itu. Anak-anak merasa senang dengan itu karena mereka berhasil memperoleh keinginannya.

Satu-satunya jalan untuk mematahkan siklus pembalasan tersebut adalah tidak menjatuhkan hukuman yang disertai amarah. Kalau kita sadar akan marah, pergi saja. Hilangkan dulu amarah itu, kemudian baru hadapi perilaku buruk si anak. Jangan biarkan anak berhasil memprovokasi kita.

Jangan menghukum ketika kita marah. Redakan dulu. Tujuan hukuman adalah mengajari anak berperilaku lebih baik di kemudian hari. Tujuannya bukan untuk impas. Kadang-kadang anak bisa membuat kita hilang kesabaran, dan saat itu bukanlah waktu untuk menjatuhkan hukuman.

Terkadang orangtua bereaksi secara berlebihan. Apa komentar Anda terhadap seorang ibu yang tidak memberi makan putranya selama lima jam ketika dia menghilangkan sweater-nyadi sekolah. Ketika kita bereaksi berlebihan karena marah, perkataan kita bisa jadi tidak masuk akal. Kita tentu saja tidak bisa membiarkan anak kelaparan selama beberapa jam. Jadi, jangan hukum anak ketika kita sedang marah. Kalau marah, kita mengajarkan kepada anak-anak bahwa hukuman merupakan bentuk pembalasan.

Tujuan memberi hukuman adalah mengubah perilaku buruk dan mengajarkan kepada anak untuk dapat mengambil keputusan yang lebih baik. Hukuman akan sangat efektif bila ditetapkan sebelumnya dan direncanakan. Hukuman tidak akan berjalan baik bila itu berupa reaksi impulsif. Saat marah dan menghukum, kita bertindak sebagai contoh bagi perilaku negatif. Kita tidak mengajari anak-anak untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Jangan menghukum untuk mempermalukan
    Hukuman seharusnya tidak mempermalukan, menghina, atau merendahkan anak. Hukuman dimaksudkan untuk mengajarkan bahwa berperilaku buruk itu salah.
Kalau hukuman itu sampai mempermalukan anak, di dalam dirinya akan timbul perasaan yang tidak sehat. Tindakan mempermalukan hanya akan menyebabkan si anak menilai kita jahat dan tidak adil. Dia tidak belajar tentang kerja sama. Anak mungkin akan menyerang balik dengan kemarahan. Ini bisa mengawali terjadinya siklus negatif.
Jangan menghukum anak di hadapan anak-anak lainnya. Ajak dia menjauh. Beri tahu dia mengenai apa yang telah diperbuatnya dan nanti dia akan dihukum karenanya. Bicarakan masalah tersebut nanti, ketika kita berdua sudah sendirian.

           Konsistenlah
Hukuman harus dilaksanakan secara konsisten. Ketika memutuskan untuk menghukum perilaku buruk, lakukan selalu. Kalau kita menghukum hanya ketika menyukainya, hal ini justru akan menjadikan permasalahan kian memburuk. Kalau kita sudah mengatakan kepada anak bahwa dia akan dihukum, benar-benar lakukanlah.
Kita harus menggunakan hukuman secara konsisten, meskipun kitaa dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Jangan biarkan sedikit pun perilaku buruk terjadi. Banyak orangtua membiarkan hal tersebut terjadi pada saat-saat tertentu. Anak-anak menyukainya. Ini akan memotivasi mereka menguji kita - untuk menjajaki apakah kita akan menghukum mereka.
Saya sering mendengar ibu-ibu mengeluh karena anak-anaknya tak mau menggubris apa yang dikatakannya. "Saya sudah mencoba semuanya. Tapi tampaknya tak berhasil." Setelah berdiskusi, alasannya menjadi jelas. Kebanyakan ibu menghukum secara tidak konsisten ketika anak-anak berperilaku buruk. Kadang-kadang mereka menghukum perilaku buruk, tapi di saat lain mereka membiarkannya karena menganggap tidak ada hasilnya. Anak-anak melanjutkan perilaku buruknya karena mereka sering berhasil melakukannya.

            Gunakan hukuman yang mudah dilaksanakan
Pilihlah hukuman yang dapat kita laksanakan dengan mudah. Jika hukuman itu merepotkan dan melelahkan, kita akan menjadi kurang konsisten. Jika hukuman yang merepotkan tidak juga membuat perilaku anak berubah, berpikirlah dengan hukuman lain. Butuh cara yang lebih efektif untuk melaksanakan hukuman.

           Jelaskan hukumannya
Beri tahu anak kita mengenai tujuan hukuman itu. Ketika kita menjelaskan hukuman, kita meningkatkan pemahaman dan kerja sama dari si anak. Jelaskan bahwa kita bukanlah musuh. Kita berusaha membantunya untuk memperbaiki perilakunya yang salah. Jelaskan pula bahwa kita tidak melakukan pembalasan. Mungkin kita akan menghadapi komentar yang menjengkelkan. Jelaskan sekali saja. Jangan terjebak dalam penjelasan dan perdebatan yang bertele-tele.

            Lebih besar tidak selalu lebih baik
Hukuman yang lunak biasanya lebih produktif daripada hukuman yang keras. Pertahankan segala sesuatunya dalam perspektif dan bereaksilah secara tepat terhadap besar-kecilnya perilaku buruk. Jangan menggunakan "meriam" bila hanya untuk "membunuh nyamuk". Semisal menyuruh anak menggantungkan handuk di tempatnya. Jangan larang anak menonton acara TV favoritnya selama sebulan hanya karena dia tidak menyelesaikan makannya, atau lupa menelepon kita sebagaimana yang telah kita suruh. Pilih hukuman yang sepadan dengan perbuatannya.

Gunakan konsekuensi sesuai realitas. Anak yang membuat barang-barang berserakan, dialah yang akan membenahinya. Anak yang pulangnya terlambat tidak boleh keluar di hari berikutnya. Anak yang lebih suka menonton TV ketimbang mengerjakan PR akan berangkat sekolah tanpa mengerjakannya, dan itu menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan konsekuensi yang relevan terhadap perilaku buruk. Semua itu akan bermakna bagi anak-anak Anda, dan membantu memberi mereka pelajaran.
Ada anak-anak yang bisa dipercaya untuk memilih hukumannya. Ini membantu mereka belajar lebih cepat. Ini juga mendorong mereka untuk lebih dewasa dan bertanggung jawab.

"Perilakumu sangat bagus sebelum peristiwa ini. Aku akan mempercayakan padamu untuk memilih sendiri hukumanmu atas perilaku buruk ini. Beri tahu aku apa yang kamu putuskan."
Hukuman berat sering menimbulkan rasa marah atau pembalasan. Yang kecil, sederhana, dan berjangka pendek biasanya lebih efektif. Bila anak kita marah, hanya sedikit yang ia pelajari. Jika anak merasa Anda tidak adil dalam menerapkan hukuman, dia akan cenderung membalas dendam atau mendebat. Ini akan memicu siklus negatif. Kita menghukum, anak marah dan membalasnya dengan berperilaku buruk lagi, mungkin lebih buruk dari sebelumnya. Kita hukum lagi, mungkin dengan lebih keras, untuk menegaskan maksud kita. Anak menjadi semakin marah dan membalasnya dengan berperilaku buruk lagi.

           Cara menghukum anak tanpa menghukum diri sendiri
Kadang-kadang karena kekalutannya, orangtua melontarkan ancaman yang justru lebih merugikan dirinya ketimbang anaknya. "Kita tidak akan pergi ke restoran sebelum kamu membersihkan kamarmu. Restoran tutup pukul 23.00, sekarang sudah jam 22.30." Kalau Anda pergi ke mana pun dia tetap ingin ikut, ancaman itu manjur. Kalau dia ternyata tidak ingin ikut, Anda telah memberi kekuatan besar kepada anak Anda. Tak seorang pun pergi sebelum kamar dibersihkan. Anda memberi anak tersebut kendali atas seluruh keluarga. Siapa sebenarnya yang dihukum? Seluruh anggota keluarga, termasuk anak itu.

Pilihlah hukuman yang berdampak pada anak kita, bukan pada Anda. Anak-anak yang lain juga bisa belajar bahwa hukuman hanya berlaku bagi yang berperilaku buruk. Orangtua sering bertanya bagaimana caranya melarang satu anak menonton TV. Kalau harus mematikan TV, anak-anak lain juga ikut dihukum. Itu benar. Makanya, jangan matikan TV karena satu anak dilarang. Itu menghukum semua orang. Anak yang sedang dihukum harus pergi ke ruang lain. Kalau tak seorang pun boleh menonton TV gara-gara dia tak boleh menonton, kita memberi si anak kendali atas seluruh keluarga.

           Menggunakan larangan secara konstruktif
Larangan berarti kehilangan satu atau lebih kesenangan untuk waktu tertentu. Larangan menjadi hukuman yang berguna bagi anak dan remaja. Kita perlu menentukan apa kesenangan itu. Beberapa contohnya adalah dilarang menonton TV, tidur awal, dilarang bertemu teman, tak boleh menggunakan telepon, tidak boleh bermain video game, dilarang bermain mainan, dan sebagainya. Pilih larangan yang mudah dilaksanakan dan berdampak pada yang dihukum, bukan yang lain.

Melarang anak berperilaku buruk menjadi format hukuman yang populer. Sayangnya, tak banyak orangtua menggunakan larangan secara efektif. Kebanyakan orangtua menentukan periode waktu yang terlalu lama. Sebagai orang dewasa, kita lupa bahwa seminggu atau dua minggu bisa terasa selamanya bagi si anak. Periode larangan yang lama sering kali merupakan hasil dari pertengkaran, rasa sakit hati, atau amarah. Ini takkan membawa hasil yang baik, karena bisa menjadikan anak merasa dianiaya. Hal semacam itu bisa menimbulkan rasa balas dendam, dan siklus pembalasan pun dimulai.

Dalam larangan, ada masalah yang mengikuti. Anak-anak yang dikenai larangan merasa tak punya harapan. Tanpa harapan, hanya ada peluang kecil untuk berperilaku baik. "Kenapa mesti berperilaku baik? Bagaimanapun saya tak bisa keluar selama seminggu." Lalu, si anak pun berpikiran bahwa orang-orang lain itu memang menyebalkan. Ada solusi manjur untuk persoalan tersebut.

Periode larangan seharusnya tidak lebih dari 12 hari. Periode maksimum yang efektif biasanya 12 hari. Kalau lebih lama dari itu, risiko pembalasan akan muncul. Selanjutnya, jelaskan bahwa setiap hari baik akan mengurangi hukuman satu hari di akhir periode larangan. Misalnya, Anda menerapkan larangan selama enam hari dari Rabu sampai Senin. Kalau si anak menjadi baik pada hari Rabu, larangan pada Senin dibatalkan. Jika Kamis berjalan baik, maka Minggu dihapus. Jika Jumat berjalan baik lagi, larangan di hari Sabtu pun dibatalkan. Jumat menjadi hari terakhir larangan. Anda bisa menggunakan tabel atau kalender, sehingga anak Anda bisa mencoret hari-hari itu dan melihat perkembangannya.

Teknik tersebut bisa berjalan sangat baik. Anak-anak bisa tahu bahwa kita tetap ingin adil meskipun hukuman itu serius. Anak-anak juga menjadi tahu bahwa kita mengharapkan perilaku yang tepat kendati dalam larangan. Dilarang atau dibatasi bukan berarti tidak kooperatif. Jadi, pendekatan ini memberi anak kita insentif yang kuat untuk segera berperilaku baik. Hanya duduk-duduk di rumah selama seminggu bukanlah hal yang mengerikan. Keberhasilan strategi ini tergantung seberapa bagus kita mendefinisikan hari baik. Lalu, tetap berpegang pada apa yang kita katakan. Akan sangat membantu apabila kita menulis apa yang dibutuhkan.
  • o    Peraturan untuk membatalkan hari larangan:
  • o    Melakukan yang Anda minta.
  • o    Berbicara dengan nada yang menyenangkan.
  • o    Berbaik hati dan sopan pada saudara-sau daramu.
       Pastikan bahwa hari baik itu benar-benar hari baik. Jangan batalkan hari kalau memang tidak patut dibatalkan. Jika kita terlalu mudah membatalkan hari, kita akan mengalahkan tujuan dari pendekatan ini. Walaupun terkena larangan, anak masih bisa melakukan aktivitas lainnya
Gunakan dulu umpan balik positif  
Untuk menghadapi perilaku buruk yang berulang lagi, hukuman seharusnya hanya digunakan setelah kita mencoba sejumlah upaya positif. Kebanyakan orangtua mendahulukan hukuman. Mereka percaya perilaku buruk harus ditangani dengan hukuman.

Kita bisa memperbaiki perilaku buruk dengan menggunakan umpan balik positif untuk memperkuat lawan perilaku buruk. Dua anak kita terus bertengkar. "Kalau tidak berhenti bertengkar, kamu berdua tidak boleh ikut piknik sekolah minggu depan."

Tunjukkan kebalikannya ketimbang hukumannya. Kebalikan bertengkar adalah bekerja sama. Gunakan dorongan semangat dan umpan balik positif ketika mereka berkeja sama dan berbagi. "Sungguh menyenangkan melihat kalian bersenang-senang. Benar-benar menggembirakan melihat kalian berdua berbagi komputer."

Banyak orangtua terjebak untuk tergesa-gesa menerapkan hukuman. Padahal ini benar-benar tidak nyaman. Salah satu cara untuk menghindarkan diri dari jebakan itu adalah memfokuskan pada perilaku positif. 

Powered by Blogger.